Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terbiasa Hidup Enak, Pemandu Lagu : Cari Kerja Lain Susah

Didin Cahya Firmansyah • Minggu, 13 Januari 2019 | 00:01 WIB
terbiasa-hidup-enak-pemandu-lagu-cari-kerja-lain-susah
terbiasa-hidup-enak-pemandu-lagu-cari-kerja-lain-susah

BLITAR KOTA – Penutupan karaoke di Kota Blitar beberapa waktu lalu berimbas pada LC alias pemandu lagu. Brenda (nama samara) dan teman-teman seprofesinya merasa bingung. Tempat mencari nafkahnya masih dievaluasi oleh pihak pemerintah. Mereka harus berhenti bekerja dan tidak mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup.


Agar bisa mendapat uang untuk biaya hidup, Brenda dan teman-temannya yang lain memilih mencari alias “banting setir” ke tempat lain. “Sekarang mungkin freelance di luar kota dulu sambil menunggu proses evaluasi tempat kerja selesai,” ungkap Brenda.


Pascapenutupan itu, otomatis penghasilannya menurun. Hanya sekitar Rp 200 ribu per jam. Untuk mendapatkannya pun susah. Harus bolak-balik ke luar daerah. Misalnya Blitar ke Tulungagung atau pun tempat lain. Di Tulungagung misalnya, sejumlah karaoke tetap buka atau beroperasi. Belum lagi ongkos untuk di jalan, membeli makan, dan bensin.


Brenda mengatakan, pekerjaan itu dia lakukan karena cari lowongan kerja sekarang juga susah-susah gampang. Apalagi di Blitar kalau cuma mengandalkan kerja di toko atau di kafe biasa gaji cuma sedikit. Tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup.


“Mungkin jika ada pekerjaan yang lebih baik dan gaji lumayan, saya mau kerja lainnya. Kasihan juga karyawan yang lain. Kini mereka mungkin sedang menunggu lapangan kerja baru,” katanya.



Dia pun tidak menampik pernah berpikir untuk berhenti menjadi pemandu lagu. Namun karena sulit mencari pekerjaan, tidak ada pilihan lain. Terlebih kebanyakan pemandu lagu sudah terbiasa hidup enak. “Kalau harus kerja yang lain mungkin masih mikir,” imbuhnya.


Dia pun berharap, permasalahan yang kini terjadi yakni penutupan tempat karaoke, segera berakhir. Tentu saja semoga bisa buka kembali.


Seperti diberitakan sebelumnya pemandu lagu menceritakan keluh kesahnya. Pasca karaoke ditutup, paling banter Brenda hanya mengantongi uang Rp 350 ribu. Padahal sebelumnya dia dalam sehari rata-rata bisa mengantongi Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Editor : Didin Cahya Firmansyah