Rahasia Purbakala Gunung Budheg Tulungagung: Dari Sejarah Gunung Api Hingga Jejak Trah Mataram Kuno

Natasha Eka Safrina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:05 WIB
Sejarah purbakala Gunung Budheg Tulungagung diungkap. Simak kisah perjuangan relawan Agus Utomo menjaga bandulan gempa kota dari ancaman bencana kelongsoran.(Google)
Sejarah purbakala Gunung Budheg Tulungagung diungkap. Simak kisah perjuangan relawan Agus Utomo menjaga bandulan gempa kota dari ancaman bencana kelongsoran.(Google)

 

TULUNGAGUNG - Situs purbakala Gunung Budheg Tulungagung kini menjadi primadona para pecinta alam sekaligus menyimpan kekayaan warisan geologi yang sangat bernilai. Kawasan pegunungan ini memiliki sejarah panjang yang membentang dari era jutaan tahun lalu hingga zaman kerajaan Nusantara. Kisah mistis, geologis, dan sejarah peradaban berpadu erat di kawasan yang dikenal wingit ini.

Sejarawan sekaligus pelestari lingkungan Agus Utomo mengupas tuntas seluruh seluk-beluk mengenai Gunung Budheg Tulungagung. Pria yang telah merawat kawasan ini selama 20 tahun membagikan catatan berharga mengenai peradaban kuno di sana. Informasi tersebut membuka tabir sejarah tersembunyi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Upaya penyelamatan lingkungan di Gunung Budheg Tulungagung didasari oleh kecintaan mendalam terhadap warisan leluhur. Kawasan ini ternyata bukan sekadar bukit berbatu biasa di selatan Jawa. Tempat ini terbukti menjadi titik imajiner penting yang terhubung langsung dengan sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung.

Asal-usul Geologi 30 Juta Tahun Lalu

Agus Utomo menjelaskan sejarah pembentukan fisik kawasan ini berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi. Sekitar 30 juta tahun lalu, terjadi peristiwa alam besar di dasar laut selatan. Lempengan bumi di dasar laut mengalami patahan hebat yang memicu aktivitas magma purba.

Patahan tersebut diperkirakan berada di sekitar kawasan Pantai Sanggar saat ini. Jalur lava purba di dasar laut kemudian bergerak ke arah timur. Akibat pergerakan tersebut, terjadi tubrukan hebat yang mendorong material bumi menyembul ke utara.

Fenomena alam ini akhirnya membentuk sebuah bukit yang kini dikenal sebagai gunung berapi purba. Proses pembentukan ini sekilas mirip dengan peristiwa semburan lumpur di Sidoarjo. Batuan penyusun bukit ini merupakan jenis batuan breksi piroklastik yang menyerupai campuran semen dan pasir.

Baca Juga: Review Indomobil E-Motor Tirano, Motor Listrik Adventure dengan Fitur Premium dan Jarak Tempuh 110 Km

Situs Pemujaan Zaman Megalitikum dan Era Kediri

Peradaban manusia di kawasan ini sudah dimulai jauh sebelum berdirinya Kerajaan Mataram Kuno. Pada masa Megalitikum, nenek moyang Nusantara telah membuat sebuah menhir di atas puncak bukit. Menhir purba tersebut saat ini dikenal masyarakat luas dengan nama Watu Joko Budheg.

Para ahli antropologi menyebut batu tersebut dipahat secara khusus membentuk bagian tubuh manusia. Pahatannya terlihat menyerupai struktur kaki, badan, hingga bagian kepala. Struktur batu ini berfungsi sebagai perwujudan menhir untuk sarana pemujaan masyarakat Jawa kuno.

Melalui peninggalan tersebut, terlihat bahwa masyarakat purba sudah mengenal konsep ketuhanan sejak lama. Mereka mewujudkan simbol pemujaan melalui bentuk batu yang menyerupai manusia. Tradisi spiritual ini terus berkembang dan mengalami perubahan pada masa peradaban berikutnya.

Memasuki era Kerajaan Kediri, kehidupan keagamaan masyarakat di sekitar bukit berkembang semakin maju. Masyarakat mulai mengenal ajaran agama Hindu, Buddha, serta keyakinan spiritual lainnya. Perkembangan ini mengubah fungsi bukit menjadi tempat suci keagamaan yang lebih terstruktur.

