KABUPATEN BLITAR - Keberadaan rumah burung hantu di area persawahan diperlukan para petani. Yakni untuk membantu pemberantasan hama tikus. Dengan begitu bisa mengurangi risiko kegagalan panen.
Biasanya rumah burung hantu ini dibangun di tengah sawah. Tiang menjulang tinggi dan ada rumah kecil sebagai tempat hunian hewan tersebut.
Dengan harapan bangunan itu bisa ditempati burung hantu, untuk memantau hama tikus maupun ular. “Ada rumah burung hantu di sekitar persawahan ini,” tandas petani asal Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat.
Dia mengaku, burung hantu ini sangat membantu petani. Yakni ketika ada hama tikus akan efektif. Sebab burung yang keluar malam hari bisa sebagai predator atau pemangsa.
Meski demikian, tidak semua tanaman bisa diminati tikus. Rata-rata merupakan tanaman jagung, kedelai, kacang.
Untuk saat ini mayoritas petani menanam sayuran, serta bumbu dapur. “Ada jagung, tapi tidak banyak,” ungkapnya.
Dia kini tidak merasa khawatir dengan hama tikus. Dengan alasan, pada musim kali ini memilih tanam bunga kol. Tikus tidak mungkin makan sayuran.
Di sekitar lahan pertaniannya, juga mayoritas tanaman cabai, bunga kol, kacang, serta jagung. “Tapi selama ini masih aman dan hanya ada hama ulat,” ujarnya.
Jika hama ulat ini sengat mudah untuk dibasmi dengan pupuk. Jadi tak perlu repot mengandalkan burung hantu. “Ada memang tanaman jagung di sini (Desa Karanggayam, Red) tapi masih kecil-kecil, jadi tikus mungkin belum ada,” katanya.
Dia berharap, petani ini tetap mendapatkan panen optimal. Agar pendapatan bisa membantu keluarga dan anak sekolah. (sch/din)
Editor : Doni Setiawan