KOTA BLITAR - Bagi Duta Hartawan, warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, mengumpulkan benda antik seperti poster hingga kendaraan lawas punya nilai kepuasan tersendiri. Ada puluhan hingga ratusan barang klasik di rumahnya. Tak hanya dikoleksi, barang-barang tersebut rupanya juga jadi ladang cuan.
Singgah di hunian milik sosok yang akrab disapa Duta ini serasa kembali ke masa lampau. Bagaimana tidak, baru saja Koran ini tiba, mesin ding-dong yang berdiri kokoh seakan menyapa. Begitu juga dengan pelakat-pelakat produk lawas dan tumpukan batu penggilingan tradisional yang tergeletak di samping pintu utama. Seolah menegaskan bahwa hunian tersebut surganya penikmat benda klasik.
Tak cukup di situ, kesan kali pertama memasuki ruang utama hunian minimalis ini terasa adem. Meja dengan aksen kayu yang kuat pada empat kakinya, serasi berpadu bantalan sofa bernuansa kuning. Di meja berbahan kayu itu tampak satu vas kaca bunga dan kaset pita penyanyi era 1980 hingga 1990-an tersusun rapi. “Biar terkesan nyaman dan adem. Kaset pita ini juga untuk dijual, lho,” ujar pria asal Sidoarjo ini lantas tersenyum.
Ada alasan tersendiri mengapa pria dengan postur tinggi semampai ini begitu cinta dengan barang-barang klasik. Dia mengaku selalu ingin menikmati benda yang urung pernah dilihat sebelumnya. Misalnya, benda lawas era 1990-an atau bahkan era 1930-an. Barang-barang lawas itu masih terjaga di rumahnya.
Dia menunjukkan beberapa poster iklan rokok yang dulu sempat beken, khususnya di Blitar. Yakni, dua poster rokok kretek Tjap Petroek yang berjajar rapi. Poster ini diproduksi pada era 1930-an. Tak cuma posternya saja, puluhan jenis rokok merek lawas juga memenuhi rak kuno.
“Kalau isinya sudah tidak ada. Cuma bungkusnya. Saya memang suka koleksi poster dan lainnya. Bagi saya, ada nilai sejarah,” sambung bapak satu anak ini.
Duta mengaku, kegemarannya mengoleksi produk-produk tersebut sudah berlangsung sejak duduk di bangku SMA dan berlanjut hingga kini. Bahkan, dia rela melepas pekerjaannya di bidang perbankan demi membuka usaha secara mandiri. Selama 17 tahun bergumul dengan banyak benda antik, membuatnya hanyut dalam suasana vintage.
Pria berambut ikal ini masih ingat kala mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi. Sekira tahun 2000 silam, banyak rekan sebaya yang merasa aneh dengan kebiasaannya mengoleksi benda lawas. Seperti pelakat pecinan, produk, hingga kartu khas tokoh pewayangan.
“Mengumpulkan barang begini seperti menyusun puing-puing sejarah. Saya yakin banyak benda yang pada masa lalu sangat bergungsi dan bernilai. Umumnya dapat dari relasi dan loak,” terangnya.
Dia menambahkan, benda yang kali pertama dia koleksi dan terjual yakni iklan salah satu produk buatan enamel. Itu diproduksi antara era 1930-1940-an. Benda tersebut dibeli seharga Rp 175 ribu dan terjual sekitar Rp 5 juta. “Kalau yang enamel itu sejarahnya, pembuatannya itu infonya di Eropa. Karena buat di sana, berarti harus pesan berapa bulan, angkut muat kapal,” beber pria berkacamata ini.
Hingga memasuki peradaban yang kian modern, Duta tak pernah bosan dengan dunia klasik tersebut. Penjualan benda lawas ini masih setia dia lakukan. Baik melalui media sosial ataupun dari mulut ke mulut.
Namun, ada tantangan yang harus dia lalui. Yakni, terus beradaptasi dengan pasar. Dia memahami bahwa pangsa pasar penjualan benda klasik itu tergolong sempit. Namun, peminatnya terus konsisten dan jumlahnya makin banyak. “Itu balik ke rezeki. Ini tidak ikut musim-musiman. Misalnya, pas pandemi tidak berpengaruh. Justru malah meningkat penjualannya,” tuturnya. (*/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni