Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hentikan Proses Pembakaran

Anggi Septian Andika Putra • Jumat, 20 November 2020 | 15:42 WIB
hentikan-proses-pembakaran
hentikan-proses-pembakaran

Luka bakar dalam dunia medis dikenal dengan istilah thermal trauma. Tenaga medis sedikit banyak sudah dibekali dengan ilmu untuk menangani trauma tersebut. Salah satunya Perawat Anastesi Ahli Madya RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, Aris Totok Rudianto, S. Kep. Ns. Dia salah seorang yang sudah ahli menangani luka bakar.


Menurut dia, ada dua kategori luka bakar. Yakni suhu panas dan suhu dingin. Keduanya bisa menyebabkan thermal trauma. Penanganan luka bakar suhu panas ataupun luka bakar akibat kimia, yakni  segera bersihkan zat kimia dan rawat luka-luka. Jika ada serbuk kimia yang masih menempel, sikat untuk menghilangkannya. Selanjutnya siram zat kimia dengan air mengalir selama 20-30 memit. “Jangan gunakan zat penawar kimia,” ujar Aris.


Ada beberapa prosedur membersihkan zat kimia. Di antaranya gunakan alat pelindung diri, lepaskan semua pakaian pasien, dan siram bahan kimia dari tubuh pasien dengan air mengalir. Jika bahan kimia berbentuk serbuk kering, bersihkan dengan cara disikat sebelum disiram air atau irigasi. Lepaskan semua benda yang menempel.


Ada juga luka bakar disebabkan panas dari energi listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Ini ada beberapa tipe. Di antaranya, luka bakar listrik akibat kontak langsung, dan akibat percikan atau lompatan bunga api listrik. Untuk penanganannya, matikan sumber listrik, gunakan isolator atau benda yang buruk menghantarkan panas, dan pasang monitor EKG. Luka bakar juga bisa disebabkan paparan sumber radio aktif. Ini juga disebut luka bakar radiasi.


Dikatakan Aris, kedalaman luka bakar juga bisa menjadi penentu penanganan. Ada tiga jenis kedalaman luka bakar. Di antaranya superficial thickness (derajat I). Cirinya, hanya mengenai lapisan epidermis, luka tampak pink cerah sampai merah, kulit pucat saat ditekan, edema minimal, tidak ada blister (luka lepuh).


Kedalaman luka bakar kedua, yakni partial thickness (derajat II). Ini dikelompokkan menjadi dua. Yakni partial thickness dan deep partial thickness. Cirinya, mengenai epidermis dan dermis, luka tampak merah sampai pink, terbentuk blister, dan edema.


Kedalaman ke tiga yakni full thickness (derajat III). Cirinya, mengenai seluruh lapisan kulit, tanpa ada blister, edema, sedikit nyeri atau bahkan tidak terasa, butuh skin graft, dapat terjadi secara hipertropik dan kontraktur jika tidak dilakukan tindakan preventif.


Terkait luas luka bakar, Aris mengatakan sudah ada pembagian. Di antaranya kepala bagian depan dan belakang sembilan persen, dada depan dan punggung sampai bawah masing-masing 18 persen. Lengan kanan dan kiri masing-masing sembilan persen. Jari-jari tangan satu persen. Kaki kanan dan kiri masing-masing 18 persen. Sedangkan untuk anak-anak, kepala depan belakang 18 persen, dada dan punggung masing-masing 18 persen, lengan kanan dan kiri masing-masing sembilan persen, dan kaki 13,5 persen.


Cedera yang cukup berbahaya akibat kebakaran, yakni inhalasi. Itu merupakan cedera saluran nafas yang sering menjadi penyebab kematian korban kebakaran. Kondisi ini umumnya karena orang terjebak dalam kebakaran di ruang tertutup. Asap dalam jumlah besar masuk ke dalam saluran nafas.


Tanda cedera inhalasi, di antaranya luka bakar pada wajah ataupun leher, alis dan bulu hidung hangus, adanya timbunan karbon dan tanda peradagangan akut orofaring. Ciri lain yakni sputum atau lendir mengandung karbon atau arang, suara serak, riwayat gangguan mengunyah atau terkurung dalam api, luka bakar kepala dan badan akibat ledakan, dan kadar karboksihemoglobin lebih dari 10 persen setelah terbakar.


Nah, untuk luka bakar suhu dingin ada beberapa jenis. Yakni frostnip, frostbite, dan non freezing injury. Frostnip merupakan bentuk paling ringan trauma dingin. Ini ditandai dengan nyeri, pucat, dan kesemutan pada area yang terkena, misalnya pada daun telinga.


Frostbite merupakan pembekuan jaringan yang diakibatkan pembekuan kristal es intraseluler dan bendungan mikrovaskuler, sehingga terjadi anoksia jaringan. Derajat frostbite dibagi menjadi empat tingkatan.


Non freezing injury. Yakni udara basah atau dingin secara terus menerus yang suhunya melebihi titik beku. Yakni antara 1,6 hingga 10 derajat selsius.


Penanganan luka bakar suhu dingin, di antaranya mengganti baju basah dengan selimut hangat, jika pasien bisa minum berilah air hangat. Cara berikutnya, rendam bagian tubuh yang cedera dalam air hangat yang berputar sampai warna kulit kembali normal “Biasanya ini butuh waktu 20-30 menit,” jelas Aris.


Penanganan lain yakni hindari penggunaan udara kering yang panas, jangan digosok ataupun diurut, beri analgetik karena tindakan pemanasan bisa menimbulkan nyeri, dan pasang monitor jantung.


Aris melanjutkan, ada beberapa hal yang mempengaruhi tingkat keparahan luka bakar. Di antaranya kedalaman luka, luas luka, lokasi di bagian tubuh, kondisi kesehatan pasien, mekanisme injury, dan usia. (*)

Editor : Anggi Septian Andika Putra