KEPANJENKIDUL, Radar Blitar - Kendati puncak musim penghujan diprediksi berakhir pada Maret ini, masyarakat Blitar harus tetap mewaspadai potensi bencana yang masih mungkin terjadi. Sebab, hal ini merupakan indikasi adanya masa peralihan musim atau biasa disebut musim pancaroba.
Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Bencana Daerah Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Daerah (Bakesbangpol dan PBD) Kota Blitar Supriyadi menerangkan, puncak musim penghujan memang sudah berlalu. Namun, musim penghujan diprediksi masih akan berlangsung hingga pertengahan April mendatang. "Puncaknya sudah. Tapi potensi hujan diprediksi masih akan terjadi hingga pertengahan April," ucapnya.
Sebab, lanjut Supriyadi, sesuai rilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awal Mei bakal terjadi pergantian musim dari musim penghujan ke musim kemarau.
Namun demikian, dia mengimbau, agar masyarakat tidak lengah dan tetap siaga bencana meskipun puncak musim penghujan sudah berlalu. Pasalnya, bukan tidak mungkin bakal kembali terjadi cuaca ekstrem di wilayah Blitar mengingat kini anomali cuaca masih berlangsung. "Hujannya diprediksi masih sampai April. Jadi, masih ada kemungkinan kembali terjadi bencana seperti kemarin. Apalagi sekarang kan ada anomali cuaca," katanya.
Dia mengaku, anomali ini disebabkan adanya pembentukan awan hujan dengan tingkat kepekatan air yang tinggi yang terbentuk akibat penguapan air laut. Di mana hal tersebut mengakibatkan terjadinya fenomena siang hari yang terasa sangat terik, namun seketika berubah menjadi hujan lebat begitu memasuki sore hari seperti yang terjadi di wilayah Blitar belakangan ini. "Seperti beberapa waktu terakhir siangnya cuaca terasa panas tapi langsung hujan deras begitu sore atau malamnya," lanjutnya.
"Yang masih mungkin terjadi itu hujan lebat disertai angin kencang yang dapat menyebabkan bencana susulan seperti banjir karena meluapnya air sungai atau pohon tumbang karena angin kencang. Yang pasti yang harus diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi," imbuhnya.
Dia menambahkan, selain potensi bencana yang mungkin terjadi di akhir musim penghujan, masyarakat juga perlu mewaspadai musim pancaroba yang disebutnya dapat mengancam kesehatan masyarakat. "Kalau pancaroba itu terjadi selama pergantian musim nanti. Itu juga harus diperhatikan oleh masyarakat," ungkapnya.
Di sisi lain, dia mengaku, jika dampak cuaca ekstrem tahun ini tidak separah dampak yang diakibatkan dari cuaca ekstrem yang terjadi pada tahun 2020 lalu. Alasannya, pihaknya sudah melakukan koordinasi bersama sejumlah pihak terkait guna meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi. "Memang tahun ini dampaknya tidak separah tahun kemarin. Karena kita antisipasi dengan koordinasi salah satunya dengan DLH untuk melakukan pengeprasan beberapa pohon yang dinilai berdahan lebat. Kita juga lakukan pengecekan beberapa pintu air. Selain itu, kita juga coba untuk selalu uodate info cuaca dari BMKG untuk selanjutnya disosialisasikan," tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq