TULUNGAGUNG - Misteri pesugihan kera di Makam Ngujang, Tulungagung, kembali menjadi sorotan setelah juru kunci setempat membongkar berbagai rumor yang selama ini berkembang di masyarakat. Juru pelihara makam bernama Mbah Ribut menegaskan lokasi tersebut bukan tempat pesugihan instan dengan tumbal seperti cerita yang ramai beredar.
Dalam wawancara di kanal YouTube Petua Kehidupan, Mbah Ribut menjelaskan kawasan makam Ngujang lebih tepat disebut sebagai tempat mencari berkah melalui doa, usaha, dan ritual spiritual Jawa. Ia bahkan menyebut banyak cerita yang berkembang selama ini sudah bercampur mitos dan salah pemahaman.
“Kalau orang datang ke sini maunya kaya itu benar. Tapi bukan pesugihan instan pakai tumbal seperti cerita di luar,” ujar Mbah Ribut yang mengaku menjadi juru kunci sejak 27 Januari 2000.
Nama Makam Ngujang selama bertahun-tahun memang identik dengan cerita pesugihan monyet atau pesugihan kera. Lokasi tersebut juga terkenal karena dihuni puluhan hingga ratusan monyet liar yang berkeliaran di sekitar area makam dan jembatan Ngujang.
Juru Kunci Sebut Pesugihan Ngujang Hanya Mencari Berkah
Menurut Mbah Ribut, sebagian besar pengunjung datang ke Makam Ngujang untuk memohon kelancaran usaha, hasil panen, hingga rezeki dagangan. Ia menyebut istilah pesugihan muncul karena masyarakat luar menganggap semua tempat pencarian kekayaan sebagai pesugihan.
Padahal, kata dia, para pengunjung hanya melakukan tawasul atau doa kepada leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut. Mereka diminta menjalani hidup dengan sabar, jujur, dan ikhlas.
“Yang datang ke sini petani ingin panennya berhasil, pedagang ingin jualannya laris. Itu disebut mencari berkah,” jelasnya.
Ia juga membantah rumor tentang ritual tumbal keluarga hingga syarat melihat bayangan di sumur. Menurutnya, di area makam tidak ada sumur ritual seperti yang banyak diceritakan masyarakat.
Cerita soal tumbal justru disebut berkembang dari mulut ke mulut selama puluhan tahun hingga dipercaya banyak orang. Mbah Ribut mengaku sering menerima tamu dari luar daerah seperti Blitar, Kediri, Pacitan, hingga luar Pulau Jawa yang datang karena termakan rumor pesugihan instan.
“Ada yang datang dari Bali, Lampung, Probolinggo, percaya kalau di sini ada tuyul dijual. Padahal tidak ada,” ungkapnya.
Misteri Kera Ngujang dan Legenda Sunan Kalijaga
Mbah Ribut juga menjelaskan asal-usul keberadaan kera di kawasan Ngujang. Ia mengaitkan cerita tersebut dengan legenda Sunan Kalijaga dan murid kesayangannya bernama Eyang Setono Renggo.
Menurut cerita turun-temurun, nama Ngujang berasal dari suara “ngu” atau suara kera saat Sunan Kalijaga memberi wejangan kepada murid-muridnya. Ada pula versi lain yang menyebut beberapa murid naik ke pohon saat pengajian sehingga disamakan dengan kera.
Namun, Mbah Ribut menegaskan monyet di kawasan makam merupakan hewan biasa, bukan jelmaan manusia seperti rumor yang berkembang.
“Itu kera biasa, bisa mati, bisa tua, bisa beranak. Kalau kera gaib tidak mungkin terlihat semua orang,” katanya.
Meski begitu, ia percaya kawasan tersebut memiliki unsur spiritual karena adanya sosok gaib penjaga makam seperti Eyang Setono Renggo dan Den Ayu Siti Sundari.
Keberadaan kawanan kera liar yang tidak pernah meninggalkan kawasan makam juga dianggap menjadi bagian dari daya tarik mistis Ngujang. Menurutnya, monyet-monyet itu tetap bertahan di sekitar lokasi meski area tersebut dekat jalan raya dan permukiman warga.
Pesan Juru Kunci untuk Generasi Muda soal Pesugihan
Di akhir wawancara, Mbah Ribut memberikan pesan kepada masyarakat agar tidak mudah percaya pada cerita pesugihan instan yang menjanjikan kekayaan cepat.
Ia menilai banyak orang terjebak dalam keinginan mendapatkan harta secara singkat tanpa memahami risiko dan kenyataan sebenarnya. Menurutnya, kekayaan sejati bukan hanya soal materi, tetapi ketenangan hidup dan kesabaran.
“Lebih baik mencari rezeki dengan sabar, jujur, dan ikhlas. Itu yang paling penting,” ujarnya.
Mbah Ribut juga menegaskan bahwa Makam Ngujang hanyalah sarana spiritual dan tempat berdoa. Ia menyebut segala hasil tetap bergantung kepada Tuhan dan usaha masing-masing individu.
Hingga kini, cerita tentang pesugihan kera Ngujang masih menjadi bagian dari folklore masyarakat Tulungagung. Berbagai rumor tentang tumbal, kerajaan gaib, hingga monyet jadi-jadian terus berkembang dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencari kisah mistis di Jawa Timur.
Editor : Novica Satya Nadianti