KOTA BLITAR - Pesatnya pembangunan di Kota Blitar harus diimbangi dengan antisipasi krisis air bersih. Pasalnya, perubahan fungsi lahan berpengaruh terhadap kondisi air tanah. Ini bisa memicu kekeringan jika tak dikelola secara tepat.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar, terdapat beberapa tempat rawan kekeringan. Mayoritas di wilayah utara. Di antaranya, Kelurahan Ngadirejo, Kelurahan Tanjungsari, dan Kelurahan Tanggung.
Kekeringan yang terjadi di Kota Patria bukan tanpa alasan. Itu terjadi akibat perubahan iklim dan cuaca. Perubahan fungsi lahan juga menyebabkan penurunan muka air tanah. “Tentunya persediaan air bersih semakin sedikit,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Kota Blitar, Setya Wiratna.
Berdasarkan letak topografi, lanjut Setya, selama ini mayoritas warga Kota Blitar menggunakan air tanah dangkal untuk berbagai kebutuhan. Jumlahnya pun semakin banyak seiring bertambahnya jumlah penduduk. Nah, hal ini berpotensi menjadi penyebab kekeringan. Begitu juga dengan kualitas air. Karena itulah penggunaannya perlu diminimalisasi. “Sebab aliran tanah akan semakin dalam, sekitar 9-8 meter,” terangnya.
Penyebab kekeringan di perkotaan adalah beban lingkungan. Seperti penggunaan lahan untuk bangunan. Tentunya hal ini juga menyebabkan penurunan air tanah. “Perubahan lingkungan sangat riskan menyebabkan kekeringan,” imbuhnya.
Dia mengatakan, musim hujan belum sepenuhnya berakhir. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan berakhir akhir Maret. “Kira-kira kemarau akan mulai pada April mendatang,” tandasnya. (mg1/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni