TULUNGAGUNG - Kisah pesugihan Kembang Sore di Tulungagung kembali menjadi sorotan setelah sebuah video misteri yang membahas makam Roro Kembang Sore viral di YouTube. Dalam tayangan tersebut, makam yang berada di Bukit Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, disebut kerap didatangi peziarah yang mencari kekayaan hingga popularitas instan.
Cerita mengenai pesugihan Kembang Sore telah lama berkembang di masyarakat Jawa Timur. Makam Roro Kembang Sore dipercaya memiliki aura mistis yang dikaitkan dengan ritual tertentu untuk memperoleh rezeki, jabatan, hingga ketenaran.
Video itu menyebut peziarah yang datang tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga pedagang, penyanyi dangdut lokal, hingga pelaku usaha dari berbagai daerah.
“Banyak juga artis lokal yang melakukan ritual di tempat ini dengan maksud supaya lekas menjadi artis ibu kota,” demikian narasi dalam video tersebut.
Meski begitu, kebenaran praktik pesugihan itu tidak pernah terbukti secara ilmiah dan lebih banyak berkembang sebagai cerita mistis turun-temurun di masyarakat Tulungagung.
Roro Kembang Sore Dikaitkan dengan Kisah Cinta Tragis dan Politik Kadipaten
Dalam cerita rakyat yang berkembang, Roro Kembang Sore disebut sebagai putri Adipati Bedalem dari Kadipaten Bonorowo atau Bonorogo. Ia dikenal cantik, berbudi luhur, dan memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan ayahnya.
Legenda menyebut Roro Kembang Sore jatuh cinta kepada Pangeran Lembu Peteng, seorang bangsawan dari Majapahit yang tengah melakukan pengembaraan.
Namun hubungan keduanya ditentang oleh Adipati Kalang, tokoh yang disebut memiliki ambisi politik besar sekaligus memendam perasaan terhadap sang putri.
Fitnah yang disebarkan Kalang membuat Pangeran Lembu Peteng diusir dari Kadipaten Bonorowo. Roro Kembang Sore kemudian memilih mengikuti kekasihnya meninggalkan istana.
Konflik semakin memanas hingga terjadi duel sengit antara Kalang dan Lembu Peteng. Dengan bantuan Kasan Besari dan tombak sakti Coro Welang, Lembu Peteng akhirnya tewas.
“Pangeran Lembu Peteng gugur dengan darah membasahi ibu pertiwi Kadipaten Bonorowo,” bunyi narasi dalam video tersebut.
Setelah tragedi itu, Roro Kembang Sore melarikan diri dan memilih tidak menikah seumur hidupnya. Dalam beberapa versi cerita, ia kemudian menjalani pertapaan di kawasan Gunung Bolo.
Makam Roro Kembang Sore Disebut Jadi Lokasi Ritual Pesugihan
Cerita mistis mulai berkembang ketika makam Roro Kembang Sore dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Banyak peziarah datang membawa sesaji seperti bunga telon, minyak wangi, kemenyan, hingga ayam cemani untuk menjalani ritual tertentu.
Dalam video disebutkan sebagian orang percaya ritual di makam itu bisa membantu usaha dagang, karier hiburan, hingga bisnis menjadi lancar.
Juru kunci makam bernama Basuki disebut menjelaskan bahwa sebagian peziarah datang dengan tujuan spiritual, sementara lainnya berharap mendapatkan kekayaan instan melalui pesugihan Kembang Sore.
Ada pula cerita kontroversial mengenai syarat ritual tertentu yang dikaitkan dengan hubungan terlarang. Namun hal itu dibantah oleh juru kunci makam.
“Sebetulnya tidak ada keharusan pelaku pesugihan melakukan hubungan badan,” kata Basuki dalam tayangan tersebut.
Selain ritual pesugihan, makam Roro Kembang Sore juga ramai dikunjungi peziarah biasa yang sekadar berdoa atau mencari ketenangan batin.
Gunung Bolo Disebut Jadi Perpaduan Wisata Spiritual dan Cerita Mistis
Lokasi makam yang berada di dekat pemakaman Tionghoa menambah kesan mistis kawasan Gunung Bolo. Dalam video disebutkan area tersebut sering ramai pada malam hari, terutama malam Jumat dan akhir pekan.
Cerita lain yang berkembang menyebut pasangan suami istri tidak dianjurkan berziarah bersama ke makam itu karena dipercaya bisa memicu perselingkuhan. Mitos tersebut dikaitkan dengan kisah hidup Roro Kembang Sore yang tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya.
Selain itu, narator video juga mengaku melihat penampakan perempuan berambut panjang ketika melakukan kontemplasi di sekitar makam. Kisah-kisah semacam ini membuat aura mistis pesugihan Kembang Sore semakin terkenal di masyarakat.
Meski begitu, legenda dan ritual di makam Roro Kembang Sore hingga kini tetap menjadi bagian dari folklor Tulungagung yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian warga memandangnya sebagai tradisi spiritual, sementara lainnya menganggapnya sekadar mitos dan cerita mistis daerah.
Editor : Novica Satya Nadianti