Tempat Peristirahatan Terakhir Para Sesepuh

Gunung ini dipilih sebagai tempat suci karena dianggap memenuhi tahapan spiritual ketujuh. Dalam konsep Jawa kuno, tahapan ini dikenal dengan istilah jone wong ora goan pati. Istilah tersebut merujuk pada kesadaran penuh seseorang bahwa dirinya kelak akan menghadapi kematian.

Pada tahapan ini, para sesepuh akan memilih untuk memisahkan diri dari kehidupan keluarga. Mereka menepi ke dalam hutan bersama rekan-rekan yang sama-sama berusia tua. Tujuan utama dari proses mengasingkan diri ini adalah untuk mencari kesempurnaan hidup sejati.

Kawasan bukit wingit ini menjadi tempat peristirahatan terakhir sebelum para sesepuh tersebut meninggal dunia. Ketika mereka wafat, jasadnya tidak dikubur di dalam tanah. Jenazah para orang tua tersebut diletakkan begitu saja di atas permukaan batu datar.

Tradisi peletakan jasad di atas batu ini mirip dengan sistem pemakaman di Trunyan, Bali. Agus Utomo meyakini metode pemakaman kuno tersebut pernah eksis di kawasan ini. Jejak ritual ini menandakan tingginya nilai sakral kawasan bukit sejak era kuno.

Baca Juga: Honda CUV e Dipakai 1.000 Km, Top Speed Tembus 97 Km/Jam tapi Bagasinya Sangat Sempit

Cerita Rakyat Joko Budheg dan Roro Kembang Sore

Memasuki periode Kerajaan Majapahit, berkembang sebuah cerita rakyat yang sangat melegenda di masyarakat. Kisah ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Joko Tawang yang melakukan pertapaan. Pemuda tersebut memilih bertapa karena jatuh cinta kepada sosok Roro Kembang Sore.

Joko Tawang berangkat menuju tempat pertapaan tanpa meminta izin kepada ibu kandungnya terlebih dahulu. Ibunya merupakan seorang janda tua yang dikenal dengan nama Mbok Rondo Dadapan. Tempat tinggal mereka berada di Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, yang berjarak sekitar 3 kilometer.

Mbok Rondo Dadapan yang merasa kehilangan anak tunggalnya kemudian melakukan pencarian ke berbagai tempat. Ia akhirnya berhasil menemukan anak kesayangannya sedang duduk terdiam melakukan proses pertapaan. Namun, Joko Tawang mengabaikan kehadiran ibunya karena mengira itu adalah wujud makhluk halus.

Sang anak tetap tekun dan teguh mempertahankan keheningan proses pertapaan spiritualnya tanpa bergerak. Karena merasa diabaikan, Mbok Rondo Dadapan tanpa sadar mengeluarkan kalimat kutukan yang sangat fatal. Kalimat spontan dari sang ibu tersebut seketika mengubah tubuh Joko Tawang menjadi batu.

Pembangunan Menara Pemantau Kuno Zaman Belanda

Memasuki masa kolonial Belanda, kawasan perbukitan ini masih berupa hutan belantara yang sangat lebat. Pada era ini, pengaruh peradaban Hindu dan Buddha di masyarakat mulai memudar secara perlahan. Masyarakat sekitar secara bertahap mulai banyak yang memeluk ajaran agama Islam.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian mendirikan sebuah bangunan khusus di area puncak bagian timur. Masyarakat setempat sering menyebut bangunan menara pemantau kuno tersebut dengan istilah bangunan kelop. Bangunan berupa gardu tersebut memiliki ukuran fondasi sekitar 2 meter kali 2 meter.

Pada bagian puncak gardu terpasang sebuah kaca cermin yang berukuran sangat besar. Berdasarkan penuturan para sesepuh, cermin tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal bagi pesawat terbang. Keberadaan cermin membantu pilot mengetahui adanya dataran tinggi di kawasan tersebut agar tidak menabrak.

Fungsi lain dari gardu zaman Belanda ini adalah untuk menentukan titik koordinat agraria. Pengukuran wilayah agraria di seluruh Tulungagung dilakukan dengan menarik sudut dari puncak bukit ini. Penentuan sudut dilakukan ke arah timur laut, barat laut, serta penjuru mata angin lainnya.

Garis Keturunan Tokoh Pendiri Mataram Islam

Kawasan ini memiliki nilai sejarah tinggi karena menjadi tempat pemakaman tokoh penting Mataram Islam. Pada abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1670-an, terdapat seorang penguasa yang dimakamkan di sana. Tokoh tersebut bernama Raden Tumenggung Surontani Kertoyudo yang dimakamkan di sisi selatan bukit.

