TULUNGAGUNG - Kisah Reco Pentung Tulungagung kembali menjadi perhatian setelah perjalanan hidup pendirinya, Sumiran Karsodiwiryo, viral dan disebut sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat dari nol. Berawal dari anak buruh miskin, Sumiran berhasil membangun industri rokok kretek yang pernah mempekerjakan ribuan warga dan menjadi kebanggaan Jawa Timur Selatan.
Lahir pada 9 September 1921 di sebuah desa kecil di Tulungagung, Sumiran tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh kasar penggali tanah dan pemasang tiang listrik. Sejak usia enam tahun, ia sudah membantu orang tuanya bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Perjalanan hidup pendiri Reco Pentung Tulungagung itu kemudian berubah menjadi kisah inspiratif yang dikenang warga hingga kini. Dari usaha kecil menjual jajanan kampung, Sumiran perlahan membangun bisnis rokok kretek rumahan yang akhirnya berkembang menjadi salah satu industri terbesar di wilayah selatan Jawa Timur.
Baca Juga: Infinix Hot 50 5G: HP 5G Terjangkau dengan Kamera Sony IMX582, Cek Kelebihan dan Kekurangannya
Awal Berdirinya Reco Pentung Tulungagung dari Rokok Kelobot Rumahan
Selepas masa penjajahan Belanda, Sumiran mulai merintis usaha rokok pada Mei 1946. Bersama istrinya, Supatmi, ia memproduksi rokok kretek kelobot secara sederhana dari rumah. Produk awalnya diberi nama Cap Ikan Dorang dan dijual langsung dari pasar ke pasar.
Saat kondisi Tulungagung mulai pulih pasca-agresi Belanda tahun 1949, Sumiran meluncurkan merek baru bernama Reco Pentung. Nama tersebut terinspirasi dari patung ikonik di perbatasan kota yang sempat diruntuhkan saat pendudukan Belanda.
Produksi awal hanya melibatkan sekitar lima hingga 20 pekerja. Namun dalam beberapa tahun, permintaan rokok kretek Reco Pentung meningkat tajam karena cita rasanya dianggap kuat dan khas.
“Kalau hari ini jatuh, besok saya bangun lagi,” ujar Sumiran dalam salah satu kisah yang dikenang keluarganya.
Pada era 1950-an hingga awal 1960-an, Reco Pentung Tulungagung berkembang pesat. Jumlah pekerja terus bertambah hingga ribuan orang. Industri tersebut menjadi penggerak ekonomi masyarakat lokal dan membuka lapangan pekerjaan besar-besaran.
Pernah Terpuruk karena Situasi Politik hingga Bangkit Lagi
Kesuksesan Reco Pentung tidak selalu berjalan mulus. Memasuki era 1960-an, kondisi politik nasional pasca-G30S PKI membuat industri rokok terpukul. Produksi menurun drastis dan sebagian besar pekerja harus dirumahkan.
Dari ribuan buruh, hanya puluhan orang yang masih bertahan bekerja di pabrik tersebut. Namun Sumiran memilih bertahan dan melakukan inovasi baru dengan meluncurkan sigaret kretek putih bernama Gaya Baru.
Kebangkitan kembali terjadi pada awal 1970-an. Puncaknya pada 1982 ketika Sumiran menghidupkan kembali merek Reco Pentung dengan kualitas yang lebih tinggi dan strategi pemasaran baru.
Hasilnya, Reco Pentung kembali berjaya. Pada 1991, jumlah karyawan disebut mencapai sekitar 4.500 orang. Angka itu menjadikan Reco Pentung sebagai salah satu pabrik rokok terbesar di Jawa Timur Selatan.
Produk-produknya bahkan mulai bersaing dengan perusahaan besar seperti Gudang Garam, Djarum, Sampoerna, Bentul, hingga Nojorono.
Tak hanya di industri rokok, Sumiran juga terlibat dalam pengembangan wisata Pantai Popoh melalui PT Sutera Bina Samudra. Ia pernah menjabat sebagai ketua Gapero dan aktif dalam organisasi pengusaha rokok Indonesia.
Baca Juga: Infinix Hot 50 5G Resmi Meluncur, HP Spek Elit Harga Irit yang Bikin Kompetitor Ketar-ketir
Reco Pentung Tutup, Muncul Mitos Nyi Roro Kidul dan Warisan yang Masih Dikenang
Memasuki 1990-an, industri rokok nasional mulai berubah drastis. Perusahaan besar dengan modal kuat dan teknologi modern mendominasi pasar. Sementara Reco Pentung masih mengandalkan sistem semi-manual dan distribusi lokal.
Kenaikan cukai rokok serta tingginya biaya produksi membuat perusahaan semakin sulit bersaing. Sekitar tahun 1995, pabrik Reco Pentung akhirnya berhenti beroperasi.
Penutupan tersebut berdampak besar bagi masyarakat Tulungagung. Ribuan pekerja kehilangan pekerjaan dan aset perusahaan sempat menjadi sengketa hukum hingga dilelang pengadilan.
Sebelum tutup usia, Sumiran menunjuk putra sulungnya, Ismanu Sumiran, untuk meneruskan usaha keluarga. Ismanu dikenal mencoba membawa pendekatan manajemen lebih modern, termasuk memperluas pasar dan melakukan mekanisasi ringan. Namun tekanan industri membuat produksi terus menurun hingga akhirnya berhenti total.
Di balik kisah sukses itu, muncul pula mitos yang menghubungkan kejayaan Reco Pentung dengan Nyi Roro Kidul. Kedekatan Sumiran dengan kawasan Pantai Popoh memunculkan anggapan bahwa keberhasilannya berasal dari “berkah gaib” Laut Selatan.
Namun keluarga Sumiran membantah tudingan tersebut. Mereka menyebut sang pendiri hanyalah pencinta budaya Jawa dan sosok pekerja keras yang membangun usaha dari nol.
Baca Juga: Infinix Hot 50 5G: HP 5G Rp2 Jutaan dengan Kamera Sony IMX 582, Apakah Layak Dibeli?
Kini bangunan tua pabrik Reco Pentung di Tulungagung masih berdiri meski sebagian terbengkalai. Namun bagi warga setempat, nama Sumiran Karsodiwiryo tetap dikenang sebagai pionir ekonomi rakyat yang pernah mengubah Tulungagung menjadi kota industri kretek besar di Jawa Timur.
Editor : Novica Satya Nadianti