Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dyan Pranata, Musisi Keyboard Tunggal Serta Pembuat Lagu

Anggi Septian Andika Putra • Jumat, 6 Juli 2018 | 17:26 WIB
dyan-pranata-musisi-keyboard-tunggal-serta-pembuat-lagu
dyan-pranata-musisi-keyboard-tunggal-serta-pembuat-lagu

Dunia musik sudah tidak asing bagi Dyan Pranata. Warga Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol, itu sudah cukup lama menekuni musik. Selain bermain keyboard tunggal, ternyata dia memiliki bakat membuat lagu. Terbukti sudah puluhan lagu karyanya dan telah masuk dapur rekaman.


WHENDY GIGIH PERKASA


Keseriusan Dyan Pranata dalam menekuni musik berbuah manis. Dia sudah berhasil masuk dapur rekaman hingga karyanya diakui dan bisa diterima masyarakat. Itu tidak lepas dari hobinya yang juga bermain musik.


Saat diwawancara, Dyan mengaku sudah sejak 1997 memutuskan menggeluti musik. Pada 2000, sebenarnya sudah mulai mencipta lagu. Namun baru terealisasi sekitar lima tahun terakhir. Sejak saat itu hingga sekarang, sudah ada sekitar 70 lagu karyanya.


“Saya menekuni dunia ini (musik, Red). Selain hobi, juga ingin menghibur banyak orang,” ungkapnya.


Pria ramah itu mengaku, lagu karyanya berniat mengabarkan kota kelahirannya yakni Tulungagung. Itu juga tidak lepas dari kampung halaman yang termasuk pedesaan. Dia juga tidak terlalu memaksa masyarakat suka dengan lagunya.


“Saya seniman ndeso terima hidup di desa. Hasil karya yang juga ndeso menjadi koleksi pribadi dan syukur bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.


Lagu ciptaan Dyan mengangkat budaya asli Tulungagung. Karena itulah, lirik yang dipakai juga lebih banyak menggunakan bahasa Tulungagung.


Ada beberapa lagu yang cukup dikenal dari karyanya. Di antaranya Tebing Asmoro, Tulungagung Pancen Agung, Disekseni Gunung Budheg, Terminal Gayatri, Ndasku Mumet Ndasmu Piye, Joko Tuo, Cemara Sewu, dan masih banyak lagi.


Tahun ini, lagu barunya dipakai oleh grup musik dan rumah produksi record lain. Ada sekitar enam lagu baru yang dipakai. Di antaranya berjudul Cemoro Sewu, Runtuh, Preman Kampung, Rondhone Konco, dan lain sebagainya.


Sebagai seorang musisi, dia tidak menampik pernah mengalami masa sulit. Misalnya ditolak perusahaan rekaman dan kendala biaya. Salah satu cara untuk mengatasi yakni dengan memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memperkenalkan karyanya.


Jenis musik yang dianut all rounds.


Namun ada beberapa yang sering digarap yakni campursari dangdut, jaranan dangdut, dan lain sebagainya.


Pria yang juga akrab disapa Harry Clonthong itu mengaku, membuat lagu tidaklah sulit. Salah satu syaratnya ada mood atau niat.


Untuk memunculkan inspirasi, biasanya dengan memancing ikan. Saat itulah lebih banyak ide yang diperoleh. Selain itu juga terinspirasi dari kejadian kisah nyata dalam kehidupan sehari hari. Hal yang paling sulit justru memasarkan lagu dan diterima masyarakat.


Untuk pembuatan satu lagu, dia tidak bisa memperkirakan butuh waktu berapa lama. Sebab selain membuat lirik, juga harus melalui proses aransemen. Karena itulah, satu lagu terkadang bisa satu kali jadi. Namun tidak jarang harus beberapa kali ada perubahan.


“Prosesnya panjang, bolak-balik studio bisa 10 kali,” ujar bapak dua anak ini.


Hingga saat ini, dia sudah pernah tampil di berbagai acara termasuk hingga luar daerah. Di antaranya Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Blitar, dan daerah lain di Jawa Timur.


Album pertamanya yang dijual dalam bentuk VCD mampu terjual 5.000 keping. Itu pun masih banyak permintaan untuk cetak lagi.


Dia berharap, karyanya bisa diterima masyarakat secara positif. Selain itu, ada perhatian dari pemerintah terhadap putra daerah yang berbakat.


“Pokoknya bikin lagu itu enjoy,” pungkasnya. (*/ed/din)

Editor : Anggi Septian Andika Putra