Raden Tumenggung Surontani Kertoyudo merupakan putra kandung asli dari Raden Tumenggung Surontani Haryo Kusumo Wajak. Silsilah di atasnya mencatat bahwa Raden Surontani Haryo Kusumo merupakan putra dari Panembahan Juru Mayem. Sementara itu, Panembahan Juru Mayem adalah putra kandung dari tokoh legendaris Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani dikenal luas dalam sejarah sebagai salah satu founding father pendiri Kerajaan Mataram Islam. Dengan demikian, tokoh yang dimakamkan di kaki bukit ini merupakan keturunan langsung dari trah utama Mataram. Keberadaan makam trah suci ini menegaskan bahwa pemilihan lokasi pemakaman tidak dilakukan sembarangan.

Nama "Surontani" sendiri memiliki makna filosofis yang sangat mendalam terkait dengan tugas kepemimpinan. Gabungan kata tersebut memiliki arti penting, yaitu kemampuan menentramkan serta menenangkan hati para prajurit. Tugas penentraman ini berkaitan erat dengan terjadinya konflik besar di wilayah berang wetan antara Trunojoyo dengan Mataram.

Fungsi Geologis Bukit Sebagai Bandulan Gempa Kota

Selain bernilai sejarah, bukit purba ini memiliki fungsi geologis yang sangat vital bagi Tulungagung. Secara geografis, bukit ini terletak dekat dengan pusat kota, hanya berjarak 9 kilometer. Waktu tempuh dari area pusat pemerintahan menuju lokasi bukit hanya berkisar 10 menit saja.

Jika dilihat dari gedung pendopo kabupaten ke arah selatan, posisi bukit ini lurus tepat di depan. Penempatan ini memiliki kesamaan konsep dengan titik imajiner yang diterapkan di Kerajaan Mataram Islam Yogyakarta. Konsep imajiner tersebut menghubungkan Pantai Selatan, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Gunung Merapi di utara.

Penerapan arsitektur pendopo Tulungagung di sebelah utara alun-alun juga didasarkan pada perhitungan matang para leluhur. Pembangunan ini mendapat pengaruh dari arsitek utama Mataram, yaitu Pangeran Mangkubumi yang membangun Keraton Yogyakarta. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan pemikiran Mataram Islam dalam penentuan tata ruang kota Tulungagung.

Secara teknis, bukit purba ini berfungsi sebagai bandulan atau jangkar penahan gempa bagi kota Tulungagung. Ketika terjadi gempa bumi di dasar laut selatan, bukit ini mereduksi kekuatan getaran gelombang seismik. Formasi bukit bersama Candi Dadi membentuk struktur segitiga pelindung alami yang sangat kokoh.

Keberadaan struktur segitiga batuan purba ini terbukti efektif meminimalisasi dampak kerusakan akibat bencana gempa bumi. Energi gempa berskala besar dari laut diredam sehingga tidak sampai menghancurkan bangunan di daratan kota. Peran geologis inilah yang membuat Tulungagung relatif aman dari ancaman gempa besar yang merusak.

Kisah Mistis dan Penampakan Makhluk Gaib

Kawasan bukit purba ini dikenal luas sebagai tanah wingit, bukan sebagai tempat yang angker. Konsep wingit merujuk pada kesucian tempat pertapaan yang memancarkan aura spiritual positif bagi para pendaki. Selama puluhan tahun, puluhan ribu pendaki terbukti dapat naik dan turun dengan selamat tanpa celaka.

Meskipun memiliki tebing yang sangat curam, tidak pernah ada laporan pendaki yang tergelincir ke jurang. Saat memasuki titik-titik tertentu, para pendaki sering mencium aroma wangi bunga maupun kemenyan. Pengalaman mistis ini menjadi hal yang lumrah dirasakan oleh para pencinta alam yang berkunjung.

Agus Utomo yang merupakan pribadi rasional mengaku pernah mengalami beberapa kejadian mistis di pos gubuk. Pada suatu sore setelah magrib, ia melihat penampakan sosok laki-laki sepuh di pojok area. Sosok gaib berjumlah tiga orang tersebut diyakini bertugas sebagai penjaga pekarangan sekitar pos gubuk.

Selain itu, terdapat penampakan sosok mahluk gaib separuh baya yang memiliki kepala berwujud singa. Kemunculan sosok berkepala singa ini menjadi pertanda gaib akan adanya bahaya di atas puncak bukit. Biasanya, penampakan tersebut muncul apabila ada pengunjung yang berniat buruk atau melakukan tindakan aneh.

Tanda alam lain yang patut diwaspadai adalah munculnya awan gelap disertai petir menyambar di puncak. Fenomena kilatan petir ekstrem ini menandakan adanya kenaikan frekuensi getaran energi dari bawah bumi. Jika kondisi ini terjadi, Agus Utomo segera melakukan patroli pengamanan demi menentramkan keadaan alam.

Perjuangan 20 Tahun Agus Utomo Menanam Lahan Kritis

Keterlibatan Agus Utomo dalam merawat bukit purba ini dimulai dari sebuah pengalaman mimpi misterius tahun 2000. Dalam mimpi tersebut, ia menerima perintah gaib untuk menanam pohon di area bukit yang gundul. Mimpi serupa terulang kembali pada tahun 2001 dan 2002 setiap malam Jumat jam 12 malam.

Pada tahun 2003, seorang kakek berpakaian hitam tanpa alas kaki mendatangi rumahnya secara nyata. Pertemuan misterius tersebut menjadi titik balik yang memantapkan langkahnya untuk mulai melakukan aksi penanaman mandiri. Saat pertama kali memulai aksi, ia dibantu oleh kelompok masyarakat berjumlah 40 orang relawan.

Namun seiring berjalannya waktu, jumlah relawan menyusut menjadi 25 orang, kemudian 15 orang, hingga tersisa 3 orang. Pada awal perjuangan tahun 2003, kondisi vegetasi tanaman di bukit tersebut sangat memprihatinkan dan rusak parah. Luas tutupan lahan hijau di kawasan kritis tersebut pada saat itu hanya berkisar 10 persen.

Kondisi bukit yang gundul membuat masyarakat sekitar selalu dicekam rasa takut setiap terjadi hujan deras. Warga khawatir terjadi bencana longsoran batu besar dari atas bukit yang mengancam keselamatan jiwa mereka. Berkat ketekunan Agus Utomo selama 20 tahun, kini tutupan lahan hijau telah berhasil mencapai 90 persen.

Perjuangan panjang ini murni didanai menggunakan uang pribadi dari sisa gaji bulanannya tanpa bantuan pihak lain. Agus Utomo rela hidup dalam kesederhanaan di rumah kecil dan hanya memiliki satu unit sepeda motor. Ia menghabiskan dana ratusan juta rupiah secara mandiri demi menyelamatkan ekosistem alam dari kehancuran.

Ancaman Bencana Longsor dan Dampak Ekonomi Petani

Upaya penyelamatan lahan yang dilakukan sejak tahun 2003 terbukti berhasil mencegah terjadinya bencana longsor besar. Jika kawasan tebing curam tersebut tidak segera ditanami, potensi longsoran batu raksasa akan mengancam pemukiman. Longsoran batu dinilai jauh lebih berbahaya dibandingkan longsor tanah biasa karena dampak kerusakannya fatal.

Kerusakan ekosistem di atas bukit juga memberikan dampak buruk secara langsung terhadap sektor ekonomi para petani. Ketika bukit gundul, debit air hujan yang turun dalam jumlah besar langsung meluncur ke area persawahan. Saluran irigasi warga tidak mampu menampung luapan air sehingga menyebabkan tanggul jalan raya jebol.

Luapan banjir air dan lumpur dari atas perbukitan tersebut memicu terjadinya bencana gagal panen massal. Bagi para petani setempat, peristiwa gagal panen merupakan pukulan ekonomi yang sangat berat dan merugikan. Petani yang menyewa lahan terancam merugi selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan hasil panen sedikit pun.

Kini, Agus Utomo berharap ada perhatian dan keterbukaan hati dari pihak pemerintah daerah setempat terkait pengelolaan. Ia menyatakan siap menyerahkan seluruh aset lahan yang telah dibelinya kepada pihak desa atau pemerintah. Aksi nyata pelestarian ini diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh generasi penerus demi keselamatan warga Tulungagung.

Editor : Natasha Eka Safrina
sejarah gunung api purba warisan geologi Tulungagung joko budheg agus utomo Gunung Budheg Tulungagung