KOTA BLITAR - Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh tahun ini kembali meriah setelah situasi pandemi mereda. Kesempatan ini dimanfaatkan secara apik oleh Iveline Julia Wibisono, warga Kecamatan Kepanjenkidul. Meski kuliner saat ini serba moderen, namun kue keranjang sebagai jajanan tradisional masyarakat etnis Tionghoa selalu dia hadirkan.
“Kue keranjang itu makna kesejahteraan, kegigihan serta daya juang dalam hidup,” ucap seorang perempuan yang sedang sibuk menata kue kering di salah satu rumah Kecamatan Kepanjenkidul siang itu. Dia adalah Iveline Julia Wibisono.
Raut wajahnya semringah. Sambil memasukkan kue-kue kering ke dalam tas kemasan, dia masih antusias memeriahkan momen Imlek. Maklum saja, tahun ini suasana tahun baru China kembali normal, termasuk perayaan yang dilakukan pada malam ke-15 setelah Imlek, Cap Go Meh.
Tak hanya menerima angpau, binar kebahagiaan gadis kelahiran 1996 itu muncul setelah dia kebanjiran pesanan hampers atau bingkisan kue kering selama momen Imlek. Nastar, kue coklat, serta kastengel mungkin masih umum ditemukan. Namun, untuk kue keranjang yang identik dengan rasa manis itu tak bisa dijumpai di semua toko bingkisan kue.
“Saya survey ke orang tua juga, apa yang masih cocok di lidah anak muda. Ternyata kue keranjang. Biar nggak cuma menikmati, tapi juga ingat sama leluhur, filosofi, dan budaya,” ujar perempuan tiga bersaudara ini.
Kue kering seperti nastar dan sejenisnya dia produksi sendiri. Sebab, bahan dan tahap pembuatannya cenderung mudah. Khusus kue keranjang, diproduksi bersama rekannya lantaran membutuhkan tingkat kesabaran yang lebih. Kuncinya, tepung ketan, gula, dan air harus pas.
Pengemasan kue keranjang itu menyerupai tabung. Ukurannya melingkar, namun tidak terlalu besar. Rasa kue ini manis legit, mirip jajanan tradisional khas Indonesia, dodol. Teksturnya kenyal, tapi mudah dikunyah. Dari ciri khas kue ini, rupanya tersimpan makna positif.
Misalnya, bentuk kue yang bulat agar keluarga yang merayakan tahun baru Imlek tersebut dapat terus bersatu dan rukun. Lalu, juga bulat tekad untuk menghadapi tahun yang akan datang. Sementara teksturnya yang kenyal menggambarkan motivasi hidup agar lebih gigih, ulet, berdaya juang, serta pantang menyerah dalam berusaha.
“Ternyata peminatnya juga banyak, bahkan merata, bukan hanya kalangan etnis tertentu. Mungkin karena rasa manis, seperti dodol,” tuturnya.
Produksi kue ini sudah dirintis sejak 2017 silam. Dari kecil, Iveline mengaku sudah tertarik untuk memasak, khususnya membuat jajanan kue kering. Meski awalnya sempat dilarang orang tua, namun berkat optimismenya, hampir satu keluarga kini bahu-membahu membantu saat ada pesanan.
Pesanan kue dan puding karakter buatan Eveline paling banyak dipesan saat peringatan hari raya. Baik lebaran, natal, hingga imlek. Selain itu, juga jadi sasaran saat momen ulang tahun dan peringatan hari penting lainnya.
Selama dua tahun sejak pandemi, Iveline menyebut omzetnya justru meningkat. Yakni, sekitar 30-40 persen jika dibandingkan saat sebelum pandemi.
“Kalau untuk tahun ini, agak sedikit menurun. Cuman masih ramai banget. Nastar dan kue lainnya, bisa produksi sekitar 20 kilogram,” jelas lulusan D2 jurusan Pastry Advance di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.
Agar tak monoton, tiap tahun dia selalu berinovasi menambah menu-menu kue yang menarik, serta dari segi pengemasan. Itu agar pembeli tak bosan, sehingga pesan ulang. “Harapannya tahun ini semua hoki, setelah sempat pusing pas wabah kemarin,” tandasnya. (*/hai) Editor : Anggi Septian Andika Putra