Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sering Kesemutan, Waspadai Ada Kerusakan Saraf

Anggi Septian Andika Putra • Jumat, 19 Februari 2021 | 16:37 WIB
sering-kesemutan-waspadai-ada-kerusakan-saraf
sering-kesemutan-waspadai-ada-kerusakan-saraf

Dalam tubuh manusia, terdapat susunan saraf. Fungsi saraf paling utama, yakni menerima, mengolah, dan menyampaikan rangsangan dari seluruh organ. Karena itulah, saraf punya peran penting. Ketika rusak, tentu organ tubuh mengalami masalah.


 


Nah, salah satu hal sederhana yang bisa menjadi penanda adanya gangguan saraf, yakni sering kesemutan alias gringgingen. Tentu semua orang pernah mengalaminya. Misalnya, kesemutan pada tangan karena terlalu lama berkendara motor. Ada juga kesemutan pada kaki karena terlalu lama duduk bersila.


Kesemutan tersebut terjadi karena saraf yang tertekan dalam waktu tertentu. Setelah tekanan hilang, kesemutan bakal hilang dengan sendirinya. Namun itu tidak langsung, tapi secara perlahan.


Jika terlalu sering kesemutan, bisa saja menjadi gejalan adanya gangguan saraf. Biasanya ini dialami orang yang sudah berusia lanjut. Salah satunya Suwandi. Pria berusia 70 tahun itu mengaku kerap merasakan kesemutan pada tangan kanannya. Padahal, dia sudah tak terlalu banyak bekerja berat. “Paling hanya menyapu lantai rumah. Itu tak lama. Tapi kok terasa gringgingen,” ungkapnya.


Dia juga merasa heran, ketika kakinya terasa kesemutan dengan frekuensi cukup sering. Penyebabnya juga sepele, misalnya hanya karena duduk dengan posisi kaki ke bawah. “Karena sering, jadi terganggu untuk aktivitas. Kalau saya hanya diam, badan rasanya juga tidak enak,” jelasnya.


Hal serupa juga dialami Sutini. Wanita berjilbab itu paling sering merasakan kesemutan pada tangan kirinya. Terlebih ketika dirinya mengendarai motor maupun bersepeda. Saat dipakai memegang stir dalam waktu tertentu, langsung terasa kesemutan. “Padahal jaraknya belum jauh,” ujarnya.


Dia sempat periksa ke dokter beberapa tahun lalu. Hasilnya, kesemutan berkurang. Tapi setelah beberapa bulan, kembali lagi. Frekuensinya lebih sering dibanding sebelumnya. “Mungkin karena usia juga ya. Ke depan saya ingin periksa ke rumah sakit dengan pelayanan yang lebih lengkap,” jelas wanita berusia 65 tahun itu. (*) 

Editor : Anggi Septian Andika Putra