Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Pasutri Blitar Inisiasi Toko Buku Multifungsi yang Lahir di Tengah Moderenisasi

Fajar Rahmad Ali Wardana • Sabtu, 15 Juli 2023 | 04:00 WIB

ASIK: Toko buku milik Agung yang disulap menjadi tempat nongkrong anak muda.
ASIK: Toko buku milik Agung yang disulap menjadi tempat nongkrong anak muda.
 

KABUPATEN BLITAR - Tempat yang nyaman untuk kongkow ditemani kopi dan buku menjadi hal langka di Blitar. Lewat Bukubuka, anak muda bisa ngopi sembari membaca buku. Pasangan suami istri (pasutri) Agung Hari Wijaya dan Rizky Almira berusaha mewujudkan itu.

Pada tengah hingar bingai ibu kota Kabupaten Blitar, tepatnya di Kelurahan/Kecamatan Kanigoro terdapat tempat yang cukup nyaman untuk bekerja sembari bersantai dengan teman, ditemani buku. Tempat itu bernama Bukubuka milik pasutri Agung Hari Wijaya dan Rizky Almira.

Bukubuka merupakan rumah tinggal mereka berdua. Mereka rela merenovasi sebagian rumahnya untuk tempat nongkrong dan toko buku. Tak hanya itu, di sana juga disediakan dapur yang menyediakan makanan dan minuman. “Bukubuka ini awalnya toko buku milik istri yang dipasarkan secara online semasa kuliah di Yogyakarta pada 2018 lalu. Cukup menjanjikan waktu itu ,” ujar Agung kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (13/7).

Setahun setelahnya, istrinya pulang ke Blitar dan sibuk dengan pekerjaanya sebagai konsultan, sehingga Bukubuka tidak aktif. Pada tahun 2020, Agung dan Rizky menikah dan muncul ide untuk mengaktifkan lagi Bukubuka. Namun, beberapa pembeli offline bingung karena tak ada tempat untuk transaksi secara Cash On Deal (COD).

Berawal dari situlah, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari muncul ide untuk membangun toko buku kecil di rumahnya di Kelurahan/Kecamatan Kanigoro. Meskipun begitu, dia tak meninggalkan penjualan buku online.

Awalnya, dia hanya melayani penjualan buku saja. Namun, karena Agung dan istrinya sama-sama memiliki hobi membaca buku, mereka pun membagi koleksi buku bacaannya dengan orang yang berkunjung. Dari situlah, muncul pojok baca atau perpustakaan kecil di Bukubuka.

“Sejak mulai buka offline, Bukubuka banyak dikunjungi oleh pembeli dari Blitar dan sekitarnya, apalagi dulu masih pandemi. Pengunjung disilahkan baca-baca ataupun kongkow,” terangnya.

Agung melayani pengunjung yang datang ke Bukubuka selayaknya teman biasa. Namun, ada orang yang sungkan hanya datang tanpa membaca buku dan ada usulan dari pengunjung yang ingin agar membuka kantin. Harapannya, agar pengunjung semakin betah.

Tidak sampai setahun, Bukubuka memodifikasi salah satu ruangannya untuk dijadikan dapur untuk menyajikan makanan dan minuman. Setelah ada dapur atau kantin, pengunjung yang datang tambah ramai. ”Kami menyebutnya bukan kafe, bukan coffeshop, namun kantin atau dapur untuk menyajikan makanan dan minuman bagi pengunjung Bukubuka,” tutur Agung.

Laki-laki berkaca mata ini mengungkapkan, kendala awal mendirikan Bukubuka offline, yakni membagi dengan pekerjaan utama. Dulu istrinya yang masih memiliki pekerjaan utama full time sebagai perangkat desa, sehingga susah mengatur waktu buka lapaknya.

Padahal, ada pengunjung yang ingin mengerjakan tugas kerjanya di Bukubuka ternyata masih tutup. Oleh karena itu, pada 2021 istrinya memutuskan untuk resign dari pekerjaanya dan mengurus penuh Bukubuka. Rata-rata pengunjung Bukubuka mencapai 20 orang per harinya. Tak jarang, tempatnya dijadikan kegiatan komunitas literasi di Blitar.

Menariknya, sebagian buku di Bukubuka merupakan hasil dari donasi pengunjung dan penerbit. Padahal, Agung tidak pernah mengumumkan untuk membuka donasi buku dan tidak ada pikiran untuk membuka donasi. “Beberapa waktu lalu dihubungi oleh salah satu penerbit buku anak-anak ternama. Mereka berniat untuk mendonasikan bukunya. Saya pikir hanya beberapa eksemplar, ternyata satu dus di kirim ke Bukubuka,” tandasnya.

Buku milik penerbit Rabbit Hole menambah jumlah pengunjung, apalagi yang memiliki anak-anak. Buku terbitan perusahaan ternama itu menjadi buku anak-anak koleksi pertama Bukubuka. Pengunjung sempat heran ketika menemukan buku anak-anak, karena koleksi sebelumnya buku milik Agung dan istrinya.

Agung menyebut, penjualan buku di Bukubuka mencapai lebih dari 20 eksemplar tiap bulannya. Jumlah itu diperoleh dari penjualan secara offline atau online. ”Ada yang membuat kaget, yakni ada pelanggan yang membudget tiap bulan untuk membeli buku. Itu hal yang langka, sehingga buat saya kagum. Ada juga yang memesan buku secara pre-order,” pungkasnya. (*)

Editor : Doni Setiawan
#toko buku #Bukabuka #inspirasi #inisiasi