TULUNGAGUNG - Taklukkan trek ratusan kilometer, Rheza Akbar, runner asal Tulungagung, berhasil menaklukkan jalur Bromo, Tengger, dan Semeru (BTS). Melawan kantuk, menjadi tantangan selama perjalanannya menaklukkan jalur tersebut.
Menaklukkan jalur BTS telah menjadi target dari Rheza Akbar di 2024 ini. Sebagai pelari, pria 30 tahun ini telah mempersiapkan diri sejak awal tahun untuk menuntaskan jalur dengan jarak ratusan kilometer tersebut.
Rezha Akbar mengaku kegiatan penaklukan jalur BTS menjadi ultimate race baginya tahun ini. Dengan tujuan itu, pria ramah ini mempersiapkan diri sejak awal tahun.
Persiapan dilakukan mulai dari melalui trek-trek pendek hingga porsi latihan dengan intensitas padat. Bahkan, pada Oktober dan November, porsi latihannya mencapai 400 kilometer setiap bulannya.
“Latihannya itu sudah sedari awal tahun. Awalnya ya nyicil-nyicil, tidak terlalu intens. Mendekati hari-H baru ditambah,” jelasnya, kemarin (13/11).
Diketahui, penaklukan jalur BTS ini menjadi target pribadi Rheza. Dia pun sempat mengikuti beberapa race tryout, seperti di Jogjakarta dengan total jarak 50 kilometer dan Madiun jarak 106 kilometer.
Menurut dia, dua race tryout tersebut menjadi acuannya untuk dapat menaklukkan jalur BTS.
“Iya, persiapannya selain rutin latihan, juga ikut beberapa race tryout,” ucapnya.
Jalur BTS tahun ini menggunakan alternative road. Jalur asli memang melewati Gunung Semeru. Namun, lantaran kondisi gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tidak memungkinkan, maka dialihkan ke jalur lain.
Jalur BTS terhitung variatif karena berupa trek rerumputan, bebatuan, pasir, cor semen, dan aspal. Menurutnya, trek di sekitaran Ranupani justru trek hutan, baru setelahnya masuk ke wilayah perkampungan.
“Jalur-jalur trail-nya juga sama, ya jalur pegunungan gitu. Jadi, treknya ada trek rerumputan, bebatuan, pasir, cor semen, dan aspal,” ungkapnya.
Tantangan terbesar bagi pria ramah ini dalam menaklukkan jalur BTS yakni rasa kantuk saat perjalanan. Karena membutuhkan durasi waktu lebih dari 24 jam.
Belum lagi, kondisi iklim yang tak menentu. Suhu mencapai 7 derajat saat keberangkatan, tapi siang harinya dihajar terik matahari di Bromo. “Total jaraknya itu sekitar 102 kilometer. Ini menjadi tantangan yang cukup berkesan,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri