KENDAL - Bahasa Jawa menjadi salah satu sorotan dalam kajian yang membahas tradisi dan kehidupan masyarakat Jawa. Narasumber menilai banyak istilah Jawa lama yang mulai tidak dipahami generasi sekarang, termasuk danyang, dang hyang, punden, wangsul, dan kondur.
Menurutnya, perubahan penggunaan bahasa membuat sejumlah istilah Jawa mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat. Salah satu contoh yang disorot adalah istilah danyang.
Narasumber mengkritik anggapan yang langsung mengartikan danyang sebagai demit. Dalam penjelasannya, istilah tersebut memiliki konteks bahasa Jawa yang berkaitan dengan sosok yang dituakan atau leluhur.
Baca Juga: Judul: BPNT Tahap Ketiga Cair di KKS BNI, Saldo Rp600 Ribu Mulai Masuk
Ia juga menjelaskan istilah dang hyang yang berkaitan dengan sosok tua atau yang dituakan.
Istilah Jawa dan Pergeseran Makna
Dalam kajian tersebut, narasumber memberikan contoh sejumlah kata yang menurutnya mulai jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Kata “kondur” dan “wangsul”, misalnya, disebut memiliki penggunaan yang berbeda sesuai konteks pembicaraan. Ia mencontohkan bagaimana seseorang menggunakan istilah tertentu ketika berbicara kepada orang lain.
Baca Juga: OJK Kediri dan Pemkab Trenggalek Dorong Budaya Menabung Pelajar lewat Program KEJAR dan Sangu Sampah
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai kosakata. Bahasa juga menyimpan cara pandang dan budaya masyarakat yang menggunakannya.
Ketika sebuah istilah tidak lagi dipahami, konteks budaya di balik istilah tersebut berpotensi ikut hilang.
Narasumber kemudian mengaitkan persoalan itu dengan pemahaman masyarakat terhadap tradisi lama. Ia menilai sesuatu yang berasal dari masa lalu tidak semestinya langsung dianggap buruk hanya karena tidak lagi dipahami.
Tradisi Lama dan Ajaran Islam
Pembahasan bahasa kemudian berkembang pada hubungan antara tradisi Jawa dan Islam.
Narasumber menyampaikan bahwa sejumlah praktik yang dikenal masyarakat sebenarnya telah ada sebelum Islam datang. Setelah Islam berkembang, praktik tersebut kemudian diarahkan atau ditempatkan dalam konteks keagamaan yang berbeda.
Ia mencontohkan gerakan rukuk dan sujud yang menurutnya sudah dikenal sebelum Islam. Namun dalam Islam, gerakan tersebut diarahkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Baca Juga: BPNT Tahap Ketiga Cair Malam Ini di KKS BNI, Saldo Rp600 Ribu Masuk
Dari penjelasan itu, narasumber mengajak masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap tradisi hanya berdasarkan istilah yang digunakan.
Menurutnya, diperlukan pemahaman terhadap sejarah, bahasa, dan konteks sebelum menyimpulkan makna sebuah tradisi.
Pentingnya Memahami Bahasa Leluhur
Narasumber juga menyoroti perubahan sapaan dalam kehidupan sehari-hari. Istilah seperti lik, pak, atau bentuk sapaan Jawa lainnya disebut semakin jarang digunakan karena masyarakat kini lebih banyak menggunakan sebutan seperti om dan tante.
Perubahan tersebut disebut sebagai salah satu contoh bagaimana bahasa Jawa mengalami pergeseran dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi narasumber, memahami bahasa Jawa lama menjadi bagian penting untuk memahami warisan budaya. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga menyimpan pengetahuan mengenai cara masyarakat terdahulu melihat kehidupan.
Ia juga mengingatkan agar generasi sekarang tidak mudah menyebut tradisi lama sebagai sesuatu yang salah hanya karena tidak mengetahui maknanya.
Menurutnya, tradisi perlu dipelajari sebelum dinilai.
Kajian tersebut pada akhirnya mengarah pada satu pesan: generasi sekarang perlu mengenal kembali bahasa dan istilah Jawa agar tidak kehilangan konteks budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Dengan memahami istilah seperti danyang, dang hyang, punden, dan berbagai kosakata Jawa lainnya, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal kata, tetapi juga memahami latar belakang budaya yang menyertainya.
source: YouTube/@kedatonpikatan
Editor : Hikmatul Insaniya