Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Warisan Budaya Grebeg Syawal di Yogyakarta, Berikut Rangkaiannya!

Redaksi Radar Tulungagung • Selasa, 1 April 2025 | 02:19 WIB
Warisan budaya grebeg syawal di Yogyakarta
Warisan budaya grebeg syawal di Yogyakarta

Radar Tulungagung - Grebeg Syawal adalah salah satu tradisi budaya Keraton Yogyakarta yang digelar setiap tanggal 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri) sebagai bentuk syukur atas berakhirnya Ramadan.

Acara ini sarat dengan simbol-simbol religius, budaya, dan filosofis Jawa.

Ada makna dalam grebeg Syawal diantaranya :
- Ucapan Syukur: Rakyat dan keraton bersyukur atas berkah Ramadan.
- Simbol Persatuan: Gunungan (tumpukan hasil bumi) melambangkan kebersamaan rakyat dan keraton.
- Sedekah: Pembagian gunungan kepada masyarakat sebagai bentuk berbagi rezeki.

Apa saja rangkaian acara grebeg syawal

1. Prosesi dari Keraton ke Masjid Gedhe Kauman
- Dimulai dengan iring-iringan abdi dalem (prajurit keraton) yang mengenakan pakaian tradisional Jawa.
- Dikawal oleh Pasukan Keraton (Wirobrojo, Patangpuluh, Ketanggung, dll.) dengan membawa bendera pusaka (Kiai Tunggul Wulung) dan alat musik tradisional.
- Gunungan dibawa dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan.

2. Gunungan Syawal
- Terdiri dari Gunungan Lanang (jantan) dan Gunungan Wadon (betina) yang terbuat dari hasil bumi (sayuran, buah, kue, dan cabai).
- Ada juga Gunungan Kakung (berbentuk kerucut) yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan.

3. Pembagian Gunungan (Peperesan)
- Setelah didoakan, gunungan diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya membawa berkah.
- Banyak orang percaya bahwa mendapatkan bagian gunungan (terutama cabai atau beras) akan mendatangkan rezeki.
Dalam acara grebeg syawal filosofi yang dapat diambil adalah
- Gotong Royong: Persiapan gunungan melibatkan banyak pihak, mencerminkan kebersamaan.
- Keseimbangan Alam: Gunungan wadon dan lanang melambangkan harmoni alam semesta.
- Tradisi Islam-Jawa: Perpaduan antara syariat Islam dan budaya Jawa yang kental.

Lokasi dan Waktu
- : Dimulai dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman (Alun alun utara).
- Waktu: Pagi hari setelah salat Idul Fitri (sekitar pukul 09.00-10.00 WIB).

Untuk menyaksikan grebeg syawal masyakat sangat ramai disekitar alun alun utara. Agar bisa mengikuti rangkaian acarannya yang bisa dilakukan :

- Datang lebih awal karena jalanan sekitar keraton akan ramai.
- Gunakan pakaian sopan (disarankan memakai batik atau pakaian adat Jawa).
- Jika ingin berebut gunungan, berhati-hati karena biasanya sangat ramai.

Grebeg Syawal tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga warisan budaya yang terus dilestarikan sebagai identitas Yogyakarta.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#grebeg syawal #yogyakarta #budaya