Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Duh, Kasus Bundir Tinggi Mayoritas karena Ekonomi

Endah Sriwahyuni • Kamis, 9 Maret 2023 | 20:33 WIB

KOTA BLITAR – Kasus bunuh diri (bundir) di Bumi Bung Karno tak bisa dianggap remeh. Sebab, jumlahnya terbilang tinggi. Dari data kepolisian, sejak 2022 hingga awal Maret 2023 tercatat ada sekitar 12 kasus. Faktor ekonomi masih menjadi pemicu utama.

“Paling banyak ada di Nglegok. Yakni sebanyak tiga kasus,” ujar Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Galih Putra Samudra melalui Staf Humas Bripka Supriyadi.

Peringkat kedua, lanjut Supriyadi, yakni Kecamatan Ponggok sebanyak dua kasus. Kasus bundir juga terjadi di Kecamatan Wonodadi, Srengat, Udanawu, Sukorejo, dan Sananwetan. Beberapa dari orang yang memutuskan untuk bundir karena tidak memiliki solusi untuk mentas dari kemiskinan. “Kebanyakan korban berjenis kelamin laki-laki. Rentang usianya 40 hingga 60 tahun,” katanya.

Untuk motif, dipicu penyakit menahun. Hal itu buntut lemahnya ekonomi sehingga tidak bisa berobat. Begitu juga dengan keluarga ataupun kolega terdekat yang tidak bisa memberikan pertolongan pengobatan. Rantai kemiskinan itu seakan menciptakan situasi jalan buntu. “Jadi total ada lima kasus keseluruhan karena penyakit keras,” jelas Supriyadi.

Psikolog Daisy Prawitasari Poegoeh menilai, depresi bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi terhadap seseorang yang memiliki masalah bertumpuk. “Masalah penyakit keras dan ekonomi itu memang bisa memberikan sugesti berbahaya,” jelasnya.

Dia melanjutkan, kesehatan dan kekayaan adalah dua hal yang selalu diinginkan manusia secara naluri. Tanpa keduanya, akan menciptakan sugesti. Kemudian, sugesti itu datang dari pikiran-pikiran yang membentuk dinding.

Nah, dari sudut pandang korban, dinding itu menutup semua solusi yang masih bisa diupayakan. Dinding itu juga memberikan buah perilaku menutup diri. Akibatnya, pola pikir yang terus-menerus itu justru menjerumuskan korban menuju pilihan mengakhiri hidup.

Terkait penanggulangan, Daisy meminta masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar. Kebanyakan orang yang cenderung ingin mengakhiri hidup lebih sensitif. Gejolak perasaan yang tidak bisa diungkapkan itu akhirnya jadi “jiwa” para korban sebelum mengakhiri hidup.

“Korban yang depresi dan putus asa akan kehilangan keinginan untuk hidup. Itulah yang membunuh mereka,” tandasnya. (mg2/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni
#Kabupaten Blitar #bundir #faktor ekonomi #kasus bunuh diri #Kota Blitar