KEPANJENKIDUL, Radar Blitar – Bupati Rini Syarifah salurkan bantuan langsung tunai (BLT), kemarin (6/12). Bantuan itu diberikan kepada lebih dari 1.000 karyawan pabrik rokok di Bumi Penataran. Anggaran untuk bantuan tersebut sekitar Rp 1 miliar, berasal dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) 2021.
Bantuan itu diberikan selama tiga bulan dengan nominal Rp 300 ribu perbulan. Secara simbolis, beberapa perwakilan pekerja pabrik rokok menerima bantuan tersebut di Pendopo Ronggo Hadi Negoro. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar bekerjasama dengan Bank Jatim untuk penyaluran bantuan sosial tersebut. Bupati Rini menyatakan, ada sekitar 1.143 karyawan asli Kabupaten Blitar yang bekerja di industri rokok. Pihaknya berharap bantuan sosial itu bisa membantu ekonomi para pekerja yang selama pandemi ini terganggung lantaran tempat bekerja mereka membatasi jumlah produksi.
“Saya harap para pekerja di industri rokok ini bisa membantu dan mereka lebih semangat bekerja, tapi ya industri rokok yang legal,” ujarnya. Untuk penyaluran bantuan, langsung melalui rekening Bank Jatim. Para penerima bantuan langsung dibukakan rekening tersebut. Direncakan penyaluran BLT dari BHCHT itu rampung dalam seminggu. Bupati Rini juga berterima kasih kepada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Blitar. Sebab, lembaga tersebut selama ini menjadi mitra pemerintah dalam mengawasi peredaran rokok illegal.
“Cukai rokok itu menjadi salah satu pendapatan negara yang sangat penting untuk pembangunan. Jadi dalam kesempatan ini kami juga tegaskan untuk berantas rokok ilegal,” jelasnya.
Dalam rangkaian ceremoni penyaluran BLT itu, Bupati Rini juga menerima penyerahan bantuan CSR dari Bank Jatim. CSR tersebut berupa kegiatan khitanan missal, dilaksanakan di 22 kecamatan. “Kegiatannya sudah diulakukan dua hari lalu. Ada sekitar 400 anak yang ikut dalam khitan masal itu,” katanya.
Mak Rini, sapaannya menlanjutkan, anak-anak yang ikut dalam kegiatan tersebut berasal dari keluarga kurang mampu. Menurut dia, pelaksanaan kegiatan tersebut tergolong tepat Sebab, selama masa pandemi masyarakat sedikit takut datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Tak terkecuali untuk khitan.
“Jadi dengan fasilitasi ini sangat membantu,” imbuhnya.
Direktur TI dan Operasi Bank Jatim, Tony Prasetyo mengatakan, CRS dicairkan setiap tahun. Yakni untuk mendukung program-program pemerintah daerah. Adapun untuk jenis program atau kegiatan yang dilakukan, itu sesuai dengan kebutuhan daerah. “Kemarin setelah koordinasi dengan pemerintah daerah, diusulkan ada khitan massal. Nah kami support untuk itu,” tuturnya.
Dia melanjutkan, kegiatan yang bisa didukung dengan CSR Bank Jatim tidak hanya dalam bidang sosial. Namun juga ada beberapa kegiata lain. Misalnya, bidang pendidikan, kesehatan, hingga perbaikan rumah tidak layak huni. (hai/wen/dfs)
Editor : Anggi Septian Andika Putra