JAKARTA - Sungai Rowo Tulungagung atau Kali Ngrowo memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Kabupaten Tulungagung. Sungai legendaris ini dahulu menjadi jalur transportasi warga, pusat aktivitas ekonomi, hingga penyebab banjir besar sebelum akhirnya dikembangkan menjadi kawasan wisata modern bernama Wisata Pinka atau Wisata Pinggir Kali.
Kini kawasan Sungai Rowo di sekitar Jembatan Lembupeteng berubah menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi warga. Di lokasi tersebut terdapat taman, area bermain, jalur jogging, gedung olahraga, hingga wisata kuliner yang menjual aneka makanan rakyat.
Namun di balik wajah modernnya, Sungai Rowo menyimpan sejarah penting tentang asal-usul Tulungagung sebagai daerah rawa, perkembangan kota, hingga proyek pengendalian banjir terbesar di wilayah selatan Jawa Timur.
Sungai Rowo Tulungagung Jadi Bagian Sejarah Asal Usul Ngrowo
Nama Sungai Rowo Tulungagung memiliki kaitan erat dengan kondisi geografis Tulungagung pada masa lalu. Istilah “rowo” berasal dari kata rawa yang menggambarkan wilayah Tulungagung dahulu dipenuhi genangan air dan kawasan rawa-rawa luas.
Bahkan, dalam sejumlah cerita sejarah disebutkan sebagian besar wilayah Tulungagung telah tergenang air sejak masa Kerajaan Airlangga Kediri. Kondisi itu membuat nama “Ngrowo” melekat sebagai identitas daerah sebelum akhirnya berubah menjadi Tulungagung.
Sungai Rowo kemudian menjadi aliran utama yang membelah wilayah kota tua Kalangbret dan pusat pemerintahan baru Tulungagung. Kalangbret sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum era Kabupaten Tulungagung modern.
Baca Juga: Jejak Sejarah Perubahan Nama Ngrowo Jadi Tulungagung, Terungkap dari Kisah Bupati Partowijoyo
Perubahan besar terjadi pada masa kepemimpinan Bupati Partowijoyo sekitar 1896 hingga 1901. Pada periode itu, nama Ngrowo mulai berganti menjadi Tulungagung yang dikenal hingga sekarang.
Karena itulah, keberadaan Sungai Rowo dianggap menjadi simbol sejarah penting yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Kabupaten Tulungagung.
Sungai Rowo Pernah Jadi Jalur Transportasi Warga ke Pasar Wage
Selain menjadi saluran air utama, Sungai Rowo Tulungagung dahulu dimanfaatkan sebagai sarana transportasi massal masyarakat. Sejumlah warga tua di sekitar sungai masih mengingat aktivitas perahu yang hilir mudik menuju Pasar Wage Tulungagung.
Warga dari wilayah selatan memanfaatkan aliran sungai untuk membawa hasil dagangan dan kebutuhan sehari-hari. Transportasi sungai saat itu dianggap lebih mudah karena kondisi jalan darat belum berkembang seperti sekarang.
Baca Juga: Jejak Sejarah Perubahan Nama Ngrowo Jadi Tulungagung, Terungkap dari Kisah Bupati Partowijoyo
Sejarah pemanfaatan sungai juga terlihat dari keberadaan sejumlah pondok pesantren di sekitar aliran Sungai Rowo. Lokasi pesantren dekat sungai dipilih agar memudahkan kebutuhan air untuk wudhu dan kehidupan sehari-hari para santri.
Sungai Rowo juga menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Kawasan bantaran sungai berkembang menjadi tempat perdagangan rakyat hingga kini masih ramai dengan wisata kuliner dan ruang publik.
Transformasi kawasan Sungai Rowo menunjukkan bagaimana fungsi sungai berubah dari jalur transportasi tradisional menjadi pusat rekreasi dan aktivitas masyarakat modern.
Banjir Besar Tulungagung Berhasil Diatasi lewat Terowongan Neyama
Di balik manfaatnya, Sungai Rowo Tulungagung juga pernah menjadi sumber bencana banjir besar yang melanda kota hampir setiap musim hujan. Keterbatasan daya tampung sungai membuat wilayah sekitar aliran sungai menjadi langganan banjir.
Banjir semakin parah karena air kiriman dari wilayah Trenggalek dan meningkatnya debit air dari rawa-rawa kuno di Tulungagung bagian selatan. Pemerintah kolonial Belanda sebenarnya pernah mencoba mengendalikan banjir dengan membangun sejumlah bendungan seperti Bendungan Sumbergayam Kamulan Trenggalek dan Gondosuli Gondang Tulungagung.
Namun upaya tersebut belum mampu menghentikan banjir besar di Tulungagung. Kondisi mulai berubah ketika pemerintah Orde Baru membangun Terowongan Neyama II pada 1979 hingga 1986.
Terowongan itu dibangun tidak jauh dari Terowongan Neyama I peninggalan pemerintah Jepang. Dengan kapasitas lebih besar, terowongan baru mampu mengalirkan debit air menuju Laut Selatan sehingga banjir besar di Tulungagung perlahan bisa diatasi.
Sejak proyek tersebut beroperasi, aliran Sungai Rowo yang sebelumnya menuju Sungai Brantas berbalik mengalir ke arah selatan. Sungai juga mengalami pelebaran hampir dua kali lipat dibanding kondisi sebelumnya.
Kini Sungai Rowo tidak lagi dikenal sebagai sumber banjir semata. Kawasan tersebut telah bertransformasi menjadi ikon wisata kota dan ruang publik yang memperlihatkan perjalanan panjang sejarah Tulungagung.
Editor : Novica Satya Nadianti