KABUPATEN BLITAR - Seni kaligrafi dalam dunia Islam sejak awal perkembangannya tak pernah lekang ditelan zaman. Banyak ahli kaligrafi yang bermunculan dan menghasilkan karya-karya indah. Salah satunya Latifatul Ngisma Lia Azizma.
Sejumlah peralatan menggambar tampak berserakan di ruang tamu rumah di Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro, kemarin (17/7). Latif sedang melakukan hobinya melukis kaligrafi. Di kanvas berukuran 80×60 itu, tangannya terlihat lihai merangkai ayat-ayat Alquran. Hobi kaligrafi ini sudah dilakoni Latif sejak di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Karena itu, kemampuannya membuat kaligrafi tak bisa diragukan lagi.
Puluhan lukisan sudah dibuatnya. Tak jarang dia juga menerima pesanan untuk membuatkan kaligrafi. “Iya kalau ada yang pesan bisa, karena kan sebenarnya juga hobi,” ungkapnya.
Menurutnya, membuat kaligrafi harus dari hati. Artinya, tidak sembarangan digambar. Ada beberapa hal khusus yang harus diperhatikan. Seperti penulisan lafal yang sesuai. Sebab, kaligrafi memiliki makna mendalam yang merupakan kalamullah ini.
Proses pembuatan kaligrafi dimulai dari membuat sketsa awal. Selanjutnya sketsa akan ditebali dan diberi garis tepi. Berikutnya diberi warna atau dilukis.
Untuk proses ini setidaknya Latif membutuhkan waktu sekitar lima jam. Mulai dari sketsa hingga selesai melukis. Namun, bisa berbeda tergantung tingkat kerumitan atau besarnya kaligrafi. “Paling cepat pernah membuat dua sampai tiga jam,” imbuhnya.
Selama duduk di bangku sekolah, tepatnya pada 2016, dia pernah mengikuti lomba kaligrafi di tingkat Kota Blitar. Di momen itu dia berhasil mendapatkan juara kedua meski baru pertama kali mengikuti lomba. “Alhamdulillah sejak saat itu jadi semangat membuat kaligrafi sampai sekarang,” katanya
Tak hanya itu, dia juga pernah mengikuti lomba musabaqah tilawatil Quran (MTQ) di Pasuruan pada 2017. Serta Tuban pada 2019 mewakili Kota Blitar. Juara harapan tiga dia dapat ketika mengikuti lomba di Tuban.
Selain itu, saat ini dia juga membimbing anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar kaligrafi. Serta mendampingi mereka ketika ada perlombaan. Menurut Latif, gampang-gampang susah mengajari anak-anak. Sebab, harus menyesuaikan mood dan karakter anak. Sehingga pasti berbeda hasil yang digambar tiap anak. “Jadi harus pelan dan telaten, karena memang ada yang baru belajar dari nol dan belum tau dasar-dasarnya,” jelasnya.
Selama menekuni hobi ini dia selalu teringat dengan kata-kata dari gurunya. Yakni, Ngerekso alquran iku nggak cuma moco lan apalan. Nulis kui yo podo karo ngerekso quran (Belajar Alquran bukan hanya sekedar membaca dan menghafal. Menulis itu sama dengan membaca Alquran). Kata-kata tersebut memotivasinya untuk terus belajar Kaligrafi hingga saat ini. “Sebenarnya sampai saat ini juga masih belajar. Karena kan ini ayat Alquran ya, jadi harus benar dalam penulisan sehingga tidak mengubah makna ayat tersebut,” tandasnya. (*/hai)
Editor : Doni Setiawan