KOTA BLITAR - Hari bersejarah pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) diperingati setiap 14 Februari. Tahun ini, Grantika Pujianto, koordinator Komunitas Cinta Tanah Air, punya cara unik untuk me-refresh memori masyarakat Blitar akan perjuangan pasukan PETA di Bumi Bung Karno.
“Ini tahun keempat kami menggelar napak tilas pemberontakan PETA. Pokoknya setiap 14 Februari,” kata Grantika Pujianto membuka perbincangan dengan pewarta Koran ini, kemarin (16/2).
Pria berambut ikal ini menambahkan, selalu ada cerita unik dalam peringatan pemberontakan PETA setiap tahunnya. Tahun lalu misalnya, dia napak tilas seorang diri dengan rute yang cukup panjang. Yakni, mulai dari Kecamatan Sananwetan hingga Kecamatan Bakung.
Perjalanan itu tidak dia tempuh dengan menggunakan kendaraan, tetapi dengan berjalan kaki. “Kalau tahun lalu, saya niat berangkat sendiri. Lalu, di tengah jalan bertemu dengan pasukan Batalyon 511. Nah, lalu saya ditemani pasukan TNI dalam perjalanan saya,” kenangnya.
Nah, tahun ini, napak tilas pemberontakan PETA sengaja dia gelar secara berbeda. Kali ini, dia menggandeng kelompok pemuda Banser. Tak tanggung-tanggung, Grantika mengajak sekitar 48 pemuda Banser se-Blitar Raya. “Tahun ini ada 48 anggota yang ikut. Ya biar lebih ramai,” ujar Grantika lantas terkekeh.
Dia juga sengaja mengambil rute berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, Grantika mengambil rute Makam Bung Karno, Monumen Potlot di Taman Makam Pahlawan Raden Wijaya, lalu ke Candi Waringin Branjang yang berada di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari. “Kurang lebih jaraknya sekitar 25 kilometer (km). Dan itu kami tempuh dengan berjalan kaki,” kata pria yang tinggal di Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo ini.
Ada alasan khusus kenapa tahun ini dia sengaja menggaet kelompok pemuda Banser. Menurut Grantika, peringatan pemberontakan PETA jadi momen yang pas untuk menumbuhkan kembali jiwa patriotisme di tengah masyarakat, khususnya kepada kawula muda. “Agar pemuda kita tidak melupakan sejarah. Dan, aksi ini sebagai wujud penghormatan kita atas jasa para pahlawan yang melawan kolonialisme,” tegasnya.
Pria kelahiran 11 November 1991 ini menambahkan, sudah sepatutnya pemuda Blitar memiliki jiwa patriotisme tinggi. Itu tak lepas dari banyaknya peristiwa bersejarah yang terjadi di Blitar. Bukan hanya itu, banyak pula pahlawan kemerdekaan yang berasal dari Blitar.
Untuk itu, dia berharap agar aksinya kali ini bisa kembali menghidupkan jiwa patriot di kalangan muda. “Bendera merah-putih kali pertama dikibarkan di Blitar saat masa penjajah Jepang. Yakni, di Monumen Potlot. Lalu, Blitar juga punya tokoh-tokoh yang memimpin pemberontakan PETA. Salah satunya Soedanco Supriyadi,” katanya.
Meski mengaku puas dengan aksi napak tilasnya di tahun ini, Grantika masih punya hal lain untuk dicapai. Yaitu, dicanangkannya tanggal 14 Februari sebagai Hari Cinta Tanah Air. Itu penting agar maayarakat Blitar selalu mengingat perjuangan pahlawan kemerdekaan.
“Saya berharap pemuda-pemudi Blitar tidak melupakan sejarah bangsa ini. Karena banyak tokoh-tokoh Blitar yang berperan penting dalam merintis maupun mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti Bung Karno, Bung Karni, Partoharjono, dan Soedanco Supriadi.” tandasnya. (*/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni