RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Perjuangan para jemaah haji asal Tulungagung dalam menunaikan rukun Islam ke-5 ini dirasa begitu berat. Apalagi pada saat jemaah tiba di Mina. Kurangnya kapasitas untuk tidur dan porsi makan membuat sebagian jemaah mengeluhkan kondisi tersebut.
Nikmah, jemaah haji kloter 34 asal Tulungagung, dengan penuh haru menceritakan pengalamannya selama menjalani ibadah haji. Dia mengaku perjalanan haji yang ia lalui selama kurang lebih 40 hari ini penuh dengan perjuangan. “Alhamdulillah memang luar biasa, haji tahun ini penuh dengan perjuangan,” jelasnya kemarin (19/7).
Jemaah perempuan berusia 56 tahun tersebut mengaku perjuangan untuk melindungi diri sendiri dan menyalamatkan diri saat melakoni runtutan ibadah haji menjadi prioritasnya saat itu. Baik ketika wukuf di Arafah, kemudian di Muzdalifah hingga lempar jumrah di Mina. Menurutnya, tak sedikit jemaah haji yang baru tiba di Mina pada pukul 00.30 waktu setempat. “Luar biasa perjuangan kita, benar-benar luar biasa perjuangan kita untuk bertahan hidup. Kita terlantar di Muzdalifah, ada teman-teman kami yang jam 00.30 waktu setempat itu baru sampai di Mina,” ucapnya dengan isak tangis.
Perjuangan jemaah haji pun tidak hanya sampai di situ. Ketika tiba di Mina, tenda-tenda yang telah disediakan untuk beristirahat tidak cukup untuk menampung jemaah yang tiba. Banyak jemaah yang tidur beristirahat di lorong-lorong tenda. “Setibanya di Mina, tenda kita overload. Banyak yang tidur di lorong-lorong tenda,” paparnya.
Sembari menyeka air mata, dia kembali menceritakan pengalaman dari perjuangannya saat menunaikan ibadah haji. Tak cukup dengan kondisi kapasitas tenda yang melebihi batas, dia juga menjumpai distribusi makan yang hanya diberikan sekali di hari pertama tiba di Mina. “Dan distribusi makan waktu satu hari di Mina itu, kita hanya dapat makan 1 kali jam 21.30 waktu setempat. Itulah perjuangan kita,” ungkapnya.
Mina merupakan sebuah lembah dan lingkungan yang terletak di distrik Masha'er, di Provinsi Makkah, Arab Saudi. Di Mina juga, jemaah haji harus menginap selama 2 atau 3 malam. Tak hanya itu, jemaah haji melaksanakan lempar jumrah sebanyak tiga jumrah yang juga dilakukan di Mina, yaitu jumratul ula, jumratul wustho, dan jumratul 'aqabah.
Meski kuota haji tahun ini ditambah, menurutnya, persiapan penyelenggaraan haji dirasa kurang memadai. Menurutnya, perjuangan tersebutlah yang menjadi nilai tersendiri dari pengalamannya beribadah haji di Tanah Suci. “Benar ya, kuota haji ditambah, tapi kayaknya persiapan fasilitas di sana itu kurang memadai,” tutupnya.
Sementara itu, Rofi’i, jemaah haji berusia sekitar 72 tahun, dengan kursi rodanya tampak menahan tangis setelah tiba di Masjid Syariful Muttaqin. Tangisnya pun pecah ketika menceritakan pengalamannya saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. “Sangat terkesan. Waktu di Arafah itu berat sekali karena panasnya bukan main,” jelasnya.
Kondisi cuaca yang terik pada saat di Arafah tersebut, menurutnya membuat banyak jemaah haji tak sadarkan diri. Belum lagi pada malam sebelumnya, dia terpaksa terjaga dalam tidurnya tanpa makanan. “Sesama jemaah seusia saya itu yang pingsan silih berganti. Sebab, mulai malamnya tidak tidur dan tidak dikasih makan,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Nanda Nila Alvinda