Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Makam Nyi Roro Kembang Sore Tulungagung, Legenda Cinta Tragis hingga Ritual Nyadran dan Pesugihan

Novica Satya Nadianti • Senin, 25 Mei 2026 | 20:11 WIB
Makam Nyi Roro Kembang Sore Tulungagung kembali viral. Legenda cinta tragis, tradisi nyadran, hingga cerita pesugihan ramai dibahas.
( Gemini AI )
Makam Nyi Roro Kembang Sore Tulungagung kembali viral. Legenda cinta tragis, tradisi nyadran, hingga cerita pesugihan ramai dibahas. ( Gemini AI )

 

TULUNGAGUNG - Makam Nyi Roro Kembang Sore di Bukit Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, kembali menjadi perhatian setelah kisah legenda dan ritual spiritual di lokasi tersebut ramai dibahas di YouTube. Sosok Roro Kembang Sore disebut sebagai tokoh penting sejarah Tulungagung yang kisah hidupnya dipenuhi tragedi cinta, pertapaan, hingga cerita pesugihan.

Legenda Roro Kembang Sore diyakini berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Ia disebut sebagai putri Adipati Bedalem dan Roro Retno Mursodo dari Kadipaten Betak atau Bonorowo.

Kecantikannya yang terkenal membuat banyak bangsawan terpikat. Namun dalam berbagai cerita rakyat Jawa Timur, Roro Kembang Sore memilih tidak menikah dan menjalani hidup sebagai seorang resi bernama Empu Winadi di Gunung Cilik atau Bukit Bolo.

Baca Juga: Asal Usul Pesugihan Kembang Sore Tulungagung, Makam Roro Kembang Sore Disebut Jadi Tempat Ritual Mencari Kekayaan

“Roro Kembang Sore terkenal karena kecantikannya yang rupawan,” demikian narasi dalam video tersebut.

Kisah hidupnya kemudian berkembang menjadi legenda besar yang masih dipercaya sebagian masyarakat Tulungagung hingga sekarang.

Kisah Cinta Roro Kembang Sore dan Lembu Peteng Berakhir Tragis

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Roro Kembang Sore jatuh cinta kepada Pangeran Lembu Peteng, putra Kerajaan Majapahit yang sedang mencari Kiai Besari dan Adipati Kalang.

Baca Juga: Bukan Hanya Mengurangi Limbah Pakaian, RE3 FOR-E PNM Turut Mengalirkan Manfaat bagi Usaha Nasabah Laundry

Pertemuan mereka terjadi di Kadipaten Betak dan berujung pada hubungan asmara yang mendalam. Namun cinta itu memicu konflik besar karena ditentang keluarga kerajaan.

Pangeran Bedalem murka setelah mendengar kabar hubungan putrinya dengan Lembu Peteng. Situasi semakin rumit akibat hasutan Pangeran Kalang dan pengkhianatan Kiai Kasan Besari terhadap gurunya, Kiai Pacet.

Lembu Peteng akhirnya dibunuh saat melarikan diri bersama Roro Kembang Sore. Tragedi tersebut membuat sang putri memilih meninggalkan kehidupan istana.

Baca Juga: Legenda Roro Kembang Sore dan Gunung Budeg Tulungagung, Kisah Cinta Tragis yang Berakhir Jadi Kutukan Batu

“Roro Kembang Sore menolak untuk kembali bersama ayahnya,” bunyi salah satu bagian cerita dalam video.

Setelah kematian Pangeran Bedalem, kekuasaan Kadipaten Betak jatuh ke tangan Pangeran Kalang. Namun Roro Kembang Sore tetap menolak kembali ke istana dan memilih hidup sebagai pertapa.

Asal Usul Gunung Budeg dan Pertapaan Empu Winadi

Roro Kembang Sore kemudian tinggal bersama Mbok Rondo Dadapan. Di tempat itu, Joko Bodo atau Joko Budeg jatuh cinta kepadanya.

Baca Juga: Misteri Pabrik Rokok Rejo Pentung Tulungagung, Dari Kejayaan Kretek hingga Kisah Horor dan Dugaan Pesugihan

Meski berkali-kali ditolak, Joko Budeg terus mengejar cintanya. Sebagai syarat, Roro Kembang Sore meminta pemuda itu menjalani tapa bisu di sebuah bukit.

Saat Mbok Rondo Dadapan menemukan anaknya diam membisu dalam pertapaan, ia marah dan mengucapkan kata-kata kasar. Menurut legenda, petir langsung menyambar dan tubuh Joko Budeg berubah menjadi batu.

Peristiwa itu dipercaya menjadi asal-usul Gunung Budeg di Tulungagung.

Baca Juga: Misteri Pabrik Rokok Rejo Pentung Tulungagung, Dari Kejayaan Kretek hingga Kisah Horor dan Dugaan Pesugihan

Sementara itu, Roro Kembang Sore yang menggunakan nama Resi Winadi atau Empu Winadi terus menjalani pertapaan di Bukit Bolo. Ia dikenal sebagai perempuan sakti yang suka menolong dan dihormati masyarakat sekitar.

Dalam video disebutkan Empu Winadi juga mendirikan padepokan bersama Gajah Mada yang disebut pernah menjadi cantriknya.

“Semua perkataan yang terucap dari Nyi Roro Kembang Sore selalu menjadi kenyataan,” kata Basuki, juru kunci makam Roro Kembang Sore dalam tayangan tersebut.

Baca Juga: Misteri Kembang Sore Tulungagung Kembali Dibahas, Tokoh Legendaris Ini Disebut Masih Melekat di Ingatan Warga

Tradisi Nyadran dan Cerita Pesugihan Masih Melekat di Makam Bukit Bolo

Hingga kini, makam Roro Kembang Sore masih ramai didatangi peziarah dari berbagai daerah bahkan luar negeri. Salah satu tradisi yang masih rutin dilakukan masyarakat adalah nyadran.

Tradisi nyadran biasanya digelar pada Jumat Legi dan Jumat Pon sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada Roro Kembang Sore sebagai sesepuh Tulungagung.

Ritual itu dilakukan dengan menabur bunga, membakar kemenyan, serta membawa ubo rampe seperti bunga telon, nasi gurih, ingkung ayam, sambal goreng, dan minyak wangi.

Baca Juga: Kisah Reco Pentung Tulungagung: Dari Anak Buruh Jadi Raja Kretek, Sempat Saingi Gudang Garam hingga Tinggalkan Legenda Nyi Roro Kidul

Selain tradisi spiritual, makam Bukit Bolo juga dikenal karena cerita pesugihan Kembang Sore. Dalam video disebutkan sebagian peziarah percaya ritual tertentu dapat mendatangkan kekayaan dan keberuntungan.

Namun muncul pula kontroversi karena praktik tersebut dikaitkan dengan ritual hubungan badan di luar pasangan sah. Narasi itu juga menyoroti potensi risiko kesehatan akibat praktik seksual tidak aman di sekitar lokasi ritual.

Meski demikian, kisah Roro Kembang Sore hingga kini tetap menjadi bagian penting dari folklor Tulungagung yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita rakyat, ritual budaya, dan tradisi spiritual masyarakat Jawa Timur.

Baca Juga: Denny Darko Bongkar Fakta Keluarga Bos Reco Pentung, Bantah Pesugihan Nyi Roro Kidul hingga Ungkap Kejatuhan Pabrik Rokok Legendaris

Editor : Novica Satya Nadianti
#Makam Bukit Bolo #gunung budeg #Pesugihan Tulungagung #tradisi nyadran #Nyi Roro Kembang Sore