SANANWETAN, Radar Blitar - Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar kembali mementaskan drama kolosal PETA. Pementasan drama kolosal itu dalam rangka memperingati hari Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) Ke-75 yang jatuh pada 14 Februari.
Plt Wali Kota Blitar Santoso membuka langsung pentas drama kolosal yang dipusatkan di kompleks Monumen PETA. Hadir sejumlah pejabat lingkup Pemkot Blitar, para kepala OPD, camat, Lurah, para veteran, dan keluarga Sudanco Supriadi.
Meski diguyur hujan gerimis, pementasan tetap berlangsung tertib dan lancar. Drama kolosal PETA kali ini mengangkat tema "Senopati Palagan PETA Blitar".
Plt Wali Kota Blitar Santoso mengungkapkan, drama kolosal PETA merupakan agenda rutin Pemkot Blitar setiap tahun. Pementasan drama kolosal ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan para tentara PETA. "Hari Peringatan Pemberontakan PETA pada 14 Februari ini sangat sarat nilai historis. Bukan peringatan-peringatan budaya lainnya," katanya.
Drama kolosal ini, jelas dia, juga sebagai bahan renungan bagi para generasi muda. Bagaimana tentara PETA yang berjuang begitu keras untuk merebut kemerdekaan RI. "Melalui drama kolosal ini, generasi muda bisa mengambil nilai positif dari semangat nasionalisme para pejuang. Ini merupakan nilai positif yang harus kita dan jadikan modal dalam mengisi kemerdekaan," terang pria ramah ini.
Drama kolosal tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan Sudanco Supriyadi dan kawan-kawannya dalam menghabisi para tentara Jepang. Selama menjajah di Indonesia tentara Jepang telah menindas warga serta kaum perempuan telah dijadikan budak nafsu.
Menurut dia, sudah semestinya pemberontakan PETA disejajarkan dengan pertempuran-pertempuran bersejarah dan monumental lainnya. "Yakni seperti pertempuran Surabaya 10 November 1945, pertempuran 5 hari di Semarang, Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api dan Puputan Margarana," jelasnya.
Maka dari itu, kepada generasi muda penerus perjuangan bangsa, harus meneladani peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Semoga perjuangan PETA yang digambarkan dalam drama kolosal tersebut bisa menjadi inspirasi dan motivasi.
Editor : Didin Cahya Firmansyah