KABUPATEN BLITAR - Tragedi ledakan bubuk petasan yang meluluhlantakkan rumah Darman menyisakan banyak cerita. Termasuk beberapa orang yang seharusnya berada di lokasi maut itu, tetapi akhirnya selamat dan terhindar dari ledakan. Yakni teman Wawa, Gilang, dan anak perempuan Darman.
Bibi Wawa, Atinah mengaku, sebelum peristiwa ledakan yang membuat empat nyawa melayang, keponakannya Wawa saat itu sedang libur praktik kerja lapangan (PKL) sehingga memilih untuk pulang ke rumah. Namun ternyata, sebelum pulang ke rumahnya, sudah diajak oleh Arifin ke rumah Darman untuk membuat petasan. “Ya, jadi sebenarnya Gilang juga diajak bahkan dipaksa. Tapi mungkin takdir Allah, jadi Gilang enggan datang ke rumah Darman di malam sebelum kejadian,” jelasnya.
Bahkan, karena tidak pulang ke rumah, jelas Atinah, orang tua Wawa juga tidak mengetahui kalau Wawa berada di rumah Darman dan ikut membuat petasan. Hal itulah yang membuat orang tua Wawa benar-benar terpukul dan sedih setelah mengetahui anaknya ikut menjadi korban ledakan bubuk petasan. “Iya, ibunya aja tidak tahu kalau anaknya di rumah itu. Makanya, keluarganya sangat terpukul,” bebernya.
Anak perempuan Darman juga selamat dari tragedi ledakan bubuk petasan. Sebelumnya, Darman sempat meminta kepada ayah Wawa, Eka, untuk menjemput anaknya di salah satu pondok pesantren. Namun ternyata, sang anak justru enggan pulang karena kondisinya sedang sakit sehingga memilih untuk berada di pondok. “Kalau anaknya Darman memang sedang sakit sehingga tidak mau pulang dari pondok. Padahal, Darman sudah meminta untuk segera pulang,” ujar Atinah.
Mungkin sudah takdir, beber Atinah, sehingga kedua anak tersebut (Gilang dan anak perempuan Darman, Red) terselamatkan dari tragedi ledakan bubuk mercon. Namun, pihak keluarga sudah ikhlas dengan kejadian ini. “Semua sudah ikhlas. Ini memang sudah takdir Allah yang tidak bisa diubah. Ada yang selamat dan juga yang meninggal,” terangnya. (mg2/c1/ady) Editor : Endah Sriwahyuni