Sugianto, salah seorang peternak sapi di Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, mengungkapkan bahwa PMK menyebabkan produksi susu sapi menurun. Bukan hanya soal nominal atau harga, kualitas susu dari sapi yang terjangkit PMK juga turut merosot.
“Kalau terkena sapi PMK itu produksi susu menurun. Kalau pun dijual, susunya ndak laku. Kedua, kalau dijual, harganya menurun drastis,” akunya.
Sampai saat ini dia memang belum menemukan indikasi adanya penularan PMK pada populasi sapi di kandang miliknya. Sebab, penyemprotan disinfektan secara rutin digelar oleh dinas terkait sejak beberapa waktu lalu. hal ini jadi salah satu upaya untuk mencegah penularan.
“Sekarang tidak ada (sapi terinfeksi PMK, Red). Mudah-mudahan tidak sampai sini. Sebetulnya kalau dari dinas sudah mencegah. Terutama untuk pembersihan kandang, dikasih semprotan,” ucap laki-laki yang mengaku beternak sapi sejak 1990 ini.
Harga sapi, lanjut Sugianto, terus mengalami penurunan sejak pemberitaan PMK mulai menyebar di masyarakat. Dia mengungkapkan, pedhet alias sapi anakan bisa diharagai sekitar Rp 4 hingga 5 juta per ekor dalam kondisi normal. Kini, harga anak sapi hanya berkisar Rp 1,5 hingga 2 juta per ekor.
“Kalau di desa kan biasanya sapi penjantan harganya sampai Rp 25 juta per ekor, bahkan lebih. Tapi, adanya PMK (saat ini, Red) kadang Rp 10-15 juta per ekor,” tegasnya.
Laki-laki 55 tahun ini menambahkan, para peternak biasa memberi sapi dengan ramuan khusus untuk meningkatkan daya tahan dari penyakit. Upaya lain yang harus dilakukan untuk mencegah PMK adalah dengan memperhatikan kebersihan kandang, menjaga higienitas makanan, dan rutin memberikan vaksin pada hewan ternak.
“Sementara ini (vaksin, Red) ndak rutin. Tapi, dengan adanya PMK insya Allah nanti akan dirutinkan. Biar kesehatan sapi membaik,” terangnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra