JAKARTA - Tsunami menerjang kawasan permukiman hingga membuat warga berlarian menyelamatkan diri. Dalam rekaman video, warga menceritakan air laut sempat surut sebelum kembali datang dengan deras dan menyapu rumah-rumah di sekitar lokasi.
Kondisi setelah kejadian terlihat cukup parah. Warga menunjukkan sejumlah bagian permukiman yang disebut sudah rata. Bahkan, beberapa rumah yang sebelumnya berdiri dikatakan telah hilang setelah diterjang air.
Suasana dalam rekaman berlangsung penuh kepanikan. Warga berulang kali mengucapkan takbir dan kalimat tauhid sembari memperingatkan orang-orang di sekitar agar tidak menuju kawasan yang dinilai berbahaya.
Baca Juga: Kawasaki W175 Injeksi 2026, Kini Lebih Modern dan Sudah ABS
Warga Panik Saat Air Kembali Naik
Salah seorang warga menceritakan perubahan kondisi air sebelum tsunami menerjang permukiman. Menurut kesaksiannya, air laut terlebih dahulu surut. Setelah itu, air kembali naik dengan cepat.
“Setelah air surut, air pasang itu mendidih. Nah, itu berkejaran dengan air,” ujar warga dalam rekaman.
Kondisi tersebut membuat warga tidak sempat memperkirakan ketinggian air secara pasti. Kepanikan membuat mereka langsung mengambil keputusan untuk berlari menyelamatkan diri.
“Tinggi airnya kita tidak bisa mengukur karena kita semua pada panik. Lari,” kata warga lainnya.
Dalam situasi tersebut, warga berusaha mencari arah untuk menjauh dari sapuan air. Mereka menyebut tidak berlari lurus, melainkan memilih bergerak melintang.
Air laut kemudian disebut menyapu rumah dari bagian belakang. Warga memperlihatkan kawasan yang terdampak dan menyebut sejumlah bangunan sudah mengalami kerusakan parah.
“Rumah rata. Di dalam ini, rumah rata,” ujar seorang warga.
Dalam rekaman lainnya, warga memperkirakan air yang menerjang memiliki ketinggian sekitar dua meter. Namun, angka tersebut merupakan kesaksian warga dan bukan hasil pengukuran resmi.
Rumah dan Barang Kebutuhan Hilang
Tsunami juga membuat warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang milik mereka. Salah seorang warga menggambarkan dirinya hanya berhasil keluar dengan pakaian yang dikenakan.
“Baju di badan,” katanya.
Setelah air menerjang, kondisi permukiman berubah. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal warga disebut sudah tidak ada. Barang-barang di dalam rumah juga ikut hilang atau rusak.
Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam rekaman, seorang warga menyebut makanan dan bahan pokok sudah tidak tersedia.
“Mie satu bungkusnya tidak. Beras satu biji pun tidak ada,” ucapnya.
Warga kemudian mempertanyakan kondisi masyarakat setelah bencana. Mereka mengaku tidak tahu harus menuju ke mana setelah rumah dan barang-barang mereka terdampak.
Kesaksian itu menunjukkan kepanikan warga tidak berhenti ketika air mulai surut. Mereka harus menghadapi kondisi permukiman yang berubah serta kebutuhan dasar yang tidak lagi tersedia.
Baca Juga: Gempa Manggarai M5,6 Guncang Flores, Pengungsi Panik Keluar Tenda Bersama Bayi
Warga Soroti Sistem Peringatan
Selain kerusakan akibat tsunami, warga dalam video juga menyoroti persoalan informasi dan arahan evakuasi. Salah seorang warga mengaku masyarakat tidak mendapatkan pengarahan dari pemerintah setempat mengenai langkah yang harus dilakukan ketika kondisi darurat terjadi.
“Saya sangat menyesal dengan pemerintah setempat karena kita tidak pernah mereka arahkan,” katanya.
Warga tersebut menilai pengeras suara bisa menjadi sarana penting untuk menyampaikan peringatan kepada masyarakat. Menurut dia, perangkat tersebut tidak harus bergantung pada listrik karena dapat menggunakan baterai.
“Kalau ngafon ini tidak perlu pakai aliran meteran. Dia pakai baterainya sudah bisa,” ujarnya.
Menurut kesaksian dalam video, masyarakat membutuhkan arahan mengenai tempat yang aman serta jalur yang harus digunakan ketika harus meninggalkan permukiman. Saat air datang, warga mengaku hanya berusaha menjauh dari kawasan pesisir.
Rekaman kemudian memperlihatkan kembali kondisi rumah yang disebut sudah hilang. Warga juga berharap ada bantuan bagi masyarakat yang terdampak karena kebutuhan sehari-hari mereka ikut tersapu air.
Namun, transkrip video tidak menjelaskan lokasi pasti kejadian maupun waktu terjadinya tsunami. Tidak ada pula keterangan mengenai jumlah korban, jumlah rumah yang rusak, maupun nilai kerugian material.
Karena itu, informasi mengenai dampak keseluruhan tsunami dalam berita ini masih terbatas pada kesaksian warga yang terekam dalam video. Data mengenai korban dan kerusakan bangunan tetap membutuhkan verifikasi dari pihak berwenang.
Editor : Maylanni Diana Fitri
Sumber : Official iNews