JAKARTA - Nogo Dino dikenal dalam kepercayaan Jawa sebagai perhitungan tradisional yang berkaitan dengan arah dan waktu. Dalam narasi video, Nogo Dino atau naga hari digambarkan sebagai pengetahuan kuno untuk menentukan arah yang dianggap terbuka maupun perlu dihindari sebelum seseorang melakukan kegiatan penting.
Narasi tersebut menggambarkan masyarakat Jawa masa lalu yang memandang alam sebagai sumber tanda. Arah matahari terbit, angin, awan, suara hutan, hingga perubahan alam dianggap memiliki makna. Setiap arah dipercaya memiliki energi yang dapat berubah mengikuti waktu.
Dalam kosmologi Jawa yang dijelaskan dalam video, naga bukan sekadar makhluk mitologis. Naga menjadi simbol kekuatan bumi, termasuk gerak air, angin, tanah, serta perubahan energi alam. Tubuh naga digambarkan sangat panjang dan seolah mengelilingi bumi.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu 2027, Guru PPPK Bisa Ikut Seleksi PNS
Pergerakan Naga Menentukan Arah
Menurut narasi video, bagian tubuh naga berpindah arah dari waktu ke waktu. Pada hari tertentu, kepala naga dipercaya berada di satu arah, sedangkan pada hari lainnya ekor atau bagian tubuh lain berada di arah berbeda.
Kepala dan ekor disebut memiliki kekuatan paling besar. Arah yang ditempati kedua bagian tersebut dianggap sebagai arah yang perlu dihindari untuk urusan besar. Sementara bagian tubuh lain seperti punggung, perut, dan sisik juga disebut memiliki makna tersendiri.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Guru PPPK Dapat Kesempatan Jadi PNS
Konsep tersebut membuat arah dalam Nogo Dino tidak sekadar dipahami sebagai petunjuk geografis. Timur, barat, utara, dan selatan disebut dapat memiliki sifat berbeda bergantung pada hari.
Ketika suatu arah dianggap terbuka, energi di wilayah tersebut dipercaya lebih ringan. Sebaliknya, arah yang tertutup naga dianggap memiliki tekanan energi sehingga langkah manusia dipercaya lebih mudah menghadapi gangguan.
Karena itu, masyarakat Jawa dalam narasi tersebut disebut tidak sembarangan menentukan waktu perjalanan. Mereka menunggu hari dan arah yang dianggap baik sebelum melakukan perjalanan jauh atau menjalankan kegiatan penting.
Digunakan untuk Berbagai Keperluan
Nogo Dino disebut dapat digunakan untuk mempertimbangkan berbagai aktivitas. Di antaranya memulai perjalanan jauh, memindahkan barang besar, menanam padi, membuka pintu rumah, merantau, hingga memulai pekerjaan penting.
Pertimbangan arah juga dikaitkan dengan pembangunan bangunan tradisional Jawa. Dalam narasi video, arah pintu, padepokan, hingga lumbung padi disebut turut diperhitungkan berdasarkan posisi naga.
Tujuannya bukan semata-mata karena rasa takut. Narasi tersebut menekankan konsep harmoni antara manusia dan alam. Ketidakseimbangan arah dipercaya dapat membuat langkah seseorang menjadi berat dan menghadirkan berbagai hambatan.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Guru Bakal Berpeluang Jadi Penuh Waktu, Seleksi PNS Dibuka 2027
Perhitungan Nogo Dino juga disebut tidak berdiri sendiri. Para tetua dalam narasi video memperhitungkan hari, pasaran, wuku, fase bulan, arah angin, serta tanda-tanda di langit. Pengetahuan tersebut kemudian banyak diwariskan secara lisan melalui petuah.
Ungkapan seperti larangan pergi ke arah tertentu pada hari tertentu atau anjuran menunggu angin baik disebut sebagai bentuk sederhana dari pengetahuan tersebut.
Masih Dipertahankan Sebagian Masyarakat
Meski zaman berubah, narasi video menyebut sebagian masyarakat Jawa masih memegang Nogo Dino. Namun, hal itu tidak selalu diposisikan sebagai kewajiban, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pengetahuan dan warisan leluhur.
Baca Juga: 1.147 PPPK Paruh Waktu Resmi Jadi Penuh Waktu, BKN Ungkap Statusnya
Nogo Dino pada akhirnya digambarkan sebagai cara pandang yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Manusia diminta memperhatikan waktu, arah, dan keadaan sekitar sebelum mengambil langkah.
Dalam konteks kepercayaan tersebut, naga hari memang tidak terlihat secara fisik. Namun, keberadaannya diyakini melalui simbol pergerakan arah yang berubah dari waktu ke waktu.
Narasi video menutup pembahasan dengan gagasan bahwa arah dalam kosmologi Jawa bukan sekadar utara, selatan, timur, atau barat. Arah dipandang sebagai bagian dari hubungan manusia dengan alam dan kehidupan.
source: YouTube/@rahasia.dunia.channel
Editor : Hikmatul Insaniya