JAKARTA - Misteri pesugihan monyet TPU Ngujang di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kembali menjadi perbincangan setelah kisah ritual ngalap berkah yang dikaitkan dengan kematian tragis seorang perempuan bernama Bu Darmi viral di media sosial. Cerita tersebut mengungkap praktik ritual malam di makam keramat Ngujang yang dipercaya sebagian warga dapat mendatangkan kekayaan instan.
TPU Ngujang yang berada di Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, selama ini dikenal bukan hanya sebagai tempat pemakaman umum, tetapi juga lokasi penuh mitos. Salah satu cerita paling terkenal adalah keberadaan ratusan monyet yang disebut-sebut muncul dan menghilang secara misterius di area makam.
Dalam cerita yang beredar, ritual pesugihan monyet TPU Ngujang dilakukan melalui perantara dukun dan juru kunci makam dengan membawa sesaji berupa pisang raja, bunga tiga warna, kopi, rokok, dupa, hingga kemenyan.
Kronologi Ritual Pesugihan di TPU Ngujang Tulungagung
Kisah bermula dari Anto, pemuda asal Ciamis yang mengalami kesulitan ekonomi setelah usaha bakso keluarganya bangkrut. Ibunya, Bu Darmi, meminta Anto menemui pamannya di Tulungagung bernama Nugroho.
Setibanya di Tulungagung, Anto mendapati pamannya telah menjadi orang kaya dengan rumah mewah dua lantai. Nugroho kemudian mengaku kesuksesannya didapat setelah rutin berziarah dan melakukan ritual ngalap berkah di makam keramat Ngujang.
“Pakde bisa kaya seperti ini karena berkah dari TPU Ngujang,” demikian pengakuan Nugroho kepada Anto dalam cerita tersebut.
Anto lalu diajak bertemu seorang dukun bernama Mbah Tukimin yang disebut dekat dengan juru kunci makam. Ritual dilakukan pada malam hari di area makam Mbah Sentono Renggo, sosok yang dipercaya sebagai pendiri Desa Ngujang.
Sesaji lengkap disiapkan, mulai dari kopi, rokok, pisang raja, bunga telon, hingga dupa dan kemenyan. Dalam ritual itu, Anto diminta menghafalkan mantra khusus sambil memegang kantung putih yang disebut sebagai “kantung pusaka”.
Cerita semakin mencekam ketika Anto mengaku mendengar suara ratusan monyet mengelilingi makam. Bahkan ia disebut sempat melihat sosok monyet putih besar menyerupai gorila yang dipercaya sebagai jelmaan makhluk gaib penjaga TPU Ngujang.
Asal Usul Mitos Monyet Gaib TPU Ngujang
Mitos pesugihan monyet TPU Ngujang sebenarnya sudah lama berkembang di masyarakat Tulungagung. Salah satu cerita populer menyebut monyet-monyet di area makam merupakan jelmaan santri nakal yang dikutuk oleh Sunan Kalijaga saat berdakwah di kawasan tersebut.
Dalam legenda itu, beberapa santri disebut bermain di atas pohon ketika pengajian berlangsung. Sang wali kemudian menegur mereka dengan menyamakan perilaku tersebut seperti monyet. Konon, para santri langsung berubah menjadi kera.
Selain itu, berkembang pula anggapan bahwa monyet di TPU Ngujang adalah tumbal dari praktik pesugihan. Namun dalam cerita yang beredar, disebutkan monyet-monyet itu bukan jelmaan manusia, melainkan hewan biasa yang diyakini “dijaga” makhluk gaib penghuni makam.
Nama Mbah Sentono Renggo juga kerap dikaitkan dengan ritual tersebut. Meski demikian, dalam narasi cerita disebutkan bahwa sosok leluhur itu justru difitnah sebagai dalang pesugihan.
“Jangan salah paham menganggap leluhur memberi pesugihan menyesatkan manusia,” demikian penjelasan dalam cerita itu.
Cerita tentang monyet gaib TPU Ngujang semakin terkenal karena jumlah monyet disebut selalu berubah-ubah. Dalam satu waktu terlihat puluhan ekor, tetapi ketika dihitung ulang bisa mencapai ratusan.
Kematian Bu Darmi dan Dugaan Tumbal Pesugihan
Puncak kisah terjadi saat Anto pulang dari Tulungagung menuju Ciamis. Di perjalanan, ia mengalami mimpi buruk melihat ibunya diseret tiga monyet hitam besar dari dalam kamar.
Pada malam yang sama, istrinya, Reni, mengaku mendengar suara pekikan monyet di sekitar rumah mereka di Desa Gunung Cupu, Ciamis. Ia juga melihat seekor monyet berada di atap rumah sebelum akhirnya menghilang.
Tak lama kemudian, Bu Darmi ditemukan meninggal dunia di dalam kamar. Reni sempat melihat bekas jeratan membiru di leher mertuanya, meski tanda tersebut kemudian menghilang secara misterius.
Warga sekitar menyatakan Bu Darmi meninggal karena sakit. Namun waktu kematian yang bertepatan dengan ritual di TPU Ngujang membuat Anto mulai mempertanyakan kemungkinan adanya hubungan gaib.
“Seolah ada suara dalam hati Anto yang mengatakan Bu Darmi menjadi tumbal pesugihan monyet Ngujang,” demikian narasi penutup cerita tersebut.
Hingga kini, kisah pesugihan monyet TPU Ngujang Tulungagung tetap menjadi legenda urban yang dipercaya sebagian masyarakat. Belum ada bukti nyata terkait ritual pesugihan tersebut, namun cerita mistis tentang monyet gaib dan makam keramat Ngujang terus hidup dari generasi ke generasi.
Editor : Novica Satya Nadianti