Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Siklus MJO Fase Basah, Hujan di Awal Kemarau

Choirurrozaq • Sabtu, 29 Mei 2021 | 18:48 WIB
siklus-mjo-fase-basah-hujan-di-awal-kemarau
siklus-mjo-fase-basah-hujan-di-awal-kemarau

SANANWETAN, Radar Blitar - Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Blitar kembali diguyur hujan. Padahal, akhir Mei ini merupakan awal terjadinya musim kemarau. Itu sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).


Ternyata, itu disebabkan adanya siklus madden julian oscillation (MJO). Yakni siklus yang terjadi di wilayah tropis akibat adanya pergerakan aktivitas konveksi. Bergerak ke arah timur dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik. "Dan biasanya muncul setiap 30 sampai 40 hari," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Karangkates Anung Suprayitno.


Dia mengatakan, itu juga karena terjadi gangguan siklus di wilayah tropis. Awan hujan yang terbentuk dari aktivitas penguapan permukaan laut Samudra Hindia di sisi barat, mengalir ke arah Samudra Pasifik yang berada di sisi timur. "Iya, makanya bisa terjadi hujan," katanya.


Kendati demikian, lanjut Anung, perlu diketahui jika hal tersebut bukan merupakan pertanda musim penghujan belum berakhir. Justru dapat dikatakan sebagai anomali cuaca yang bisa terjadi selama masa peralihan musim. Pihaknya memprediksi, kondisi tersebut akan berlangsung sekitar selama 10 hari. Sebab, awan hujan yang terbentuk dari aktivitas penguapan permukaan laut terbilang kecil.


"Ini sudah masuk musim kemarau. Namun karena siklus MJO fase basah di maritim kontinental Indonesia mengakibatkan terjadi hujan. Nah, diprediksi periode ini berlangsung tidak lebih dari 10 hari," bebernya.


Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Bencana Daerah, Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Daerah (Bakesbangpol dan PBD) Kota Blitar Supriadi, mengimbau agar masyarakat tetap waspada terkait sejumlah potensi bencana yang muncul selama proses peraliham musim.


"Ini masih mungkin terjadi karena anomali. Nah, yang umum ditemui itu perubahan cuaca secara mendadak, terjadinya hujan deras, disertai angin kencang. Bisa jadi hal itu menyebabkan pohon tumbang seperti yang terjadi beberapa waktu lalu," ujarnya.


Selain itu, masyarakat Kota Blitar harus bersiap menghadapi musim kemarau. Hal ini berkaitan dengan potensi terjadinya bencana kekeringan akibat turunnya debit air tanah seperti yang terjadi pada musim kemarau di tahun 2019 lalu. "Betul. Kalau di wilayah kota itu ada tujuh kelurahan di wilayah barat dan utara yang rawan kekeringan," pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq