Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suparno, Perajin Beduk-Rebana yang Laris Manis Jelang Ramadan

Endah Sriwahyuni • Senin, 20 Maret 2023 | 18:04 WIB

KOTA BLITAR - Menjelang bulan suci Ramadan 1.444 Hijriah, para pelaku ekonomi di Bumi Bung Karno mulai kebanjiran berkah. Begitu juga Suparno, warga Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, yang sehari-hari menjadi perajin beduk dan rebana.

Di teras bernuansa hijau dengan ukuran cukup luas itu, tersusun banyak alat musik kendang serta kerajinan lain berbahan dasar kayu. Satu yang paling mencolok yakni beduk dan rebana dengan motif ukiran menawan.

Hunian yang terletak di Jalan Sawunggaling, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul ini adalah tempat tinggal sekaligus bengkel Suparno. Tak kurang 15 tahun dia menggeluti produksi beduk dan rebana.

Ramadan menjadi momen manis untuk meraup cuan lantaran tingginya pesanan. Baik dari dalam maupun luar kota, bahkan lintas provinsi. Terus konsisten menggunakan bahan baku berkualitas, jadi cara bapak satu anak ini meningkatkan daya beli.

“Alhamdulillah meningkat. Biasanya penjualan selalu bagus menjelang Ramadan, bisa sampai 40 persen,” ungkapnya.

Dalam produksinya, pria ramah ini memilih menggunakan kayu mahoni dan nangka. Selain memiliki tekstur yang halus, juga lebih awet dibanding jenis kayu lainnya. Nah, setelah dibentuk sedemikian rupa, barulah kerangka beduk dan rebana dilapisi plitur serta dipasang kulit sapi. Bahan-bahan baku tersebut tidak sulit dia dapatkan, sebab sudah ada mitra usaha yang siap untuk mengirimkan bahan tersebut setiap saat.

Bulan puasa menjadi tanda bahwa dia harus bekerja lebih ekstra. Sebab, biasanya tren pesanan naik mengiringi bulan suci bagi umat muslim tersebut. Karena alasan ini pula, dia dan pekerjanya bersiap dengan produksi rebana dalam jumlah banyak. Itu untuk stok cadangan bilamana terjadi lonjakan permintaan yang umumya datang dari luar kota. Seperti Tulungagung, Kediri, Malang, hingga Surabaya.

“Persiapannya begitu. Tapi kalau beduk, itu kami buat saat ada pesanan saja. Karena proses produksi beduk ini cukup lama,” sambungnya.

Industri rumahan ini tentunya tidak dijalankan sendiri. Ada sekitar enam pekerja yang setiap hari memenuhi samping rumah Suparno. Jika dirata-rata, dalam sehari dia mampu memproduksi sekira 60 buah rebana, sedangkan untuk 3 hingga 6 buah beduk diproduksi dalam kurun waktu satu bulan.

Harga dua kerajinan ini pun bervariasi menyesuaikan tingkat kerumitan dan ukurannya. Misalnya, rebana dibanderol mulai harga terendah yakni Rp 250 ribu hingga Rp 325 ribu per buah, sedangkan beduk dipasarkan seharga Rp 10 juta. Aksen ukiran agar lebih indah biasanya terdapat di sisi yang melingkar.

“Tergantung yang pesan. Penyesuaian harga juga dipengaruhi permintaan ukiran. Kalau polosan ya harga umumnya,” tutur pria berpeci ini.

Momen yang paling dia ingat yakni saat pandemi Covid-19. Saat itu pesanan sempat menurun. Tak banyak permintaan produksi, sekalipun sudah memasuki bulan Ramadan. Untuk itu, pihaknya optimistis ekonomi pulih seiring datangnya bulan penuh berkah.

“Dalam kondisi apa pun bersyukur. Insya Allah tahun ini momentumnya lekas baik, semoga pertanda ekonomi bangkit,” tandasnya. (*/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni
#Kabupaten Blitar #pengrajin beduk dan rebaha #pelaku ekonomi #perajin beduk #Kota Blitar #perajin rebana