TULUNGAGUNG - Kisah Roro Kembangsore kembali menjadi perbincangan masyarakat setelah legenda pertapa wanita sakti di Gunung Cilik, Desa Bolo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, ramai dibahas di berbagai kanal YouTube budaya Jawa. Cerita ini memuat kisah cinta tragis, fitnah keluarga, hingga kematian berdarah yang dikaitkan dengan sejarah lokal Tulungagung.
Gunung Cilik yang dikenal sebagai area pemakaman tua di Tulungagung dipercaya menjadi tempat pertapaan Resi Winadi, sosok pendeta wanita sakti yang ternyata merupakan samaran dari Roro Kembangsore. Dalam cerita babad Tulungagung, perempuan cantik itu disebut memiliki hubungan dengan Pangeran Lembupeteng dari Majapahit.
Kisah tersebut tercatat dalam buku Tulungagung dalam Rangkaian Oke Indonesia dan Babad yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung pada 2007. Dalam narasi itu, Resi Winadi dikenal sebagai empu sakti yang mampu menciptakan pusaka berdaya besar hingga dapat merontokkan pohon beringin.
Awal Tragedi Cinta Roro Kembangsore dan Pangeran Lembupeteng
Legenda Roro Kembangsore bermula ketika putri Kadipaten Betak itu jatuh cinta kepada Pangeran Lembupeteng, putra Raja Majapahit. Pertemuan keduanya disebut terjadi di Taman Sari Kadipaten Betak dan berkembang menjadi hubungan asmara yang mendalam.
Namun hubungan itu memicu amarah Pangeran Kalang, paman Roro Kembangsore. Ia menuduh sang putri melakukan perbuatan asusila dengan Pangeran Lembupeteng. Fitnah tersebut membuat situasi memanas hingga berujung peperangan antara Pangeran Bedalem, ayah Kembangsore, melawan Pangeran Lembupeteng.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat Tulungagung, pasangan itu sempat melarikan diri demi menyelamatkan hubungan mereka. Akan tetapi pengejaran terus dilakukan oleh pihak Kadipaten Betak.
“Pangeran Lembupeteng berusaha membawa Roro Kembangsore menuju Majapahit,” demikian penggalan cerita yang beredar dalam babad Tulungagung.
Ketika keduanya beristirahat di tepi sungai, tragedi besar terjadi. Pangeran Bedalem bersama Kyai Besari datang dan langsung membunuh Pangeran Lembupeteng. Jenazahnya kemudian dibuang ke sungai.
Peristiwa itu membuat Roro Kembangsore terpukul berat. Ia memilih melarikan diri meninggalkan keluarganya sendiri karena merasa dikhianati dan kehilangan orang yang dicintainya.
Gunung Budeg dan Pertapaan di Gunung Cilik Jadi Bagian Legenda Tulungagung
Setelah melarikan diri, Roro Kembangsore tiba di Desa Dadapan dan tinggal bersama Mbok Rondo Dadapan. Di tempat itu ia bertemu Joko Bodo, pemuda yang jatuh hati kepadanya.
Joko Bodo berkali-kali menyatakan cinta, namun selalu ditolak. Karena terus didesak, Roro Kembangsore meminta pemuda itu melakukan tapa bisu di sebuah gunung.
Cerita rakyat menyebut Joko Bodo akhirnya berubah menjadi batu setelah sang ibu mengutuknya karena hanya diam membisu. Dari situlah muncul nama Gunung Budeg yang hingga kini masih dikenal masyarakat Tulungagung.
Sementara itu, Roro Kembangsore melanjutkan pertapaannya di Gunung Cilik dengan menggunakan nama Resi Winadi. Sosok tersebut digambarkan sebagai pendeta wanita sakti yang menyimpan dendam terhadap Adipati Kalang.
Dalam versi cerita yang berkembang, Resi Winadi kemudian bekerja sama dengan pasukan Patih Gajah Mada untuk memburu Adipati Kalang. Ketika identitas Resi Winadi terbongkar, Adipati Kalang disebut ketakutan dan berusaha melarikan diri.
Legenda itu menjadi salah satu cerita rakyat paling populer di wilayah Tulungagung karena menggabungkan unsur sejarah Majapahit, cinta, pengkhianatan, dan mistis Jawa.
Akhir Tragis Adipati Kalang dan Warisan Cerita yang Masih Diziarahi
Kisah Roro Kembangsore mencapai puncaknya ketika Adipati Kalang akhirnya tewas di tangan pasukan Patih Gajah Mada. Dalam babad yang beredar, tubuh Adipati Kalang disebut tercincang sebagai balasan atas pengkhianatan dan penderitaan yang dialami Roro Kembangsore.
Meski begitu, Roro Kembangsore tidak pernah benar-benar hidup bahagia. Ia memilih menjadi pertapa hingga akhir hayat karena cintanya kepada Pangeran Lembupeteng tidak pernah hilang.
Hingga kini, lokasi yang dipercaya sebagai bekas pertapaan Roro Kembangsore di Gunung Cilik masih sering dikunjungi peziarah. Banyak masyarakat datang untuk berdoa, mencari ketenangan, hingga mengenang kisah legenda yang diwariskan turun-temurun.
Cerita Roro Kembangsore juga menjadi bagian penting dalam folklor Tulungagung karena dianggap mengandung pesan tentang cinta, fitnah, dendam, dan kesetiaan. Legenda itu terus hidup melalui cerita masyarakat, pertunjukan budaya, hingga konten digital yang kembali mengangkat sejarah lokal Jawa Timur.
Baca Juga: Mengupas Tuntas Spesifikasi Polygon Siskiu T7E: E-MTB Andalan dengan Performa Motor Shimano EP801
Editor : Novica Satya Nadianti