BLITAR - Dulu olahraga sejenis karate maupun pencak silat identik dengan kaum laki-laki. Namun, seiring berkembangnya zaman tak sedikit perempuan yang mulai tertarik menggeluti olahraga beladiri tersebut. Di samping menyehatkan, juga cukup menantang.
Wenda Tasya Azura warga Kecamatan Kanigoro, ini menjadi salah satu perempuan yang kepincut dengan beladiri asal Jepang. Hingga akhirnya mampu menjadi atlet karate profesional.
Perempuan yang karib di sapa Wenda ini mengaku, sebelum menjadi atlet karate dia lebih dulu merupakan atlet renang.
Namun, sempat mengalami kecelakaan ketika akan mengikuti sebuah perlombaan. “Akhirnya saya memutuskan untuk ganti cabang olahraga (cabor) dan tertarik sama karate,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Senin (30/10/2023).
Keputusan itu tidak serta merta diterima oleh kedua orang tuanya. Sebab, mempertimbangkan bahwa karate merupakan olahraga yang keras dan membutuhkan ketahanan fisik yang mumpuni. Apalagi, dia merupakan anak perempuan.
Namun, dara 20 tahun ini tetap kekeh pada pendiriannya. Dia pun rutin mengikuti berbagai jenis latihan.
Hingga ketika 2017 lalu mengikuti lomba karate tingkat se-Karisidenan Kediri dan berhasil membawa pulang piala juara pertama.
Potensi yang dimilikinya terus diasah. Pada tahun yang sama kembali mengikuti laga tingkat nasional piala Wakil Gubernur di Surabaya dan berhasil menyabet juara 2.
Berlanjut ke pertandingan piala Kapolresta tingkat daerah dengan juara 3. “Alhamdulillah, setelah membuktikan bahwa aku mampu, orang tua lambat laun mengerti dan terus memberikan support,” katanya.
Di 2023 ini tak sedikit kejuaraan yang berhasil diraih. Mulai dari juara 1 Ok Team Blitar Cup tingkat daerah, juara 1 kejuaraan BNN Cup 1 se-Blitar Raya, dan juara pertama Inkanas Open se-Jawa Timur.
Keberhasilan itu tentu dibarengi dengan kerja keras dan latihan rutin. Bahkan dia mengaku pernah mengalami cidera dan mengakibatkan jempol kakinya retak saat bertanding.
Namun, dia berhasil bertahan dan mendapat juara 1. “Goal-nya semoga bisa masuk Kementerian Pemuda dan Olahraga (kemenpora),” ujarnya lantas tersenyum.
Pelatih renang ini lantas berbagi pemikirannya sebagai salah satu generasi milenial. Menurutnya, pemuda merupakan agen of change atau agen perubahan.
Pemuda dapat mengembangkan potensi yang dimiliki untuk membentuk kualitas pemuda dan membangun bangsa yang lebih baik.
Di bidang karate, lanjut dia, bukti kecintaan terhadap bangsa dan negara dapat direalisasikan dengan cara terus berusaha menjadi atlet karate yang lebih baik. Harapannya bisa mengharumkan nama Indonesia.
Bukan hanya dalam bidang olahraga, melainkan juga melalui aktif di Forum Kepemudaan Blitar Youth Festival.
Ikut berkontribusi mengembangkan forum sehingga bisa mewadahi potensi pemuda daerah di sektor ekonomi kreatif.
“Sebagai pemuda jangan habiskan masa muda untuk berkelana mencari ilmu saja, tapi dibarengi dengan memperluas relasi dan mengembangkan potensi diri. Sebab, Indonesia membutuhkan pemuda berkualitas untuk membangun negeri,” pungkas mahasiswi jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga di UNY ini. (*/sub)
Editor : Doni Setiawan