KOTA BLITAR - Lebih dari 12 tahun Wiwik Wulansari menekuni produk rajut. Tas dan dompet rajut karya warga Kecamatan Sukorejo ini tidak hanya beredar di lokalan Blitar, sebaliknya sudah tembus pasar Asia Tenggara.
Mendung menggantung di langit Kota Blitar nyaris setiap sore. Begitu juga ketika rombongan Koran ini bertandang ke salah satu outlet aksesori di Jalan Majapahit, Kota Blitar, Jumat (10/2) lalu. Dari luar, tampak berbagai model dan warna tas serta dompet disusun rapi pada rak setinggi 2,5 meter. Pencahayaan dan tata letak yang pas membuat produk rajut tersebut terlihat jelas dan cantik.
Beberapa pengunjung terlihat sibuk mencermati tiap detail produk handmade ini. Di antara kesibukan para pengunjung itu, seorang perempuan sedang bercakap-cakap di ujung ruangan. Dia adalah Wiwik Wulansari, owner Kyra, produsen tas rajut yang dipampang di galeri rajut ini. “Yang lagi ngetren sekarang adalah model kasual, untuk santai,” ucapnya kepada Koran ini.
Sari -sapaannya- boleh dibilang cukup konsisten di bidang rajut. Lebih dari 12 tahun dia menggeluti usaha rajut. Padahal, awalnya merajut hanya sebagai aktivitas mengisi waktu luang saat dia bekerja di salah satu perusahaan asing tahun 2011 silam. “Karena terkumpul cukup banyak, akhirnya karya itu saya unggah di media sosial. Saya juga kaget karena ternyata banyak yang tertarik,” ujarnya.
Lambat laun permintaan semakin bertambah. Bahkan, Sari tak mampu memenuhi permintaan. Beberapa orang rekannya pun diajak bergabung untuk membantu memenuhi permintaan tersebut. Kala itu, ada sekitar lima orang yang berhasil digaet untuk memenuhi permintaan rajut.
Singkat cerita, respons pasar terus menunjukkan tren positif. Enam pasang tangan para perajin rajut ini tak lagi mampu memenuhi permintaan pasar. Menambah sumber daya untuk meningkatkan kapasitas produksi pun harus dilakukan. “Akhirnya kami rekrut warga sekitar untuk bantu produksi,” katanya.
Sari tampaknya bukan tipe orang orang yang cepat berpuas diri. Saat produksi mulai stabil, dia juga berpikir untuk memperluas jangkauan usaha. Perempuan berhijab ini sadar betul bahwa tidak hanya stok barang, pemasaran juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam sebuah usaha. Kepentingan ini juga tidak mungkin ditangani oleh satu atau dua orang saja. Apalagi, dia juga harus selalu kreatif untuk mencipatkan model-model baru.
Menggaet dropshipper menjadi salah satu strateginya memperluas pasar. Hal ini bukan perkara mudah. Selain memiliki ketertarikan yang sama dengan produk handmade, Sari juga harus memberikan benefit tambahan di luar peluang pendapatan. “Kan banyak ya orang pakai jurus reseller atau dropshipper. Saya tawarkan pada teman-teman, itu semuanya gratis. Bahkan juga bimbing dan edukasi terus,” katanya.
Kerja keras itu berbuah manis. Pada 2015, Sari memiliki jaringan dropshipper sekitar 30 titik. Mereka tersebar di Pulau Jawa dan berhasil memasarkan produk di dalam negeri. Sejalan dengan hal ini, Sari juga memperkokoh produksi. Setidaknya ada 50 orang yang hingga kini menjadi para pejuang di bidang produksi.
Jumlah pasukan pemasarannya pun terus bertambah. Terakhir ada sekitar 300 dropshipper yang membantu pemasaran produk. Mereka tidak hanya di dalam negeri, tetapi sebagian ada di beberapa negara tetangga untuk pemasaran produk di Asia Tenggara. “Tahun depan target kami masuk pasar Eropa,” katanya.
Karya rajut ini tidak dikerjakan di tempat produksi yang khusus. Sebab, Sari lebih senang dengan pemberdayaan masyarakat utamanya perempuan. Karena itu, produk handmade ini dikerjakan di rumah atau wilayah masing-masing. “Jadi ibu-ibu tangguh yang membantu produksi kami itu tersebar di beberapa kecamatan. Mereka membentuk kelompok dan di sana ada koordinator yang bertanggung jawab mengenai produk,” katanya.
Selain manajemen pemasaran, Sari juga memberikan perhatian khusus pada produk. Dia menempatkan beberapa personel untuk memastikan kualitas produk yang bakal diedarkan atau dikirim kepada pembeli. Selain itu, paling lambat tiga bulan dia merilis model anyar. Namun, sebelum itu ada riset mulai dari tema atau model hingga warna. Itu untuk memastikan produk tersebut bisa diterima oleh pasar. “Kebetulan kami ini dipercaya oleh pabrik sehingga bisa memesan warna khusus. Jadi, warna benang kami tidak ada di pasaran,” jelas dia.
Sayangnya, Sari tampak sungkan menyebut omzet bulanan usaha rajut tersebut. Dia hanya mengatakan bahwa ada ratusan ribu tas dan dompet yang setiap bulan berhasil dijual. Range harga kerajinan ini berkisar di angka Rp 35.000 sampai Rp 450.000 per pcs. “Silakan diperkirakan sendiri,” tuturnya sembari senyum mengakhiri perbincangan sore itu. (*/c1/hai) Editor : Doni Setiawan