Selain wisata alam, ada beberapa wisata buatan maupun edukasi yang bisa dinikmati di Bumi Penataran. Salah satunya konservasi penyu di Desa serang, Kecamatan Panggungrejo. Pandemi Covid-19 terpaksa membuat tempat wisata yang sudah ada sejak tiga tahun terakhir itu tutup sementara.
Konservasi penyu tersebut berada di sebelah timur area parkir Pantai Serang. Meski tergolong anyar, ada ratusan anak penyu (tukik) yang belum lama menetas. Ada juga puluhan penyu berumur sekitar 8 bulan.
Untuk sementara hanya dua jenis penyu yang ada di area konservasi tersebut. Yakni penyu sisik dan penyu hijau. "Sekarang lagi PPKM. Kalau tidak sedang ada perawatan, kami tutup kembali," ujar Supeno, petugas konservasi penyu.
Menurut dia, merawat penyu gampang-gampang susah. Terlebih untuk tukik yang belum lama menetas. Butuh perawatan ekstra. Sebab jika telat memberi pakan, bisa menjadi predator bagi tukik yang lemah. "Kalau untuk pakan sebenarnya cukup gampang. Ada pelet atau ikan-ikan kecil," katanya.
Selain merawat tukik, Supeno juga berburu telur penyu di sepanjang bibir Pantai Serang. Telur-telur itu dipindahkan ke inkubator khusus yang ada di area konservasi. Setidaknya ada empat kubangan berisi pasir yang siap menampung ribuan telur penyu untuk proses penetasan. Biasanya butuh waktu sekitar 50 hari agar tukik-tukik keluar dari cangkang alias menetas. "Potensi hidup di alam liarnya kan sangat kecil. Sementara dibesarkan dulu. Kalau sudah agak dewasa, nanti dilepaskan," jelasnya.
Di tempat konservasi itu, Supeno tidak sendiri. Dia dibantu beberapa warga lain untuk merawat tukik penyu. Itu wajar. Sebab, tidak hanya memberikan pakan, butuh perlakuan ekstra agar bayi-bayi tersebut tumbuh besar atau setidaknya siap dilepasliarkan. "Minimal dua hari sekali airnya harus ganti. Itu pakai air laut ya," imbuhnya.
Sayang, karena wisata tidak beroperasi selama PPKM level 4, konservasi penyu tersebut ditutup untuk umum. Hanya pada momen tertentu bisa dibuka. Misalnya untuk kepentingan edukasi atau yang lain. "Semoga segera dibuka kembali agar fungsi edukasi sarana konservasi ini bisa terpenuhi," harapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq