WONOTIRTO, Radar Blitar - Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar semakin aktif mengimbau masyarakat terkait kesiapsiagaan terhadap pontesi bencana alam. Khususnya bagi masyarakat di sekitar pesisir pantai. Pasalnya, tak menutup kemungkinan bisa berpotensi terjadi tsunami. Untuk itu, sosialisasi maupun simulai terkait kesiagaan bencana akan dilakukan dalam waktu dekat.
Kepala BPBD Kabupaten Blitar Ahmad Cholik menyatakan, pihaknya tidak dapat memastikan benar tidaknya informasi yang sempat beredar ke masyarakat terkait ancaman tsunami di daerah pesisir Blitar selatan. Sebab, informasi tersebut masih tergolong dalam prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG). Namun, adanya prediksi tersebut harusnya dapat menjadi kewaspadaan bagi seluruh pihak.
"Itu masih prediksi BMKG. Kami tidak bisa mengatakan benar atau salah ya. Tapi yang jelas perlu ada kewaspadaan bersama," ujarnya.
Cholik mengatakan, ada sekitar empat kecamatan yang termasuk rawan terdampak kerusakan apabila benar-benar terjadi tsunami. Di antaranya Kecamatan Wonotirto, Bakung, Panggungrejo, dan Wates. Dari empat kecamatan itu, sedikitnya ada sekitar 12 desa yang harus lebih waspada apabila terjadi tsunami.
Sementara, hingga kini hanya ada sekitar tiga desa yang termasuk dalam Desa Tangguh Bencana (Destana). Yakni Desa Tambakrejo di Kecamatan Wonotirto, Desa Serang di Kecamatan Panggungrejo, dan Desa Jolosutro di Kecamatan Wates. Ketiganya merupakan desa yang cukup dekat dengan pesisir pantai. Sedangkan untuk tingkat populasi, antara 20 sampai 50 kepala keluarga (KK).
"Memang belum semua desa termasuk Destana. Karena memang tidak semua desa itu berada dekat dengan pantai. Kemudian juga ada yang di sekitar pantai tidak ada penduduknya," terangnya.
BPBD, lanjut Cholik, telah memasang dua alat early warning system (EWS). Yakni di Pantai Tambakrejo dan Jolosutro. Alat tersebut masih dibutuhkan kembali untuk dipasang di Pantai Serang. Namun sampai sekarang belum ada respons dari pusat terkait pengajuan EWS tersebut.
"Kami sudah mengupayakan semua, termasuk mengajukan tambahan EWS untuk Pantai Serang. Tapi belum ada tanggapan dari pusat," katanya.
Dia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terkait potensi maupun prediksi tsunami. Termasuk menyiapkan tas siaga bencana dan memperhatikan jalur evakuasi. Sehingga masyarakat tidak hanya mengandalkan petugas apabila terjadi bencana.
"Yang penting tetap harus waspada dan siaga. Jangan hanya mengandalkan petugas, semua harus siaga bencana. Siapkan tas bencana yang berisi barang darurat dan dokumen penting. Kemudian juga perhatikan pula jalur evakuasi," tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq