KABUPATEN BLITAR - Hampir seluruh wilayah kecamatan yang tersebar di Bumi Penataran terdampak hujan. Selain berisiko terjadi bencana alam, hujan juga berpotensi menggiring hewan reptil, seperti ular menyasar rumah warga.
Itu seperti yang diungkapkan Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Blitar, Andi Putra Sagita. Menurutnya, laporan ular masuk rumah warga paling banyak diterima saat musim hujan. Penyebabnya, habitat hewan melata ini tergenang air sehingga mencari habitat baru yang lebih nyaman. “Biasanya karena juga dekat dengan permukiman, ular masuk ke rumah-rumah,” katanya kemarin (9/2).
Data animal rescue (penyelamatan hewan) ular tahun lalu menyebutkan, jumlah evakuasi hewan melata mencapai lebih dari 10 kejadian. Sisanya merupakan evakuasi tawon dan musang. Memasuki awal tahun ini, damkar sudah menerima sedikitnya lima laporan ular masuk ke rumah warga. Jenisnya ada piton, kobra jawa, hingga ular gadung hijau.
Menurut Andi -sapaan akrabnya- hewan melata ini memanfaatkan sudut-sudut gelap sebagai tempat meletakkan telurnya. Tak terkecuali di dalam hunian yang jarang dibersihkan sang pemilik. “Bisa jadi saat jarang dibersihkan, ular akan senang tinggal di rumah dan mengancam keselamatan jiwa penghuni,” ujarnya.
Itu seperti yang terjadi di rumah Ernik Ekowati, 50, warga Desa Jeblog, Kecamatan Talun, pada Rabu (8/2) lalu. Seekor ular gadung tiba-tiba masuk dan bersarang di atap rumah. Dalam tempo 15 menit, petugas berhasil mengevakuasi ular bernama ilmiah Ahaetulla prasina itu.
Untuk mengantisipasi, masyarakat harus rajin membersihkan rumah. Menambah sarana penerangan, rutin menjemur dan memeriksa kasur maupun sofa. “Ini agar rumah tidak jadi sarang ular,” pungkasnya. (luk/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni