Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Seorang Siswa di Tulungagung Kena Kekerasan Fisik, Begini Kronologinya

Matlaul Ngainul Aziz • Rabu, 20 November 2024 | 18:02 WIB

 

Ilustrasi kekerasan fisik pada anak. (Pinterest)
Ilustrasi kekerasan fisik pada anak. (Pinterest)

Tulungagung – Rintih tangis dan erangan sakit dikeluhkan seorang pelajar inisial MM, 16, yang baru duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar (SD). Diduga, MM menjadi korban kekerasan fisik oleh oknum pengajar di lembaga pendidikan di Kecamatan Ngantru.

Keluarga korban, Fuadi mengatakan, korban mengalami dugaan kekerasan fisik yang dilakukan oknum pengajar. Menurut dia, korban sempat mendapati tiga kali kekerasan fisik yang menyasar kepala korban.

Lanjut dia, dugaan kekerasan fisik pertama kali yang dialami oleh korban yakni ketika korban tengah mengambil wudu. Menurut dia, saat mengambil wudu, air memercik ke sang guru sehingga korban mendapatkan pukulan pada bagian kepala.

“Anaknya itu setiap ada apa-apa pasti cerita ke ibunya. Total ada tiga kali kekerasan fisik yang dialami anak itu. Kejadian yang kedua kali juga sama seperti itu,” jelasnya, kemarin (19/11).

Kemudian, dugaan tindakan kekerasan fisik terhadap pelajar ketiga terjadi pada Sabtu (16/11) pukul 13.00 WIB. Yang pada saat itu tengah menjalani salat Duhur dengan kondisi sajadah berserakan.

“Teman-temannya itu ada yang bermain sajadah, dilempar-lempar. Nah, pada waktu itu, oknum pengajar ini mengetahui, tetapi hanya tahu posisi sajadah berserakan,” ucapnya.

Akhirnya, oknum pengajar tersebut menuduh korban yang memainkan sajadah itu. Menurut dia, oknum pengajar itu menyuruh korban untuk mengambil sajadah yang berserakan.

Namun, setelah korban mengambil sajadah, oknum pengajar tersebut kembali menyarangkan pukulan tepat pada bagian belakang kepala korban.

Diketahui, korban bukan merupakan anak yang bandel. Menurutnya, korban memiliki prestasi dan telah mendapatkan pengakuan dari wali kelas serta guru lainnya.

“Anaknya mengeluhkan sakit kepala pusing dan muntah-muntah, akhirnya kami bawa ke RSUD dr Iskak Tulungagung. Kami rontgen memang ada luka memar pada bagian kepala belakang,” paparnya.

Mendapati hal itu, dia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi di lingkup pendidikan, khususnya di Tulungagung. Tak hanya itu, dia mengaku tidak terima akan perbuatan oknum pengajar tersebut.

“Apalagi ini sudah dilakukan sebanyak tiga kali, dan yang terakhir itu sangat parah. Kami yang membesarkan saja tidak pernah memukul bagian kepala, nah ini justru orang lain yang melakukan itu,” pungkasnya.

Sementara itu, kepala sekolah terkait, Saipudin, membenarkan adanya peristiwa dugaan kekerasan fisik terhadap pelajar di lembaga pendidikan naungannya. Namun, kasus tersebut telah terselesaikan dengan jalan kekeluargaan.

“Iya, memang ada, tetapi sudah kami selesaikan dengan jalur kekeluargaan,” tandasnya.(ziz/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kekerasan anak #pelajar #guru