KABUPATEN BLITAR - Besarnya dampak ledakan petasan di Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok pada Minggu malam (19/2) direspon serius pemerintah daerah. Bupati Rini Syarifah hadir di lokasi kejadian guna meninjau kondisi warga yang terdampak.
Setibanya di lokasi kejadian, orang nomor satu di lingkup Pemkab Blitar ini segera berkoordinasi dengan jajaran TNI/Polri dan BPBD. Dia menginstruksikan dinas terkait untuk segera memberikan bantuan kepada warga terdampak ledakan di sekitar lokasi. “Kami turunkan dinsos untuk membuka dapur umum. Lalu, kami juga instruksikan dinkes untuk membuka posko kesehatan,” ujar perempuan yang akrab disapa Mak Rini, kemarin pagi (20/2).
Laporan terakhir, sekitar 23 korban luka sudah dilarikan ke fasilitas medis terdekat. Yakni RSUD Srengat dan Puskesmas Ponggok. Jumlah itu termasuk satu balita yang diketahui masih berkerabat dengan Darman, pria yang diduga sebagai pembuat petasan. “Dari 23 orang yang dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas, satu balita masih menjalani rawat inap karena gegar otak ringan. Dan kami akan tanggung seluruh biaya pengotan korban,” bebernya.
Rini menegaskan, proses asesmen harus disegerakan. Itu agar identifikasi jumlah dan identitas korban dapat segera terdata. Selain itu, meminta dinas terkait untuk mempercepat proses identifikasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh ledakan. Nantinya, data hasil asesmen akan digunakan oleh pemkab dalam kebijakan selanjutnya.
“Berapa warga yang mengungsi, berapa yang terluka, dan berapa bangunan yang rusak ringan hingga berat harus terdata. Saat ini proses asesmen sedang berlangsung. Saya minta ini segera diselesaikan agar bantuan bisa segera disalurkan,” tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar Christine Indrawati mengatakan, seluruh korban luka tetap mendapat perawatan intensif kendati hanya diwajibkan rawat jalan. Dinas juga menyiagakan personel di lokasi kejadian. “Dan khusus untuk balita yang mengalami gegar otak, kondisinya terus membaik. Meski gegar otak ringan, kami tetap pantau mengingat usianya masih balita,” tuturnya saat bersama romobongan bupati.
Pantauan di lokasi, sebagian warga korban terdampak masih enggan mengungsi ke rumah kerabat terdekat. Padahal, kondisi rumah yang rusak sangat mengkhawatirkan dan bahkan mengancam keselamatan penghuni rumah.
“Iya. Mereka takut meninggalkan barang-barang berharga mereka di rumah. Hanya sebagian kecil yang mau mengungsi. Tapi tetap kami imbau agar mau mengungsi sementara karena pengamanan tetap dilakukan oleh tim gabungan,” jelas Kalaksa BPBD Kabupaten Blitar, Ivong Bettranto.
Selain menerjukan bantuan logistik berupa bahan pangan dan obat-obatan, ujar Ivong, pihaknya juga melakukan pengadaan perlengkapan lain, seperti halnya terpal untuk menutup atap rumah warga yang menganga akibat kedakan. “Sudah dalam proses pengadaan. Karena banyak warga yang enggan mengungsi, kami harus pastikan mereka tetap aman di rumahnya,” ungkapnya.
Dilaporkan sekitar 23 bangunan di lingkungan Sadeng mengalami kerusakan cukup parah. Jumlah itu termasuk rumah yang menjadi sumber ledakan dan satu musala. Hingga berita ini ditulis, warga terdampak masih menyelamatkan barang berharga dari dalam rumah dengan penjagaan ketat oleh jajaran TNI/Polri dan BPBD. (dit/ady) Editor : Endah Sriwahyuni