KENDAL - Sangkan paraning dumadi menjadi salah satu pesan utama dalam kajian tentang kehidupan manusia dan hubungan dengan leluhur. Ungkapan Jawa tersebut dijelaskan sebagai pengingat agar manusia tidak melupakan dari mana dirinya berasal dan ke mana akhirnya akan kembali.
Dalam pemaparan tersebut, manusia digambarkan sebagai bagian dari perjalanan panjang antargenerasi. Kehidupan seseorang tidak berdiri sendiri karena keberadaannya berkaitan dengan orang tua, kakek, nenek, hingga leluhur yang hidup jauh sebelum dirinya lahir.
Narasumber mengajak masyarakat melihat kembali hubungan tersebut. Ia mencontohkan bahwa seseorang bisa mewarisi berbagai hal dari orang tua dan leluhur, mulai dari bentuk fisik hingga karakter yang ada dalam keluarga.
Baca Juga: BPNT Tahap Ketiga Cair di KKS BNI, Saldo Rp600 Ribu Mulai Masuk
Karena itu, manusia dinilai tidak seharusnya melupakan masa lalu.
Manusia dan Jejak Leluhur
Dalam penjelasannya, narasumber menyebut setiap orang memiliki rangkaian leluhur yang sangat panjang. Satu orang berasal dari dua orang tua. Dua orang tua memiliki empat kakek dan nenek. Jumlah tersebut kemudian terus berkembang pada generasi sebelumnya.
Rangkaian itu membuat seseorang memiliki banyak leluhur yang secara biologis menjadi bagian dari perjalanan keluarganya.
Baca Juga: BPNT Tahap 3 Cair Rp600 Ribu di KKS BNI, Ini Daerah yang Melaporkan
Narasumber kemudian mengaitkannya dengan pentingnya doa kepada orang-orang yang telah mendahului. Ia menyebut generasi yang masih hidup memiliki kewajiban untuk tetap mendoakan leluhur.
Pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang yang sudah dewasa. Anak-anak juga dianggap perlu diperkenalkan dengan kebiasaan tersebut agar tidak terputus ketika mereka menjadi generasi berikutnya.
Menurutnya, jika tradisi mendoakan leluhur hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengenal langsung sosok yang meninggal, kebiasaan itu bisa berhenti ketika generasi berganti.
Karena itu, kegiatan yang dilakukan secara rutin dinilai dapat membantu meneruskan ingatan tersebut.
Belajar dari Masa Lalu
Ungkapan sangkan paraning dumadi juga disampaikan sebagai cara untuk melihat perjalanan hidup manusia secara utuh. Manusia lahir, tumbuh, menjalani kehidupan, kemudian meninggal.
Dalam konteks tersebut, narasumber menggunakan tembang Jawa untuk menjelaskan tahapan kehidupan manusia. Tembang dianggap menjadi salah satu media masyarakat Jawa terdahulu dalam menyampaikan nasihat.
Baca Juga: PPPK 2026 Makin Selektif, Formasi Tak Lagi Dibuka Besar-besaran
Pesan yang disampaikan bukan hanya mengenai kematian. Ada pula ajaran mengenai bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan ketika masih diberi kesempatan.
Salah satunya adalah kewajiban memberikan manfaat kepada orang lain. Narasumber menyampaikan bahwa seseorang yang memiliki ilmu dapat membagikan ilmunya. Orang yang memiliki harta dapat menggunakan hartanya untuk membantu. Sementara orang yang memiliki tenaga dapat menggunakan tenaganya untuk kebaikan.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya dipahami sebagai perjalanan untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Baca Juga: Seleksi PPPK 2026 Bakal Makin Ketat, Kebijakan Zero Growth Jadi Penentu
Ada tanggung jawab sosial yang menyertai kehidupan manusia. Pada tahap tertentu, seseorang diharapkan mampu memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar.
Mengingat Asal dan Tujuan
Pesan sangkan paraning dumadi kemudian kembali dikaitkan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam pemaparannya, perjalanan manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.
Karena itu, mengingat masa lalu bukan berarti berhenti pada nostalgia. Masa lalu menjadi bagian untuk memahami keberadaan manusia saat ini.
Narasumber juga mengaitkan pentingnya napak tilas dalam tradisi Islam. Ia menyebut sejumlah perjalanan dalam ibadah haji dan umrah memiliki hubungan dengan sejarah Nabi Ibrahim dan tokoh-tokoh terdahulu.
Pesan tersebut menjadi penutup penting dalam kajian: manusia perlu mengetahui jejak yang membentuk kehidupannya agar tidak kehilangan arah.
source: YouTube/@kedatonpikatan
Editor : Hikmatul Insaniya