KABUPATEN BLITAR - Kekunaan Jimbe menjadi salah satu tempat bersejarah di Bumi Penataran. Tempat yang digunakan untuk menempa keris pada zaman Majapahit ini masih terawat dengan baik karena dipelihara secara turun-temurun.
Terik matahari membakar Bumi Penataran siang itu. Begitu juga ketika Koran ini berkunjung di salah satu situs cagar budaya yang ada di Kabupaten Blitar, Kekunaan Jimbe.
Bangunan syarat sejarah yang ada di Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, ini tidak begitu besar. Ornamen dua naga di pintu masuk tempat ini seolah menyambut siapa saja pengunjung yang datang. “Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” ucap seorang pria bertubuh tegap dari samping bangunan lawas tersebut.
Dia adalah Puguh Santoso, juru pelihara Kekunaan Jimbe alias Danyangan Jimbe tersebut. Pria ramah ini cukup ramah. Dia tidak pelit untuk menceritakan seputar tempat bersejarah ini, bahkan ornamen–ornamen yang menghiasi dinding ruang tamu itu.
Tak berselang lama, Puguh membuka sebuah ruangan yang telah terkunci. Rupanya, ruang tersebut untuk menyimpan beberapa benda bersejarah. Di antaranya, arca, bebatuan candi, inskripsi, prasasti, lingga, dan pecahan yoni. “Tempat ini peninggalan petilasan pembuat keris,” jelas pria dua anak ini.
Puguh baru menjadi juru pelihara (jupel) kekunaan selama tiga tahun. Sebelumnya, jupel tempat ini adalah ayahnya, yang bertugas sejak 1981. Kemudian pada 2012, jupel digantikan oleh kakak pertamanya. “Memang jupel tempat ini adalah silsilah keluarga saya,” akunya.
Pada 2013, Puguh keluar dari profesinya sebagai TNI-AD. Keputusan besar tersebut bukan dibuat tanpa pertimbangan. Amanah menjadi jupel tempat bersejarah ini dirasa lebih besar dari menjadi seorang abdi negara. “Beberapa kali ibu saya bermimpi menyerahkan keris dan selendang kepada saya,” kata pria lima bersaudara ini.
Mimpi tersebut menjadi salah satu pertanda bahwa dia menjadi penerus penjaga kekunaan. Namun, kondisi tidak memungkinkan untuk menjaga tempat bersejarah itu. Sebab, saat itu dia ditugaskan di luar Jawa. Mulai dari Provinsi Aceh hingga Papua. “Saya memutuskan untuk keluar dari TNI pada 2013. Tidak ada yang berat karena saya keluar untuk menjalankan amanah leluhur,” bebernya.
Kepulan asap menyelimuti ruang dengan suasana mistis tersebut. Terlihat abu yang berasal dari serabut kelapa tertinggal di tungku pembakar itu. Tak hanya itu, aroma dupa juga terasa menyengat memenuhi ruangan beratap pendek itu. “Ruangan ini biasanya digunakan pengunjung untuk berbagai ritual,” paparnya.
Tempat yang dikenal dengan sebutan Danyangan ini memiliki salah satu peninggalan bersejarah. Yakni, Keris Umyang Jimbe. Keris Umyang Jimbe ini dibuat oleh Mpu Supo pada era Majapahit. Pembuatan keris ini bertujuan untuk pencarian sengkelat yang hilang. Terukir dua puthut kembar di dapur keris yang menjadi ciri khas keris tersebut.
Puguh terlihat khusyuk saat menjalani ritual sebelum menunjukkan keris tersebut. Bibirnya komat-kamit merapal mantra. “Keris ini tidak bisa digunakan oleh sembarang orang,” katanya sambil menunjukkan keris yang berdiri tanpa penyangga.
Setiap tahun, ritual jamasan keris juga dilakukan di tempat ini. Yakni, tiap bulan Suro. Momen tersebut juga digunakan untuk menjamasi atau menyucikan beberapa keris milik warga Blitar. Penyucian keris itu dilakukan dengan air bunga yang dilengkapi dengan ritual. Kirab pusaka keliling desa menjadi adat yang selalu mengiringi. “Pada malamnya selalu dilengkapi dengan pergelaran wayang dan jaranan,” bebernya.
Puguh mengaku, tempat ini sering dianggap mistis oleh masyarakat. Sebab, tempat tersebut diyakini sebagai rumah keris sakral. Selain itu, tempat tersebut juga menjadi tempat ritual masyarakat. Ritual yang dilakukan tujuannya bermacam-macam. “Ada yang memang menghormati leluhur, ingin sehat, karir bagus, hingga untuk mendapat pesugihan,” papar pria 42 tahun ini.
Puguh percaya jika tempat tersebut terkesan mistis. Sebab, terkadang hal aneh sering dirasakannya. Seperti suara ketukan dan lainnya. “Awalnya saya takut, tapi sekarang sudah terbiasa dengan suasana seperti ini,” tandasnya. (*/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni