Tidak hanya koi, ikan cupang juga cukup banyak peminatnya. Bahkan, selain bisa menjadi pengisi kesibukan, ikan berukuran kecil ini juga bisa menjadi komoditas usaha. Meski tren penjualannya kini sedikit menurun, namun pasarnya masih cukup menjanjikan. Utamanya untuk luar daerah.
Kemampuan bertahan ikan ini juga sangat baik. Jauh jika dibandingkan dengan koi. Ikan cupang tak butuh aerator untuk bertahan hidup, sehingga perawatannya lebih mudah. Tak harus setiap hari, pemberian paka bisa dilakukan dua hari sekali.
”Itu khusus untuk yang dewasa ya, kalau yang masih masa pertumbuhan baiknya ya setiap hari,” ujar Noppiyanto, salah seorang pembudidaya ikan cupang.
Pada masa pertumbuhan, ikan dengan nama latin betta splendens itu membutuhkan banyak nutrisi. Sedangkan cupang dewasa biasanya pembudidaya fokus untuk memunculkan warna. Karena alasan ini, tidak begitu banyak pakan yang diberikan saat dewasa. “Kutu air, cacing, dan pellet. Itu beberapa pakan yang dibutuhkan cupang,” imbuhnya.
Cupang merupakan ikan petarung. Karena itulah, biasanya penempatannya dipisah. Hal ini juga menjadi tantangan bagi penghobi maupun pembudidaya. Sebab, harus menyediakan banyak wadah untuk memelihara ikan tersebut.
Pemisahan ini biasanya dilakukan setelah ikan berusia tiga bulan, alias ketika cupang mulai dewasa. Pada masa ini, pembudidaya biasanya juga mulai mengindentifikasi dan mempersiapkan indukan untuk pengembangbiakan cupang. “Menurut saya cupang itu paling gampang perawatannya. Kalau sudah dipisah tinggal perhatikan kondisi airnya,” jelas Nopi.
Ya, ketika cupang sudah dipisah-pisah pemeliharaan cupang juga harus memperhatikan kondisi air. Sebab, lambat laun pasti akan timbul lumut yang nantinya mengganggu habitat maupun penampilan ikan tersebut.
Kondisi air masing-masing wilayah tidak sama. Karena kandungan yang berbeda, kadang pembudidaya harus rutin mengganti air. Setidaknya tiga hari sekali, karena sudah banyak lumut. Paparan matahari juga sangat memmpengaruhi tumbuhnya lumut. “Nah, di sini juga repotnya kalau pelihara cupang. Kan satu ekor punya satu tempat, jadi ya harus telaten satu persatu perawatannya,” terangnya.
“Beda kalau ikan lain. wadahnya Cuma satu, ngasih makan juga cukup satu lokasi, begitu juga saat pembersihan tempatnya,” lanjut pria ramah itu.
Tren usaha cupang kini juga sama dengan yang lain. Pada awal pandemi, permintaan cupang cukup tinggi. Kini setelah berjalan lebih dari setahun peminatnya mulai menunjukkan penurunan.
Maklum, kini tidak ada lagi kegiatan, kontes ataupun even cupang di masa pandemi. Padahal ini secara tidak lansgung dapat mendongkrak minat penghobi cupang. Harga cupang juga relative stabil. Per ekor bisa dijual mulai puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Jenis, bentuk, serta corak, ikut menentukan harga. “Tapi masih cukup lumayan, pasar luar daerah masih bagus. Buktinya setiap panen para pedagang juga masih datang untuk membeli cupang kami,” tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq