Dulu, Candra membeli ular untuk dijual kembali. Sekarang, reptil berdarah dingin ini menjadi salah satu peliharaan yang mendapatkan banyak cuan. “Saat masih kuliah, saya menjadi reseller ular hias,” ujar pria 30 tahun ini.
Warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, ini memelihara berbagai jenis ular. Di antaranya, corn snake, king snake, ular piton, dan lainnya. Dia mulai budi daya ular di rumahnya sejak 2015 lalu. “Kebanyakan di sini ular hias impor,” terangnya.
Puluhan ular hias dipelihara Candra dengan sabar dan telaten. Dia selalu memeriksa ular peliharaannya setiap hari. Baginya, melihat hewan tak berkaki itu membuatnya lebih tenang. “Sepulang kerja, saya sering duduk bersantai di dekat kandang,” akunya.
Ular dengan nama lain Pantherophis guttatus ini diberi makan seminggu sekali. Ular yang berukuran kecil diberi makan tikus, sementara ular besar diberi makan ayam. Candra memelihara tikus untuk pakan ularnya. “Saya ternak tikus agar makanan ular terjamin kebersihannya,” paparnya.
Menurutnya, memelihara ular hias tidaklah sulit. Sebab, perawatan ular sangat sederhana. Ular hanya perlu diberi makan seminggu sekali. “Selain itu, hewan ini juga tidak bersuara, jadi memberikan kesan tenang,” tuturnya.
Candra menjelaskan, perawatan ular harus dilakukan dengan telaten. Hal ini mulai ular menetas, shedding, hingga ular besar. Chandra menetaskan telur ular dengan mesin inkubator. Sebab, hal ini dirasa lebih aman meskipun membutuhkan waktu lebih lama. “Kadang kalau langsung, ular bisa mati sejak menetas,” katanya.
(Dok. TITANIA NOOR SHOLEHA/RADAR BLITAR)
Lanjut dia, setelah menetas, ular dibiarkan di suatu wadah. Tujuannya agar dia berani mencari makan sendiri. Sebab, jika banyak tersentuh tangan, ular tidak berani makan dan bisa mati. “Biasanya butuh waktu kurang lebih seminggu hingga shedding untuk pertama kali,” bebernya.
Meski begitu, dia pernah mendapat penolakan dari keluarga untuk merawat ular. Sebab, anggapan keluarganya terhadap ular masih negatif. Bagi mereka, ular adalah hewan yang sangat membahayakan.
“Awalnya keluarga saya sangat menolak, tapi saya memberi pemahaman bahwa ular memberikan harga jual,” terangnya.
Saat ini, harga ular hias sedang melejit di pasaran. Ular berusia seminggu bisa tembus mulai Rp 750 rib, sedangkan ular dewasa bisa tembus hingga Rp 8 juta. Sayangnya, ular hias asal Amerika ini kurang diminati di Blitar. Lebih laku di luar kota, bahkan luar pulau. “Biasanya saya menjual ke Jakarta, Bandung, Riau, Sulawesi, hingga Kalimantan,” tandasnya. (mg1/c1/hai) Editor : Doni Setiawan