Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kesayangan KH Abdul Karim Lirboyo

Anggi Septian Andika Putra • Kamis, 6 Mei 2021 | 16:11 WIB
kesayangan-kh-abdul-karim-lirboyo
kesayangan-kh-abdul-karim-lirboyo

KH Dimyati selama hidupnya dikenal sebagai kiai yang memiliki karomah. Beliau juga menjadi santri kesayangan KH Abdul Karim dari Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri. Kehadiran Dimyati muda di Ponpes Lirboyo sebagai pengobat rindu sang guru usai kepergian Gus Nawawi yang wafat di Makkah.


KH Dimyati lahir di Baran, Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, pada Jumat Pahing 1921 dan wafat pada 1989, dalam usia 68 tahun. Mbah Dimyati adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dari Mbah Hasbulloh, pendiri Pondok Baran. Pasangan Mbah Hasbulloh dengan Nyai Maryam, dikaruniai tujuh anak, yakni H Sofwan (Sumatera), Nyai Munawwaroh (Kasim), Wuryan (Kasim), KH Dimyati (Baran), Nyai Rohbiah (Siraman), Hj Ruqoyyah (Kasim) dan Gus Kafi. Garis keturunan beliau adalah KH Dimyati bin KH Hasbulloh bin M Irjaz bin Abdul Hamid bin Arif Sholihin bin Syeh Yusuf Cokrojoyo atau Sunan Geseng.


Sejak kecil, Mbah Dimyati dikenal pendiam dan suka menyendiri. Selain belajar agama pada sang ayah, Mbah Hasbulloh, beliau juga pernah menimba ilmu di Ponpes Lirboyo, Kediri, selama sebelas tahun di bawah asuhan KH Abdul Karim. Dalam Sekilas Riwayat KH Dimyati (2014) dijelaskan, beliau sangat tekun menimba ilmu agama di Ponpes Lirboyo dan mulai kelihatan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Mbah Dimyati sangat tulus melayani dan mengikuti pengajian serta amalan-amalan KH Abdul Karim yang istiqamah. Disebutkan, “Setiap pagi Mbah Dim sudah siap menata gamparan dan menyalakan ting, sambil menunggu Kyai keluar dan mengantar ke masjid, sampai pulang ke ndalem lagi, sekitar pukul 08.00 pagi.”


Diantara karomah kelebihan beliau adalah seperti diungkapkan Kiai Mashurin Grompol, Prambon Nganjuk, dalam Sekilas Riwayat KH Dimyati (2014). Disebutkan, “Sering kali Mbah Dim tiba-tiba datang, memberi makanan dengan lauk pauk lengkap yang tidak mungkin ada diwaktu malam.” Selain itu, beliau juga dikenal sangat dermawan. Bahkan ketika mendapatkan kiriman dari keluarga, bahan makanan yang dimiliki langsung dimasak dan disantap bersama teman-teman di pondok.


Ketika sudah menjalankan dakwah, beliau menikah pertama dengan Nyai Rufiah Mondo dan dikaruniai seorang anak, yakni Mahfud. Setelah cerai, KH Dimyati menikahi Nyai Muawanah dan dikaruniai empat anak, yakni Lailatul Badriyah, Ngatiqullah, Umi Mukarommah dan Barroh. Semua anaknya telah wafat mendahului Mbah Dimyati, kecuali anak ketiga beliau, Umi Mukarommah.


Semasa hidupnya, Mbah Dimyati dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan pandai merahasiakan sedekah, serta tidak pernah membuat repot dan menyakiti orang lain. Tak hanya itu, beliau juga gigih dan berani menegakkan kebenaran. Kala itu, KH Dimyati diminta memberikan doa dalam penutupan kampanye salah satu partai berkuasa. Namun karena memiliki pandangan yang berbeda, akhirnya kampanye yang sudah berlangsung selama dua jam, dipatahkan oleh pandangan Mbah Dimyati. “Hal itu terjadi pada kampanye partai politik di Desa Ploso pada 1977,” jelas KH Harun Ismail, pengasuh Ponpes Al Iflah, yang merupakan keponakan Mbah Dimyati.


Saat ini, makam beliau berada satu kompleks dengan Mbah Habsbulloh yang berdampingan dengan pemakaman umum di Dusun Kasim, Desa Ploso. Kompleks makam tersebut ramai dikunjungi peziarah pada Kamis Legi malam Jumat Pahing. Biasanya, untuk mengenang jasa-jasa beliau digelar dzikir akbar yang tergabung dalam Majelis Dzikir Kanzul Jannah “Jumpa Sehat”.


Selain itu, juga masih ada beberapa peninggalan Mbah Dimyati di Pondok Baran. Seperti rumah beliau yang berdampingan dengan Masjid Baran serta bangkiak kayu yang kini tersimpan di rumah KH Azizi Hasbulloh. (*) 

Editor : Anggi Septian Andika Putra