Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gubernur Khofifah: Mitigasi Bencana Harus Lebih Komprehensif

Anggi Septian Andika Putra • Senin, 24 Mei 2021 | 21:08 WIB
gubernur-khofifah-mitigasi-bencana-harus-lebih-komprehensif
gubernur-khofifah-mitigasi-bencana-harus-lebih-komprehensif

Gempa bumi kembali mengguncang sejumlah kawasan di Jawa Timur (Jatim), tepatnya pada Jumat (21/5) pukul 19.09 WIB. Informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan magnitudo 5,9 SR berpusat di 57 kilometer (km) Tenggara Kabupaten Blitar dengan kedalaman 110 km.


Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, tercatat 1 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, serta mengakibatkan ratusan rumah, fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, dan tempat ibadah mengalami kerusakan.


Dan Sabtu kemarin (22/5), Gubernur Khofifah dan rombongan melakukan peninjauan langsung sekaligus memberikan support kepada warga di beberapa lokasi terdampak di Kabupaten Blitar. Lokasi pertama yang ditinjau di Desa Boro, Kecamatan Selorejo. Di sana disambut oleh bupati Blitar, forkopimda Kabupaten Blitar, kepala Bakorwil Malang, dan Plt kalaksa BPBD Provinsi Jatim.


Tak hanya melihat kondisi rumah, Gubernur Khofifah menyapa pemilik rumah dan warga lain. Tak lupa, menyerahkan bantuan untuk warga terdampak berupa sembako, masker kain sebanyak 15.000 buah, masker medis 2.000 buah, lauk pauk BNPB 40 kardus, dan terpal 100 lembar.


Kemudian dilanjutkan ke Dusun/Desa Jabung, Kecamatan Talun. Gubernur Khofifah bersama Bupati Rini Syarifah meninjau rumah-rumah terdampak gempa berkekuatan 5,9 SR. Salah satunya rumah milik Jazuli, penjual tempe, yang ruang dapur runtuh total dan tembok retak. Di lokasi tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan.


Seusai peninjauan, Gubernur Khofifah menegaskan, perbaikan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa dapat dilakukan sesegera mungkin. Untuk perbaikan rumah rusak berat dan sedang, akan dikoordinasikan lebih lanjut untuk dapat di-cover BNPB atau BPBD kabupaten dan provinsi.


“Perbaikan dengan penyegeraan sesuai  tingkat urgensi, terutama untuk warga yang kondisi rumahnya mengkhawatirkan. Jikalau ada gempa susulan atau ada angin, khawatir genting jatuh. Mereka juga perlu evakuasi sampai rumahnya terbangun,” ujar orang nomor satu di Pemprov Jatim ini.


Terkait mitigasi bencana di Jatim, Khofifah mengungkapkan, Pemprov Jatim melalui BPBD Jatim terus melakukan mitigasi bencana secara kontinu dan berkoordinasi dengan BMKG. Namun, kondisi mitigasi bencana dengan yang terjadi di lapangan tidak selalu linier.


“Dulu yang sudah di-exercise, bahkan Pak Pangdam dan Kapolda Jatim juga turun dan menghitung titik evakuasi di Pacitan hingga Banyuwangi. Tetapi bencana gempa justru terdampak di Malang, Lumajang, dan Blitar,” bebernya.


Untuk itu, tegas Khofifah, mitigasi bencana harus dilakukan lebih komprehensif ke depan. Kewaspadaan semua pihak, termasuk pembuatan konstruksi bangunan tahan gempa, harus dioptimalkan. Terutama di bagian selatan Pulau Jawa, wilayah selatan Jatim. Ini penting karena selatan Pulau Jawa ini dilalui wilayah ring of fire. Gempa di satu titik resonansinya bisa antarpulau atau antarprovinsi.


Menurut dia, salah satu bentuk mitigasi bencana komprehensif, yaitu lewat kehadiran kampung tangguh atau kampung siaga bencana. Sehingga ada kewaspadaan dan kemandirian untuk mengantisipasi setiap bencana. “Ketika ada titik tertentu berpotensi bencana banjir, gempa, atau angin puting beliung, maka kewaspadaannya berbeda di setiap kampung siaga,” paparnya.


Pada kampung tangguh tersebut harus ada lumbung sosial. Lumbung sosial ini berbeda di setiap potensi kebencanaan. Misalkan daerah potensi banjir di lumbung sosial disiapkan perahu karet, tali, dan sebagainya. “Nanti akan dilakukan pemetaan kembali kampung siaga bencana atau kampung tangguh sesuai dengan potensi kemungkinan risiko bencananya,” ujarnya. (*) 

Editor : Anggi Septian Andika Putra
#khofifah