Wiwit Tandur Menurut Jawa, Kenali Hitungan Oyot, Wit, Godong, dan Woh

Hikmatul Insaniya • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:45 WIB
Wiwit tandur menurut Jawa mengenal hitungan oyot, wit, godong, dan woh berdasarkan gabungan hari serta pasaran.
Wiwit tandur menurut Jawa mengenal hitungan oyot, wit, godong, dan woh berdasarkan gabungan hari serta pasaran.

 

JAKARTA - Wiwit tandur menurut Jawa memiliki perhitungan tersendiri sebelum seseorang memulai kegiatan menanam. Dalam tradisi yang dijelaskan Mbah Ji, hari dan pasaran digabung untuk menentukan jenis tanaman berdasarkan hitungan oyot, wit, godong, dan woh.

Perhitungan tersebut menjadi salah satu bagian dari pengetahuan Jawa yang digunakan untuk menentukan waktu menanam. Mbah Ji menjelaskan, empat istilah tersebut masing-masing berkaitan dengan kelompok tanaman tertentu.

Oyot berarti akar. Hitungan ini digunakan untuk tanaman yang menghasilkan umbi, seperti ketela dan kentang.

Baca Juga: Cara Cek Bansos PKH Terbaru lewat HP, Tak Perlu Datang ke Kantor Desa

Kemudian ada wit yang berarti batang atau pohon. Kelompok ini antara lain mencakup tebu, bambu, dan tanaman sejenisnya.

Sementara itu, godong berarti daun. Dalam pembagian tersebut, godong digunakan untuk kelompok sayur-sayuran.

Terakhir adalah woh atau buah. Kelompok ini mencakup tanaman yang menghasilkan buah, termasuk pisang dan kelapa.

Baca Juga: Cara Cek Bansos PKH Terbaru lewat HP, Bisa Tanpa Login

Cara Menghitung

Menurut Mbah Ji, perhitungan wiwit tandur dilakukan dengan menggabungkan hari dan pasaran. Hasil hitungan tersebut kemudian dibagi ke dalam empat kelompok, yakni oyot, wit, godong, dan woh.

Ia memberikan contoh Senin Legi yang memiliki jumlah sembilan. Angka tersebut kemudian dihitung dengan pembagian empat.

Sembilan dibagi empat menghasilkan sisa satu. Sisa tersebut kemudian menunjukkan kelompok oyot.

Dengan demikian, hitungan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan jenis tanaman yang dianggap sesuai dalam perhitungan tradisional tersebut.

Mbah Ji menyebut cara itu sudah digunakan sejak zaman dahulu. Menurutnya, masyarakat Jawa pada masa lalu terbiasa memperhitungkan sesuatu sebelum melangkah.

Perhitungan tidak hanya diterapkan untuk kegiatan bercocok tanam. Dalam percakapan tersebut, ia juga menjelaskan adanya perhitungan terkait hari, arah, serta konsep naga dina dan naga sasi.

Baca Juga: Cara Cek Bansos 2026 lewat HP Android, Bisa Tanpa Login

Ada Perhitungan Arah

Selain hitungan oyot, wit, godong, dan woh, tradisi Jawa yang dibahas juga mengenal perhitungan arah. Salah satunya adalah guru dina.

Guru dina digunakan untuk menentukan arah berdasarkan jumlah dari hari dan pasaran. Mbah Ji memberikan contoh Senin Legi dengan jumlah sembilan.

Dalam pembagian yang dijelaskan, angka sembilan menunjukkan arah timur. Sementara angka tujuh disebut berada di barat dan angka delapan hingga seterusnya memiliki posisi masing-masing dalam urutan perhitungan tersebut.

Baca Juga: Cara Cek Bansos Lewat HP, Bisa Pakai NIK KTP dan Tanpa Datang ke Kantor Desa

Selain guru dina, terdapat pula pembagian arah berdasarkan pasaran. Kliwon berada di tengah, Legi di timur, Pahing di selatan, Pon di barat, sedangkan Wage berada di utara.

Mbah Ji juga menjelaskan mengenai naga tahun. Menurutnya, posisi naga tahun berubah berdasarkan bulan dalam penanggalan Jawa.

Suro, Sapar, dan Mulud disebut berada di timur laut. Bakda Mulud, Jumadil Awal, serta Jumadil Akhir berada di tenggara. Rejeb, Ruwah, dan Poso berada di barat daya. Sedangkan Syawal, Selo, dan Besar berada di barat laut.

Ia menyebut pembagian tersebut sebagai pakem atau aturan yang sudah baku dalam perhitungan yang dijelaskannya.

Wiwit tandur menurut Jawa dalam pembahasan ini menunjukkan bagaimana kegiatan bercocok tanam dahulu tidak hanya dilakukan berdasarkan kesiapan lahan dan tanaman. Hari, pasaran, serta pembagian oyot, wit, godong, dan woh turut menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan.

source: YouTube/@ViperKediri

Editor : Hikmatul Insaniya
hari pasaran Perhitungan Jawa Wiwit Tandur Menurut Jawa Oyot Wit Godong Woh Tradisi Jawa