KEPANJENKIDUL, Radar Blitar - Kendati dalam sepekan terakhir tidak terjadi cuaca ekstrem seperti hujan deras disertai angin kencang di wilayah Blitar, masyarakat diimbau untuk tetap mewasadai bencana hidrometerologi. Sebab, diprediksi anomali cuaca masih akan berlangsung hingga bulan April mendatang.
Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Daerah (Bakesbangpol dan PBD) Kota Blitar Yudha Budiono mengatakan, kondisi cuaca di wilayah Blitar pada pekan ini memang tidak seekstrem jika dibandingkan dengan awal bulan Februari dimana sering terjadi hujan deras disertai angin kencang.
Terkait hal tersebut, Yudha mengimbau, agar masyarakat tidak lengah. Sebab, hal itu justru merupakan salah satu indikasi terjadinya anomali cuaca yang masih terjadi di wilayah Blitar. "Itu salah satu bentuk daripada anomali cuaca. Memang kondisi saat inu kadang ekstrim, kadang normal. Oleh karena itu, kita tetap antisipasi bencana," ujar Yudha.
Adapun bencana yang perlu diwaspadai oleh masyarakat adalah bencana hidrometeorologi. Yaitu jenis bencana yang berhubungan dengan kondisi permukaan bumi seperti bencana banjir, tanah longsor hingga puting beliung yang dapat mengakibatkan bencana susulan seperti pohon tumbang.
Dia menambahkan, diperkirakan anomali cuaca masih akan terjadi hingga bulan Maret mendatang walaupun berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), diprediksi puncak musim penghujan penghujan bakal berakhir pada bulan Februari.
"Sebenarnya dapat dipetakan. Bencana hidrometeorlogi itu terjadi antara bulan Oktober hingga April karena itu adalah musim penghujan. Sedangkan Bulan April hingga Oktober itu rawan bencana kekeringan karena saat itu terjadi musim kemarau," lanjutnya.
Hal yang biasa terjadi pada saat anomali cuaca adalah perubahan suhu, tekanan angin dan cuaca secara mendadak seperti yang terjadi di Kota Blitar pada pekan lalu dimana kondisi siang hari terasa terik namun seketika berubah menjadi hujan deras begitu memasuki sore hari. "Siangnya panas. Ternyata sore sudah mulai mendung. Karena terbawa angin, bisa juga tiba-tiba hujan deras. Oleh karena itu kita tetap siagakan relawan," jelasnya.
Kendati demikian, Yudha mengaku jika deteksi titik rawan bencana di wilayah Kota Blitar cukup sulit dipetakan. Sebab, hampir seluruh wilayah kota masuk ke dalam daerah rawan bencana hidrometeorologi. "Kita tidak mungkin mendeteksi daerah mana yang akan terdampak. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan kewasadaan masyarakat itu kita dorong. Termasuk kita kembangkan kelurahan tanggap bencana di 21 titik kelurahan," pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq