Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Prajurit Pangeran Diponegoro yang Ahli Agama Islam

Anggi Septian Andika Putra • Senin, 3 Mei 2021 | 16:33 WIB
prajurit-pangeran-diponegoro-yang-ahli-agama-islam
prajurit-pangeran-diponegoro-yang-ahli-agama-islam

Blitar punya sejarah menarik terkait penyebaran Islam. Sebab, para tokohnya bukanlah orang sembarangan. Salah satunya KH Mohammad Toyib atau kerap disapa Mbah Toyib. Dia termasuk penyebar Islam di wilayah Kabupaten Blitar.


 


Wilayah Dusun Langkapan, Desa Maron, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, punya cerita tersendiri terkait penyebaran Islam. Yakni melalui KH Mohammad Toyib.


Itu bermula dari kedatangan tiga prajurit atau pengikut Pangeran Diponegoro. Yakni KH Muhammad Toyib (ahli agama Islam), Mbah Bendil Karyadi (ahli pemerintahan), dan Mbah Bauniti (ahli kejawen). Mereka datang sekitar tahun 1830-an atau setelah perang Pangeran Diponegoro.


KH Muhammad Toyib merupakan keturunan dari Syekh Abdul Karim dari Jawa Tengah. Syekh Abdul Karim datang ke Desa Maron, setelah dijemput putranya. Itu karena kondisi yang sudah berusia lanjut.


Peninggalan KH Muhammad Toyib salah satunya Masjid Al Hikmah. Itu didirikan sekitar 1870-an dan menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam di Desa Maron. “KH Muhammad Toyib juga mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikmah yang terus berkembang sampai sekarang,” ujar KH Nur Huda, penerus Ponpes Al Hikmah.


Kini, Ponpes Al Hikmah yang juga dinaungi Yayasan Al Hikmah, dikelola para penerus. Yakni KH Moch. Qobari sebagai ketua yayasan, KH Nur Huda menangani bidang pendidikan, dan H Ahmad Tanzeh menangani bidang ubudiyah.


Saat ditemui di rumahnya kemarin (2/5), KH Nur Huda juga menceritakan, KH Muhammad Toyib fokus terhadap pendidikan. Karena itulah, Yayasan Al Hikmah juga memiliki TK, madrasah diniyah, aliyah, dan MTs. Sejak 1995, MTs milik yayasan berubah status menjadi negeri. Namun, pendidikan yang diajarkan tetap berkoordinasi dengan pihak yayasan. Begitu juga dengan Madrasah Aliyah Al Hikmah. Meski terdapat jurusan IPA dan IPS, tetap ada pembelajaran Kitab Kuning. Artinya, para siswa punya ilmu tambahan yang pastinya bermanfaat.


KH Nur Huda melanjutkan, KH Muhammad Toyib memiliki tiga anak. Yakni Ali Mustofa, Ali Imron, dan Nyai Ruliyah. Yang cukup menarik, Ali Imron ini mendapat sertifkat izin untuk menjadi guru mengaji dari Belanda. Itu diperoleh sekitar tahun 1901. “Sampai sekarang izin tersebut masih disimpan sebagai bukti otentik yang dimiliki pihak keluarga,” jelasnya.


Di sebelah timur Masjid Al Hikmah, terdapat makam leluhur. Salah satunya makam Syekh Abdul Karim dan KH Muhammad Toyib beserta istrinya. Ada juga makam Ali Mustofa dan Ali Imron. Kondisi makam tidaklah besar dan mewah seperti penyebar agama Islam lainnya. Semua sederhana, termasuk batu nisan yang digunakan. (*)

Editor : Anggi Septian Andika Putra