JAKARTA - Gerhana matahari total 12 Agustus 2026 tidak dapat disaksikan secara total dari Indonesia. Fenomena astronomi langka ini akan melintasi sejumlah wilayah, mulai kawasan dekat Kutub Utara, Greenland, Islandia, Semenanjung Iberia, hingga Laut Mediterania.
Gerhana matahari total 12 Agustus 2026 diperkirakan menarik perhatian jutaan pengamat langit dari berbagai negara. Fenomena ini juga menjadi gerhana matahari total pertama yang melintasi daratan utama Spanyol dalam lebih dari satu abad.
Bagi masyarakat Indonesia, gerhana matahari total 12 Agustus 2026 hanya dapat diikuti melalui siaran langsung dari lembaga antariksa internasional. Salah satunya NASA yang akan menayangkan proses gerhana secara daring.
Baca Juga: Tumbuh 5,29 Persen, Kok Terasa Berat?
Jalur Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026
Gerhana matahari total akan dimulai dari kawasan dekat Kutub Utara. Bayangan Bulan kemudian bergerak ke selatan melewati Greenland, Islandia, Semenanjung Iberia, sebelum berakhir di kawasan Laut Mediterania.
Jalur tersebut menentukan wilayah yang dapat menyaksikan fase totalitas. Indonesia berada jauh di luar lintasan sehingga masyarakat Tanah Air tidak dapat melihat Matahari tertutup sepenuhnya oleh Bulan.
Durasi totalitas juga berbeda berdasarkan lokasi pengamatan. Fase gerhana total terlama diperkirakan mencapai 2 menit 18 detik di wilayah lepas pantai barat Islandia.
Sementara itu, fase totalitas di Spanyol berlangsung sekitar satu menit. Posisi Spanyol yang berada mendekati akhir lintasan membuat durasi totalitas di wilayah tersebut lebih singkat.
Gerhana ini diperkirakan menjadi perhatian besar karena lintasannya melewati daratan utama Spanyol. Peristiwa tersebut disebut sebagai yang pertama dalam lebih dari satu abad.
Gerhana Sebagian Bisa Diamati di Banyak Negara
Meski Indonesia tidak berada di jalur totalitas, jutaan penduduk di negara lain tetap berkesempatan menyaksikan gerhana sebagian. Fenomena tersebut dapat terlihat dari Kanada, Amerika Serikat bagian utara, sebagian besar Eropa, Afrika Barat, hingga Siberia.
Tingkat penutupan Matahari oleh Bulan berbeda-beda di setiap wilayah. Dublin diperkirakan mengalami penutupan hingga 94 persen, sedangkan Oslo mencapai sekitar 83 persen.
Di Montreal, penutupan Matahari diperkirakan sekitar 18 persen. Sementara New York hanya sekitar 9 persen, dan wilayah Norfolk, Amerika Serikat, sekitar 2 persen.
Perbedaan persentase tersebut dipengaruhi posisi suatu wilayah terhadap jalur bayangan Bulan. Semakin dekat dengan jalur totalitas, semakin besar bagian Matahari yang tertutup saat gerhana berlangsung.
Ada Tiga Fenomena Langit dalam Satu Hari
Fenomena astronomi pada 12 Agustus 2026 tidak berhenti pada gerhana matahari total. Sebelum fajar, enam planet di tata surya diperkirakan tampak membentuk lengkungan di langit.
Setelah malam tiba, pengamat langit juga berpeluang menikmati puncak hujan meteor Perseid. Fase Bulan baru membuat kondisi langit lebih gelap sehingga meteor berpotensi lebih mudah diamati.
Baca Juga: KIP Digital Tidak Berlaku, Masih Bisakah Diaktifkan? Ini Penyebab dan Solusi Agar PIP Kembali Cair
Namun, pengamatan gerhana tetap harus dilakukan dengan aman. Para ahli mengingatkan masyarakat menggunakan kacamata khusus gerhana karena melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung mata tetap berbahaya.
Hal tersebut berlaku meski hanya sebagian kecil Matahari yang masih terlihat. Peralatan pelindung menjadi bagian penting dalam pengamatan fenomena astronomi tersebut.
Dengan demikian, gerhana matahari total 12 Agustus 2026 memang tidak dapat disaksikan secara total dari Indonesia. Namun, masyarakat masih dapat mengikuti fenomena tersebut melalui siaran langsung, sementara pengamat di wilayah lain dapat menikmati kombinasi gerhana, susunan planet, dan hujan meteor Perseid.
Rangkaian fenomena itu menjadikan 12 Agustus 2026 sebagai salah satu momentum astronomi yang menarik perhatian pengamat langit di berbagai belahan dunia.
source: YouTube/@tvOnenewscom
Editor : Hikmatul Insaniya